Penggunaan Briket Sebagai Langkah Strategis Membangun Budaya Hemat Energi Ramah Lingkungan
Nov 22, 2013
Majalah Beranda
Nov 25, 2013

Energi Panas Bumi Untuk Ketahanan Energi Nasional

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi (geothermal) yang sangat besar. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2012, Indonesia memiliki potensi energy panas bumi sebesar 29.000 megawatt (MW). Potensi ini tersebar di 253 lokasi di seluruh Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai negeri dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Hal ini menjadi keuntungan yang wajib dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Potensi energi panas bumi di Indonesia yang mencapai 29 ribu MW sangat erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam kerangka tektonik dunia. Sebagian besar energi panas bumi yang dimanfaatkan merupakan energi yang diekstrak dari sistem hidrotermal, karena pemanfaatan dari hot-igneous system dan conduction-dominated system memerlukan teknologi ekstraksi yang tinggi. Sistem hidrotermal erat kaitannya dengan sistem vulkanisme dan pembentukan gunung api pada zona batas lempeng yang aktif dimana terdapat aliran panas (heat flow) yang tinggi. Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng aktif yang memungkinkan panas bumi dari kedalaman ditransfer ke permukaan melalui sistem rekahan.

geotrhermal energy gettyimagesSumber ilustrasi: gettyimages.com

Posisi strategis ini menempatkan Indonesia sebagai negara terkaya dengan energi panas bumi yang tersebar di sepanjang rangkaian vulkanik. Sehingga sebagian besar sumber panas bumi di Indonesia tergolong mempunyai entalpi tinggi, yang artinya suhu uap reservoir diatas 225 derajat celcius dengan rapat spekulatif 15 MW/km2 dan konversi energi 15%. Panas bumi merupakan sumber daya energi baru terbarukan yang ramah lingkungan (clean energy) dibandingkan dengan sumber bahan bakar fosil. Proses eksplorasi dan eksploitasinya tidak membutuhkan lahan permukaan yang terlalu besar dan mengeluarkan emisi yang relatif kecil. Energi panas bumi bersifat tidak dapat diekspor sehingga sesuai untuk untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri

Terkait pemanfaatan energi panas bumi Indonesia telah menerbitkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Panas Bumi untuk memberi kepastian hukum dan mendorong investasi di sektor energi ini dan UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan memberikan kesempatan pengembangan pembangkit tenaga listrik panas bumi. Selain itu, Indonesia juga memiliki Undang-undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi yang menegaskan bahwa energi dikelola berdasarkan asas kemanfaatan, rasionalitas, efisiensi, berkeadilan, peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian fungsi lingkungan hidup, ketahanan nasional, dan keterpaduan dengan mengutamakan kemampuan nasional.

Namun, sayangnya potensi yang ada belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemerintah dan pelaku industri di Indonesia. Dalam pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi Indonesia masih tertinggal dari Amerika Serikat dan Filipina. Amerika Serikat memiliki kapasitas pembangkit energi panas bumi terpasang sebesar 3.093 Megawatt, diikuti Filipina sebesar 1.904 Megawatt. Sementara Indonesia baru memiliki kapasitas sebesar 1.341 Megawatt atau ketiga terbesar di dunia. Artinya, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 4% sumber energi panas bumi yang dimiliki.

Setidaknya ada 2 faktor utama yang menghambat pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Faktor pertama adalah rendahnya investasi di sektor ini. Investor terbesar sejauh ini berasal dari dalam negeri, yakni Pertamina. Sedangkan investor asing kebanyakan bekerjasama dengan Pertamina dalam bentuk Joint Operating Contract (JOC). Perusahaan multinasional yang berpartisipasi dalam pengembangan panas bumi antara lain Chevron dan Unocal. Sedangkan PLN selaku operator Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sejauh ini masih dalam tahap pengembangan untuk mencapai proyek pembangunan pembangkit listrik nasional 10.000 MW yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun lalu.

Rendahnya investasi di bidang energi panas bumi secara langsung juga berkaitan dengan faktor kedua, yakni penolakan sejumlah masyarakat terhadap eksplorasi panas bumi di wilayahnya. Pada tahun 2012 masyarakat adat di Lampung dan Bali menolak pembangunan proyek panas bumi. Alasannya, proyek eksplorasi panas bumi dikhawatirkan akan merusak hutan di wilayah mereka. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Kementerian ESDM sebesar 15% potensi pengembangan energi panas bumi berada di wilayah konservasi. Masyarakat bahkan menolak investor ke wilayah mereka dan meminta pemerintah mencabut izin eksplorasi. Hal ini tentunya menghambat upaya investasi di bidang panas bumi.

Kedua faktor diatas seharusnya bisa diatasi oleh pemerintah asalkan memiliki komitmen yang tegas dan peraturan yang jelas. Dengan potensi terbesar di dunia akan sangat disayangkan jika Indonesia tidak memanfaatkan sumber energi panas bumi. Pemerintah seharusnya mengundang lebih banyak investasi untuk pengembangan energi ini. Di sisi lain, pemerintah juga tidak boleh melupakan kebutuhan dan aspirasi masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di dekat proyek pengembangan. Pemerintah perlu menjadi penengah antara masyarakat dan pelaku industri. Di satu sisi pemerintah perlu menjamin bahwa proyek panas bumi ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat dan sisi lain pemerintah perlu mengawasi pelaku usaha dan mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat.

Pengembangan energi panas bumi pada akhirnya merupakan salah satu cara menuju ketahanan energi nasional, Sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan terbarukan (renewable), serta sifatnya yang tidak dapat diekspor, panas bumi adalah alternatif yang tepat untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional. Hal ini sejalan dengan amanat UU Energi yang menetapkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang meliputi ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional, prioritas pengembangan energi, pemanfaatan sumber daya energi nasional dan cadangan penyangga energi nasional.

Kanyadibya Cendana Prasetyo,

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP,  Universitas Brawijaya

 Referensi:

  1. Fakultas Teknik UGM. 2011. Skenario Kebijakan Energi Indonesia Menuju Tahun 2050. Diakses dari http://www.fakultas-teknik.ugm.ac.id/ seminar-nasional-skenario-kebijakan-energi-indonesia-menuju-tahun-2050.html
  2. Rina Wahyuningsih. Potensi Dan Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Di Indonesia. Kolokium Hasil Lapangan, DIM 2005
  3. Tempo.co. 16 Agustus 2013. Tiga Perusahaan Ditugasi Survei Panas Bumi.
  4. Energi Today. 31 Juli 2013. Potensi Panas Bumi Indonesia Terbesar di Dunia, Tapi Pengembangannya Lambat.
Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

2 Comments

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda tentang energi alternatif ini.
    Ini termasuk hal yang menarik untuk dibahas dan dilakukan diskusi bersama.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai energi alternatif yang bisa anda kunjungi di
    http://ps-surya.gunadarma.ac.id

  2. Terimakasih sudah berkunjung sebelumnya. Saya rasa ini memang topik yang menarik buat Indonesia sekarang ini terutama untuk mencari energi alternatif terbarukan yang aman dan relatif ramah lingkungan.

Leave a Reply