Turbin Savonius: Pemanfaatan Energi Angin Untuk Sistem Penerangan Kapal
Oct 21, 2013
Pemanfaatan Potensi Energi Gelombang Laut di Kawasan Wisata Water Blow Nusa Dua Bali Sebagai Penerangan Taman
Oct 23, 2013

Energi non-Konvensional Berbasis Kelautan untuk Masa Depan Indonesia

ombak1

Laut Nusantara mengandung sumber energi kelautan yang besar. Energi kelautan merupakan energi non konvensional dan termasuk sumberdaya non-hayati yang dapat diperbaharui. Keberadaan sumberdaya tersebut pada masa mendatang semakin signifkan mengingat sumber energi dari BBM (Bahan Bakar Minyak ) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan di laut adalah OTEC ( Ocean Thermal Energy Conversion ), energi gelombang,pasang surut dan arus laut serta konversi energi dari perbedaan salinitas.

Perairan Indonesia merupakan wilayah perairan yang sangat ideal  untuk mengembangkan sumber energi  OTEC. Hal ini dimungkinkan karena salah satu syarat  OTEC adalah adanya perbedaan suhu air (permukaan dengan lapisan dalam ) minimal 200 Celcius dan intensitas gelombang laut sangat kecil dibanding wilayah tropika lainnya. Dari beberapa sumber pengamatan oseanografis telah berhasil dipetakan wilayah perairan Indonesia yang potensial sebagai tempat pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC yang siap dikembangkan berada di wilayah pantai utara Bali.

Salah satu negara yang sudah menerapkan adalah Jepang. Di Jepang, penerapan teknologi OTEC sekaligus menjadi mesin desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Institut of Ocean Energy pada Saga University di Jepang, telah melakukan eksperimen dengan pilot proyek yang dikerjakan bersama dengan Pemerintah Republik Palau di Lautan Pasifik, di sebelah utara Pulau Papua. Sistem yang dicobakan tersebut mampu menghasilkan air minum bagi 20.000 penduduk pulau di negara kepulauan itu sekaligus menghasilkan listrik bagi penerangan mereka.

Sumber energi kelautan lain adalah berasal dari perbedaan pasang surut dan energi yang berasal dari gelombang. Gaya yang dibawa air pasang dan gelombang dapat dikonversikan menjadi energi listrik untuk menggerakkan ekonomi di kawasan yang berdekatan itu. Kedua jenis energi ini memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap kedua sumber energi ini telah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan pemerintah Norwegia di pantai Baron, Yogyakarta. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi yaitu Bagan Siapi-api ( Rokan Hilir,Riau) dan Merauke (Papua). Kedua lokasi itu dipilih karena memiliki kisaran pasang surut mencapai 6 meter.

Yang terakhir adalah Pemanfaatan Energi dari tenaga Angin laut. Sebenarnya sama saja antara PLTA yang dipasang di darat dan di laut. Namun karena Indonesia mempunyai garis pantai yang lebih dari 81 Km (data lain menyebut 95 ribu Km,atau nomor 4 dunia setelah Kanada,Amerika,dan Rusia) dan berada pada kawasan kepulauan tropis yang banyak angin, maka menuai angin laut di pesisiran merupakan pilihan sumber energi alternatif  yang sangat menarik.

Hembusan angin yang mampu memutar baling-baling merupakan energi gratis yang berlimpah di Indonesia dan potensi setara dengan 450 GW dan masih belum dikembangkan. Jumlah yang sangat besar ini sangat menarik. Apalagi sumber tenaganya diperoleh secara gratis ,dan biaya pembangunan jaringan kincirnya lebih murah daripada pembangunan pembangkit listrik dengan sumber termal.

Untuk negeri kepulauan seperti Indonesia, bisa dirancang sistem yang terdesentralisasi, sehingga pengguna tidak bergantung kepada jaringan distribusi listrik luas. Di perkampungan nelayan dan kota pesisir dan pulau-pulau kecil dapat dikembangkan sistem modular dimana listrik yang dihasilkan dapat langsung dipakai oleh industri atau perumahan lokal. Desentralisasi pembangkit listrik seperti ini akan mengurangi jaringan transmisi dan distribusi listrik,yang juga mengurangi biaya pembangunannya.

Dengan berkurangnya jaringan distribusi, maka tidak akan banyak pula energi yang hilang dalam transmisi. Selain itu, desentralisasi pembangit  listrik dan kincir angin bisa sesuai dengan jumlah kebutuhan daya listrik di kawasan terpencil itu,tanpa harus mengorbankan keekonomisan dari proyek. Di negara maju sendiri, kecenderungan penyediaan listrik bagi masyarakat dan industri telah berubah dari pembangkit  listrik berskala raksasa kepada pembangkit listrik berskala mini (microhydro).

Dengan berbagai kelebihan diatas, pembangunan nasional yang berbasis energi kelautan harus dijadikan penggerak utama (prime mover ) bagi aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara.Selama ini,sektor kemaritiman tampak masih dijadikan sebagai obyek dan belum dikembangkan sebagai subyek pembangunan.

Pembangunan di sektor Kelautan dan Perikanan juga memiliki multiple effect yang begitu banyak dengan nilai ekonomis yang besar sebagai new source of economic growth karena memiliki supply capacity yang sangat besar serta demand yang terus meningkat. Karakter dan jati diri Indonesia sejatinya adalah bangsa dan negara kepulauan (archipelago state ) yang besar di dunia. Sebuah kenyataan bahwa masa depan Indonesia pun sejatinya berada di lautan, yang tentunya dengan memadukan kekayaan dan potensi di daratan yang juga melimpah ruah.

 

Nuriyati

Mahasiswa Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

 

DAFTAR PUSTAKA

Djamil, Agus. 2004. Al Qur’an dan Lautan. Bandung : Mizan Pustaka

Dewan Kelautan Indonesia. 2011. Membangun Laut Membangun Kejayaan Dulu,Kini dan Masa Depan. Jakarta                                                                                               

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply