Tenaga Mikrohidro untuk Desa Mandiri Energi
Sep 23, 2013
Smart Grid: Strategi Jitu Pengoptimalan Sumber Energi Terbarukan di Masa Depan
Sep 24, 2013

Era Bagasse dari Lokal untuk Pembangkit Listrik Nasional

ampas tebu

Sumber ilustrasi: aprysilverfox.blogspot.com

Ampas tebu atau bagasse adalah hasil samping dari proses ekstraksi tanaman tebu. Berdasarkan analisis kimia, ampas tebu memiliki komposisi kimia yaitu, abu 3,28 %, lignin 22,09 %, selulosa 37,65 %, sari 1,81%, pentosan 27,97 % dan SiO2 3,01 %. Ampas tebu ini dihasilkan sebanyak 32 % dari berat tebu giling.

Budidaya tebu merupakan upaya manusia untuk mengoptimalkan kondisi tanaman tebu agar memperoleh sumberdaya alam yang dibutuhkannya, sehingga diperoleh hasil panen yang maksimal, baik dilihat dari sisi produktivitas maupun dari sisi kualitas. Tanaman tebu yang banyak dibudidayakan di Indonesia umumnya berasal dari spesies Saccharum officinarum (www.ikisan.com, 2000) , dengan berbagai varietas, antara lain POY 3016, PS 30, PS 41, PS 38, PS 36, PS 8, BZ 132, BZ 62.

Keberhasilan budidaya tebu sangat ditentukan oleh kondisi agroklimat (iklim, topografi dan kesuburan tanah). Tanaman tebu akan tumbuh optimal di wilayah tropis yang lembab, yaitu : berada di antara 350 LS – 390 LS, ketinggian tanah 0 – 1.500 mdpl, suhu udara 28 – 340C, kelembaban minimal 70%, sinar matahari 7 – 9 jam/hari, dan curah hujan 200 mm/bulan.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan pada tahun 2014 untuk swasembada tebu, kebijakan ini di dukung dengan adanya perluasan lahan untuk penanaman tebu, dan penambahan jumlah pabrik tebu yang ada di indonesia. Secara keseluruhan, lahan perkebunan tebu di Indonesia saat ini mencapai kurang lebih 400.000 hektar dengan tingkat produksi 33 juta ton/tahun.  Analisis asumsi bahwa persentase ampas dalam tebu (bagasse) sekitar 30-34%, maka pabrik gula yang ada di Indonesia berpotensi menghasilkan ampas tebu rata-rata sekitar 9,90-11,22 juta ton/tahun dimana sebagian besar (lebih dari 95%) di antaranya berada di Jawa dan Sumatera, dan sisanya berada di Sulawesi.

Terdapat tujuh provinsi di indonesia yang menghasilkan tebu yaitu :

era baggase

Potensi ini sangat besar jika bisa dikembangkan sebagai pembangkit listrik uap dengan terlebih dahulu di konversi ke briket.

Proses pembuatan briket limbah tebu adalah dengan menjemur terlebih dahulu sisa limbah tebu  dari pabrik yang masih panas selama 2 – 3 minggu dengan intensitas matahari tinggi. Sebelum  kering, lapisan limbah tebu ini dipadatkan dengan menggunakan kanji, tujuannya  untuk mempersempit pori dan membuang sisa kandungan air, semakin besar penambahan kanji pada briket maka nilai kuat tekannya semakin besar. Hal ini disebabkan karena semakin banyak perekat yang ditambahkan semakin baik pula kerapatan pada briket arang, ikatan partikel bertambah baik, rongga antar sel akan lebih rapat maka nilai kuat tekan yang dihasilkan juga semakin besar.

Panas yang dihasilkan oleh briket  relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kayu biasa dan nilai kalor dapat mencapai 5.000 kalori. Terbentuknya briket ini bisa digunakan untuk bahan bakar  menghasilkan uap. Dengan potensi skala bagasse yang besar di indonesia maka ini bisa menjadikan sebagai bahan boiler untuk pembangkit listrik nasional yang sampai sekarang Indonesia masih jauh dari kurang dalam pemanfaatannya.

Nur Aziz Ribowo

Komite Kedaulatan Energi UGM , Himpunan Mahasiswa Geofisika UGM

Referensi

Pari, G. 2002.Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan Kayu. Makalah M.K. Falsafah Sains. Program Pascasarjana IPB : Bogor

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2009. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh Indonesia menurut Pengusahaan. Diakses tanggal 9 April 2009.

Kuswurj, R. 2009. Pemanfaatan Produk Hasil Samping Pabrik Gula. Sugar Technology and Resarch. Diakses tanggal 5 Mei 2009.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply