INFOGRAFIS - PROFIL PENDIDIKAN ANGKATAN KERJA - BERANDA INOVASI
Angkatan Kerja Indonesia Didominasi Lulusan Pendidikan Dasar. Bagaimana Dengan Negara Tetangga?
May 21, 2015
Beranda MITI Artikel Hal Penting Buat Kamu Pengguna Motor dan Mobil
Hal Penting Buat Kamu pengguna Motor dan Mobil
May 26, 2015

Ecoplas, Plastik Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Tapioka

Plastik berbahan tapioka

Plastik berbahan tapiokaSampah Plastik, Problem yang Pelik

Permasalahan lingkungan yang terjadi di era modern seperti sekarang sudah kian memprihatinkan. Salah satu masalah utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pencemaran lingkungan adalah sampah plastik. Selain karena sulit terurai, sampah plastik juga berpotensi mencemari berbagai jenis ekosistem mulai dari darat hingga lautan.

Tercatat pada tahun 2015, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia. Sementara itu, peringkat satu diraih oleh RRC dengan total sampah plastik sebanyak 3,5 juta ton per tahun. Data tersebut terungkap dalam hasil riset yang dimuat di jurnal Science yang terbit Jumat (13/2/2015). Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton.

Plastik merupakan bahan yang sangat sulit terurai karena tersusun atas jutaan rantai karbon. Hal tersebut membuat proses penguraian plastik dapat memakan waktu hingga 10-12 tahun. Jika permasalahan sampah plastik tidak diatasi sejak sekarang, diperkirakan sebanyak 17,5 juta ton plastik per tahun dapat memasuki lautan pada 2025. Bila jumlah sampah plastik diakumulasikan dari tahun ini sampai 2025 , sedikitnya 155 juta ton plastik akan beredar di lautan.

Lalu, Bagaimana Solusinya?

Berbagai macam solusi telah dipikirkan dan beberapa telah berhasil diterapkan. Salah satu solusi yang banyak diminati adalah mengganti bahan dasar bijih plastik dengan bahan yang lebih mudah terurai.

Sejak tahun 2003, adalah bapak Sugiyanto yang pertama memulai untuk berinovasi pada bisnis plastik yang telah digelutinya sejak tahun 1971. Inovasi yang dilakukan adalah berupa produksi plastik dari bahan yang lebih ramah lingkungan yaitu tapioka (tepung singkong). Selain singkong, beberapa negara di dunia juga mengambangkan plastik ramah lingkungan berbahan dasar jagung, kentang, dan sagu. Namun, bapak Sugiyanto lebih memilih singkong karena singkong lebih mudah didapatkan di Indonesia. Selain itu, direktur PT Tirta Marta tersebut juga menggandeng petani singkong dari Bogor dan sekitar 50 UKM pembuat tepung tapioka untuk menyerap tenaga kerja.

Bijih Plastik Tapioka

Bijih Plastik Berbahan Dasar Tapioka

Kelebihan dari produk Ecoplas selain dapat terurai dalam jangka waktu yang lebih cepat (sekitar 4 pekan), juga dapat menurunkan tingkat emisi karbon secara drastis. Jika dibandingkan dengan beberpa produk seperti kertas, plastik rol untuk buah, dan plastik pembungkus roti, dalam satu tahun jumlah emisi karbon yang dihasilkan cukup jauh. Dalam setahun total pemakaian kertas mencapai 200 juta ton, plastik rol 280 juta ton, dan plastik pembungkus roti 70 juta ton, maka emisi karbon yang di lepas ke udara sebanyak 300.000.000 kg. Sementara itu, penggunaan Ecoplas hanya menghasilkan emisi karbon sebanyak 119.867.300 kg atau berkurang sebanyak lebih dari 50%.

Plastik yang diberi label Ecoplas itu kini sudah dipasarkan sampai ke mancanegara. Beberapa negara yang rutin mengimpor bijih plastik tapioka adalah Amerika Serikat, China, dan Singapura.

Sumber :

Sumber Inspirasi Indonesia : 18 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa. 2013. Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, jakarta : 200 hlm.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/02/150213_iptek_sampah_laut

http://sains.kompas.com/read/2015/02/15/20472291/Riset.Ungkap.Kenyataan.Menyedihkan.tentang.Sampah.Plastik.dari.Indonesia

http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

Leave a Reply