Beranda Inovasi Official Call for Contributor Penulis Artikel dan Opini
Sep 6, 2013
Sustainable Development, Sebuah Pengantar
Sep 10, 2013

Energi Angin untuk Masa Depan

turbin-listrik-angin

Indonesia memasuki fase perkembangan pesat dalam pembangunannya.  Grand design dan investasi pembangunan diberbagai bidang telah tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dengan adanya MP3EI diharapkan pembangunan dapat merata ke semua pulau yang ada di Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa MP3EI memerlukan dukungan energi yang besar, oleh karena itu agar geliat ekonomi dapat berjalan dengan baik pemerintah harus menjamin ketersediaan energi.

Tantangan ini harus di jawab pemerintah dengan serius, untuk mengembangankan sumber energi alternatif baru terbarukan (EBT). Jika pemanfaatan EBT Indonesia masih seperti saat ini (3.9% per tahun) maka nilai impor energi khususnya bahan bakar fosil akan semakin membengkak. Salah satu energi yang dapat dimanfaatkan dengan kondisi geografis Indonesia saat ini adalah energi angin.

Bentang alam Indonesia berupa negara kepulauan menjadi salah satu keuntungan untuk mengubah angin ditepi pantai menjadi energi angin dengan bantuan turbin atau kincir angin. Energi angin merupakan energi yang selalu tersedia sepanjang waktu (siang dan malam), mudah didapatkan, dan tidak menimbulkan polusi. Selain itu, rasio investasi pemanfaatan energi angin dengan turbin cukup ekonomis.

Saat ini investasi sistem tenaga angin memerlukan biaya sebesar USD 1400-1600/kW. Artinya, untuk dapat membangun pembangkit listrik tenaga angin sebesar 1 kW dibutuhkan biaya USD 1400. Sedangkan untuk memproduksi listriknya memerlukan biaya Rp.1700-2000/kWh. Nilai ini masih lebih ekonomis bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya yang memerlukan biaya investasi lebih besar yakni USD 2000-2200/kW dengan biaya produksi listrik Rp. 2300/kWh.

Adapun lokasi yang baik untuk menempatkan turbin angin adalah pada daerah yang memiliki kecepatan angin yang relatif konstan, arahnya tak berubah-ubah dan sedikit kemungkinan kecepatan angin yang sangat besar.  Ditinjau dari letaknya pemanfaatan energi angin di pantai dibedakan menjadi tiga yakni, onshore, offshore, dan nearshore. Offshore apabila turbin angin diletakkan menjorok kelaut lebih dari 10 km dari pantai, onshore apabila turbin angin diletakkan pada dataran dipinggir pantai 3 km atau lebih dari garis pantai dan nearshore apabila turbin diletakkan dipantai yaitu 3 km di daratan ke 10 km pada laut dari garis pantai.

energi angin tabel edit

Sumber: (KESDM 2008)

Berdasarkan kecepatan berhembusnya, pemanfaatan angin dibagi menjadi tiga kategori yakni skala kecil apabila kecepatan angin 2.5-4 m/s, skala menengah apabila kecepatan angin 4-5 m/s dan skala besar apabila kecepatan angin lebih dari 5 m/s. Potensi ini tersebar diberbagai wilayah di Indonesia diantaranya Jawa, NTB, NTT dan Sulawesi. Kapasitas energi angin yang dapat dihasilkan ini mencapai 75 MW.

Kontribusi EBT diharapkan semakin meningkat dan secara nasional dapat mencapai 11% dari kebutuhan energi nasional pada tahun 2025 (Pusdatin KESDM, 2010). Khusus untuk energi angin, implementasi yang direncanakan mencapai 250 MW pada tahun 2025, sementara sampai saat ini pemanfaatan energi angin di Indonesia baru mencapai kurang lebih 1 MW daya terpasang (P3TKRBT 2012).

Untuk menjadi negara yang maju pemerintah diharapkan dapat dengan konsisten membangun energi alternatif angin ini. Jerman misalnya menjadi negara dengan konsumsi energi angin terbesar didunia dengan pemakaian energi hingga 10% kebutuhan konsumsi energi. Harapannya pengembangan EBT tidak hanya menjadi wacana namun terus diupayakan untuk diimplementasikan. (SL)

Daftar Referensi:

Anonim. 2012. Energi angin. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi baru, Terbarukan dan Konservasi energi. Diunduh dari http://www.p3tkebt.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=371&Itemid=477&lang=en

Kusniana D. 2008. Kondisi riil kebutuhan energi di Indonesia dan sumber-sumber energi alternatif terbarukan. Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. Kementria Energi dan Sumber Daya Mineral. Diunduh dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/6853/EBT-IPB%2520oke.pdf?sequence=1

Syahroni. 2009. Pemanfaatan kincir angin sumbu vertical jenis savonius sebagai pembangkit listrik di daerah pesisir dan pulau kecil. Institut Pertanian Bogor

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply