Menguji Performa HELIOGRAF -Robot Penyaji Berita Data Milik The Washington Post- dalam Olimpiade Rio 2016
Aug 16, 2016
Kefir: Fakta Gizi dan Manfaatnya untuk Kesehatan
Aug 18, 2016

Dua Sisi Kasus Penganiayaan Guru dan Murid di Makassar

Keceriaan Siswa Siswi SD via achyar89.wordpress.com

Miris dan sedih melihat pemberitaan di media akhir-akhir ini tentang kasus antara guru dan murid di Indonesia. Kasus yang baru saja terjadi belakangan ini yaitu kasus penganiayaan seorang guru oleh orang tua murid di Makassar. Guru SMAN 2 Makassar bernama Dasrul dilaporkan mengalami pemukulan oleh Adnan Ahmad, orang tua siswa MAS yang tidak terima dengan cara Dasrul mendisplinkan anaknya di sekolah.

Permasalahan bermula saat siswa tersebut tidak membuat tugas menggambar. Anak tersebut keluar-masuk ruangan tidak jelas. Dasrul mengatakan beberapa kali menegur MAS tapi tidak dihiraukan. Karena ditegur, anak ini memaki dengan bahasa kasar Makassar, guru kemudian menampar dengan maksud untuk mendisiplinkan, tamparan tanpa tenaga saja tidak berbekas. Namun anak ini langsung mengadu ke orang tuanya. Orang tuanya, Adnan Ahmad, kemudian datang dan memukuli Dasrul hingga mengalami luka-luka dan patah di bagian ujung hidung.

Kini, Adnan Ahmad dan anaknya (berusia 15 tahun) yang turut memukul gurunya ketika insiden terjadi sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dituntut dengan pasal 170 KUHP dengan maksimal tujuh tahun penjara. Namun karena MAS masih berada di bawah umur, sehingga tetap menggunakan UU Perlindungan Anak. Ada pengecualian pada anak di bawah umur yang menjadi tersangka. Sehingga pihak kepolisian masih mendalami kasus ini agar dapat memberikan hukuman yang sesuai. Sementara itu, Dasrul masih mendapatkan perawatan intensif karena hidungnya patah sehingga harus dioperasi.

Sebelum kasus penganiayaan ini, ada kasus lainnya yang juga serupa. Ada seorang guru wanita yang dipaksa membuka jilbabnya dan digunting rambutnya oleh orang tua murid, karena tidak terima rambut anaknya dipotong oleh sang guru. Atau kasus lainnya, seorang guru mendekam di penjara setelah dilaporkan mencubit anak muridnya. Dan berbagai macam kasus-kasus lainnya yang terjadi yang mungkin tidak terangkat ke publik.

Tapi disini yang perlu kita cermati bersama ada tiga hal penting yaitu relasi antara guru, murid, dan orang tua murid yang tidak baik, hilangnya penghormatan pada profesi seorang guru, dan pola pendidikan pada anak-anak. Tanpa bermaksud untuk menyamakan keadaan dengan masa lalu karena zaman telah berubah demikian pesatnya, namun ada baiknya kita mengambil kearifan dan nilai-nilai penting dari masa lalu untuk dihidupkan kembali di masa saat ini.

Zaman dahulu, guru benar-benar seperti orang tua kedua, hanya saja mereka berada di sekolah. Setiap murid memiliki rasa patuh yang tinggi pada guru. Sopan santun dan tata krama terhadap guru sangat ditekankan karena mereka telah berjasa memberikan kita ilmu dan wawasan yang luas. Bukan hanya itu, guru juga berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian.

Guru pada saat itu pun termasuk tegas dan sangat disiplin dalam menerapkan peraturan, sama halnya ketika mengajar. Tak jarang guru memberi hukuman jika tidak menaati peraturan atau malas belajar. Meskipun seperti itu, guru tidak mendapat protes dari orang tua. Orang tua justru mendukung guru karena yakin bahwa guru dapat memberikan pendidikan pada anak-anaknya. Bukan hanya pendidikan berupa ilmu, tetapi pendidikan karakter dan moral. Itulah tiga modal penting dalam menghadapi perkembangan zaman kedepan.

Namun kondisi setiap zaman selalu berubah. Tantangan setiap zaman akan selalu meningkat dari waktu ke waktu. Terutama dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak saat ini sehingga masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap isu yang berkaitan dengan kekerasan pada anak, terutama yang terjadi dalam dunia pendidikan. Berbagai kasus yang terjadi antara guru dan murid saat ini membuktikan bahwa ada yang perlu diubah dalam sistem pendidikan dan pola komunikasi antara guru, murid, dan orang tua. Peristiwa pemukulan terhadap guru Dasrul oleh orangtua dan siswa di SMKN 2 Makassar disebut harus dilihat dari dua sisi, baik sisi murid, orangtua, maupun guru.

Yang pertama kita harus menempatkan guru sebagai pendidik, yang artinya memberikan kepercayaan kepada guru untuk melakukan pendidikan baik berupa pendidikan ilmu, karakter, maupun moral. Guru ibarat orang tua selama anak-anak di sekolah, sehingga peran guru sangat penting dalam pembentukan karakter dan moral anak. Di sekolah, bukan hanya ilmu saja yang harus ditekankan, tetapi life skill dan karakter yang harganya mahal dan harus ditanamkan secara terus-menerus.

Guru menjadi salah seorang perantara untuk menyampaikan hal-hal tersebut. Maka, guru pun harus memiliki kompetensi yang baik. Kompetensi yang dimaksud disini yaitu kompetensi pedagogi, profesional, personal serta kompetensi sosial yang di dalamnya terdapat kompetensi komunikasi. Kompetensi komunikasi ini dibutuhkan oleh guru untuk menyampaikan pikiran dan maksudnya kepada anak tanpa membuat anak merasa direndahkan atau disakiti. Seringkali masalah antara guru dan murid berawal dari komunikasi yang tidak berjalan baik dan menimbulkan kesalahpahaman.

Sementara itu, praktisi pendidikan Antarina F Amir menyatakan, kasus guru Dasrul merupakan contoh bahwa kita sebagai orang dewasa tidak mengambil tindakan atau keputusan berdasarkan kebutuhan anak. Menurutnya, jika sampai si anak dilakukan tindakan fisik, itu menunjukkan bahwa gurunya tidak punya kompetensi. Sebab, proses pembelajaran dan pembangunan karakter itu sangat bergantung bagaimana interaksi antara guru dan murid.

Penelitian menunjukkan bahwa penganiayaan secara fisik kepada murid akan berakibat pada anak menjadi tidak percaya diri, ketakutan, serta mematikan kreativitas. Maka, guru pun sebaiknya menghindari pemberian hukuman fisik pada anak, dan lebih menekankan pada hal lain yang sifatnya lebih mendidik. Murid pun juga seharusnya lebih menghormati guru sebagai pendidik dan perwakilan orang tua di sekolah. Sehingga dibutuhkan kerjasama dan komunikasi yang baik dari guru dan murid untuk bersama-sama menjalin hubungan pendidik-murid yang nyaman bagi kedua belah pihak.

Di lain sisi, orangtua juga seharusnya tidak melakukan tindakan bermusuhan dengan guru. Seharusnya, antara orangtua dan guru terjalin kolaborasi yang positif. Lakukan yang terbaik untuk anak.  Masih ada kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki lagi pola hubungan dan pendidikan menjadi lebih baik agar tidak lagi terjadi kasus Dasrul di tempat-tempat lainnya di Indonesia. (SA)

 

Daftar Referensi:

http://news.detik.com/berita/3274635/kasus-guru-dasrul-guru-itu-pendidik-beri-kepercayaan-mendidik-anak

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160811_trensosial_guru_makassar

http://regional.kompas.com/read/2016/08/11/12451081/pukul.guru.orangtua.dan.anaknya.terancam.hukuman.7.tahun.penjara

http://regional.kompas.com/read/2016/08/11/11304741/guru.dipukul.orangtua.siswa.murid-muridnya.datangi.kantor.polisi

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/10/058794774/murid-dipukul-guru-dianiaya-orang-tua

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply