Meneropong Potensi Industri Makanan dan Minuman di Indonesia
Feb 5, 2013
Daya Saing Indonesia di Mata Dunia
Feb 7, 2013

Geliat Bisnis Waralaba Makanan Asing dan Pertumbuhan Konsumen Kelas Menengah

bisnis-waralabaSejak tahun 2004, Indonesia sudah meratifikasi perjanjian kerjasama antara Masyarakat ASEAN dengan China atau yang dikenal dengan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). ACFTA merupakan kesepakatan antara negara-negara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi[1]. Dengan diratifikasinya perjanjian ini, membuat serbuan barang-barang impor yang masuk ke Indonesia semakin banyak.

Tahun 2010 impor produk makanan dan minuman mencapai USD 2.439,6 juta atau mengalami pertumbuhan yang tinggi sebesar 78,4% bila dibandingkan dengan tahun 2009 senilai USD 1.367,3 juta. Para pengusaha di sektor industri makanan dan minuman pun juga mengkhawatirkan arus barang impor ilegal yang marak beberapa tahun belakangan ini. Menurut GAPMMI, impor ilegal pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 10–15% dari total produk barang yang beredar di pasaran.[2]

Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pangsa pasar yang sangat potensial. Tak heran jika banyak investor asing yang melirik Indonesia sebagai negara tujuan untuk menanamkan saham atau mengembangkan usahanya. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun mendatang Indonesia akan memperoleh bonus demografi. Bonus demografi yakni suatu keadaan dimana jumlah penduduk akan semakin meningkat dengan presentase usia produktif antara 16-64 tahun yang mendominasi (Gambar 1).

gambar1

Gambar 1. Proyeksi Jumlah Penduduk Indonesia tahun 2020

Sumber : Biro Pusat Statistik dalam Aviliani, dkk. 2011. Demographic Bonus dan Pertumbuhan Kelas Menengah. Jakarta

Rentang usia produktif ini disebut dengan kelas menengah. Dengan pengeluaran antara 2 – 20 dolar per hari[3] membuat segmen masyarakat ini menjadi konsumen terbesar di Indonesia. Jumlah proyeksi penduduk dengan rentang usia tersebut yang begitu besar pastilah membutuhkan jumlah suplai konsumsi yang juga besar.

Salah satu sektor usaha di industri makanan dan minuman yang sekarang sedang berkembang pesat di Indonesia adalah bisnis waralaba. Tabel berikut menunjukkan data perkembangan bisnis waralaba di Indonesia, termasuk di sektor makanan. 

Tabel 1. Data Perkembangan Bisnis Waralaba di Indonesia

Tahun

Jenis Waralaba

LokalAsing
1990-an629
200247212
200349190
200485200
2005129237
2006230220
2008450250

Sumber: Diolah dari data Bank Indonesia dan Asosiasi Franchise Indonesia (2009)

Bisnis waralaba mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1970-an. Saat itu beberapa produk asing seperti KFC, Swensen dan Burger King merupakan pionir. Dalam rentang tahun 1990an jumlah franchise belum terlalu berkembang. Namun sejak tahun 2005 pertumbuhan waralaba di Indonesia meningkat tajam.

Selain jumlah, omzet penjualan waralaba juga mengalami peningkatan. Trend peningkatan ini dapat terlihat dari tahun 2008-2010 yang rata-rata pertumbuhannya mencapai 19% per tahun. Pada tahun 2008 omzet bisnis ini mencapai 81 triliun. Kemudian pada tahun 2009 naik 18% menjadi 95 triliun. Peningkatan yang lebih besar terjadi pada tahun 2010 yakni mencapai 114,64 triliun. Bank Indonesia mencatat, sebesar 42,9% dari total penjualan waralaba disumbang dari sektor makanan dan minuman. Hasil riset dari Majalah Franchise Indonesia juga menunjukkan bahwa waralaba sektor makanan dan minuman pada tahun 2010 memberikan kontribusi hampir 50% dibanding sektor lain seperti pendidikan. Berikut adalah grafik yang menggambarkan profil bisnis waralaba makanan di Indonesia:

Namun sayangnya, dari total omzet penjualan, perbandingan nilai bisnis franchise di tahun 2009, antara franchise asing dan lokal adalah sebesar 38% (lokal) : 62% (asing) atau Rp 36.35 Triliun banding Rp 59.46 Triliun (Gambar 2). Jumlah ini termasuk di dalamnya adalah waralaba makanan. Jumlah waralaba lokal yang jauh lebih besar ternyata tidak mampu menyaingi omzet penjualan waralaba asing. Selain itu, waralaba lokal pun ternyata tidak mampu bertahan lama dalam menjalankan usahanya. Waralaba lokal yang sebagian besar masuk dalam kategori usaha kecil menengah ini kurang mampu menjalankan manajemen yang baik serta menjaga kualitas produk.

gambar2

Gambar 2. Grafik Profil Bisnis Waralaba Makanan di Indonesia pada Tahun 2008

Sumber : Bank Indonesia diolah dari Riset Majalah Franchise Indonesia, 2008

Ditengah kelesuan waralaba lokal, para investor asing sudah bersiap untuk menyerbu Indonesia dengan berbagai merk franchise nya.[4] Dengan modal besar yang dimiliki tidak mengherankan jika waralaba-waralaba asing ini mampu meluaskan ekspansi bisnisnya.

Para pelaku usaha lokal di bidang ini pun merasakan beratnya persaingan dengan waralaba asing. Mereka menuntut pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang mampu menciptakan iklim usaha yang sehat antara para pemain asing dengan pelaku bisnis makanan lokal. Alangkah ironisnya jika para produsen makanan lokal itu harus menjadi penonton di negeri sendiri karena kalah bersaing. (NI)

Sumber:
[1] Ditjen KPI Kemendag. 2010. ASEAN – CHINA Free Trade Area. [Terhubung Berkala]. http://ditjenkpi.kemendag.go.id/Umum/Regional/Win/ASEAN%20-%20China%20FTA.pdf, diakses pada 14 Januari 2013

[2] Jurnal Bank Mandiri, Industry Update, Volume 8 April 2011

[3] Definisi Kelas Menengah menurut Asian Development Bank dan World Bank (2011), yaitu lapisan masyarakat yang mempunyai pengeluaran harian per kapita antara 2 – 20 USD berdasarkan Purchasing Power Parity absolut  tahun 2005. Diambil dari Aviliani, M.Si, dkk. 2011. Demographic Bonus dan Pertumbuhan Kelas Menengah. Jakarta 

[4] Ainur R. 2012. Jalan Terjal Waralaba Lokal. [Terhubung Berkala]. http://www.stabilitas.co.id/view_articles.php?article_id=471&article_type=0&article_category=8&md=977849e35e15e20d2a96df0888b927db. Akses 9 Januari 2013

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply