Yuk Mengenal Kanker!
Dec 4, 2015
Dari Skripsi Jadi Inovasi: Inilah Alat Pendeteksi Dini Penyakit Jantung Ciptaan Mahasiswa ITB!
Dec 16, 2015

Dua ilmuwan Indonesia Ini Memiliki Jumlah H-Index yang Tinggi!

scientistDr. Warsito Taruno,ilmuwan yang akhir-akhir ini sedang hangat diberitakan di media massa karena penelitian ECVT dan ECCTnya yang dinilai masih butuh untuk diuji secara klinis, ternyata memiliki pengakuan yang baik di dunia ilmiah. Salah satu pengakuan tersebut dapat dilihat dari situs scopus. Situs scopus sendiri adalah suatu situs yang memberikan data agregat terhadap suatu jurnal atau institusi dalam dunia publikasi ilmiah. Situs scopus juga disebut sebagai pusat dan bank data terbesar di jurnal ilmiah. Melalui situs ini, keterujian seorang ilmuwan secara ilmiah dapat dilihat melalui karya-karyanya yang dijadikan referensi oleh ilmuwan lain. (id.wikipedia.com)

Baca Juga: Membanggakan! Ilmuwan Indonesia Masuk dalam Nominasi Nobel 2016

Dr. Warsito Taruno dalam situs scopus memiliki H-Index 19 dengan jumlah citations sebesar 1062. Dalam ukuran scopus, peringkat milik Dr. Warsito Taruno terbilang cukup tinggi. Selain Dr. Warsito Taruno, ada juga Dr. Djoko Iskandar yang memiliki h-index dan jumlah citations yang juga cukup tinggi. Hampir menyamai h-index Dr. Warsito Taruno, Dr. Djoko Iskandar memiliki h-index sebesar 16 dengan jumlah citations sebanyak 990. H-index Dr. Djoko Iskandar berbeda 3 peringkat dengan milik Dr. Warsito Taruno.

h-index okeDr. Warsito Taruno dan Dr. Djoko Iskandar adalah sama-sama ilmuwan besar Indonesia yang diakui oleh dunia melalui temuannya. Dr. Djoko Iskandar adalah seorang ilmuwan besar zoologi Indonesia yang namanya diabadikan dalam ilmu taksonomi dengan nama fejervarya iskandari. (wikipedia.com) Pemberian nama ‘Iskandar’ pada cabang  taksonomi tersebut tidak berlebihan mengingat penemuan Dr. Djoko Iskandar sempat menghebohkan dunia. Tulisan ilmiahnya yang berjudul “A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles” menggegerkan dunia karena menyatakan adanya katak baru bertaring dari Sulawesi bernama Limnonectes larvaepartus. Para ilmuwan dunia lalu menyatakan bahwa penemuan Djoko Iskandar tidak hanya sekedar menyatakan kebaruan tentang jenis katak yang ditemukannya, namun Dr. Djoko Iskandar juga berhasil menemukan tentang jenis reproduksi baru. (sains.kompas.com)

Sedangkan Dr. Warsito Taruno adalah seorang ilmuwan yang terkenal dengan temuan ECVT nya. Melalui scopus, Dr. Warsito Taruno mempublikasikan temuannya yang bernama ECVT (Electrical capacitance volume tomography) tersebut dalam salah satu tulisan ilmiahnya yang berjudul “Electrical capacitance volume-tomography (ECVT): Sensor design and image reconstruction”. Temuan Dr. Warsito ini mendapatkan sambutan yang baik di kalangan ilmuwan, industri, medis, dan beberapa bidang lainnya. Salah satu sambutan baik atas temuan ECVT milik Dr. Warsito Taruno adalah dengan dianugerahkannya Dr. Warsito Taruno sebagai peraih  penghargaan Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) pada tahun 2015. Penghargaan ini merupakan penghargaan yang diberikan kepada pelaku teknologi yang berjasa, berprestasi dan berdedikasi kepada bangsa dan negara Indonesia (detik.com)

Selain itu, temuan ECVT milik Dr. Warsito juga telah diterapkan di beberapa bidang keilmuan. Salah satu bidang kelimuan yang telah menerapkannya adalah bidang antariksa. Badan Antariksa di Amerika Serikat, NASA (National Aeronautics and Space Administration), memakai ECVT untuk melakukan pemindaian  obyek dialektrika ketika misa antariksa dilakukan. Dengan adanya ECVT ini, NASA dapat memindai keberadaan air di permukaan luar pelapis sistem pelindung panas pada dinding pesawat ulang alik.

Baca Juga: Penemuan Ilmuwan Dunia dari Indonesia dari Masa ke Masa

Setelah keberhasilannya dengan ECVT, kini Dr. Warsito Taruno kembali hadir dengan temuan barunya yang bernama ECCT (Electro Capacitive Cancer Therapy).  ECCT adalah alat terapi kanker yang menggunakan listrik statis dari luar tubuh untuk membunuh sel-sel kanker. Menurut Dr. dr. Sahudi Salim, setelah melakukan penelitian eksperimental laboratorik in vitro, ada presentase peningkatan kematian yang signifikan atas sel-sel yang diberi pajanan alat terapi kanker ECCT. (Tempo.com) Namun, meski demikian, ECCT sampai saat ini masih kontroversi karena masih membutuhkan uji klinis lebih lanjut. Waktu yang akan membuktikan.

Baik Dr. Djoko Iskandar maupun Dr. Warsito Taruno, adalah dua ilmuwan Indonesia yang memperoleh h-index yang cukup tinggi di scopus. Namun sayangnya di Indonesia, para ilmuwan yang memiliki h-index di atas 10 masih terbilang sedikit. Itu artinya, karya-karya ilmiah para ilmuwan Indonesia hanya sebagian kecil yang menjadi rujukan bagi para ilmuwan di tingkat dunia. Dengan demikian, Indonesia patut untuk berterima kasih pada ilmuwan-ilmuwan seperti Dr. Djoko Iskandar dan Dr Warsito Taruno yang membawa nama Indonesia untuk diakui melalui temuan-temuannya di tingkat dunia.

Daftar Referensi:

  1. http://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=6602581514
  2. http://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=6602695171
  3. http://sains.kompas.com/read/2015/01/08/20000051/Djoko.Tjahjono.Iskandar.Ahli.Katak.Indonesia.yang.Bikin.Geger.Dunia
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Indeks-h
  5. http://news.detik.com/berita/2996458/kembangkan-pemindai-berbasis-medan-listrik-dr-warsito-raih-bj-habibie-award
  6. http://tekno.tempo.co/read/news/2015/09/29/061704689/doktor-unair-buktikan-ecct-ala-warsito-bunuh-sel-kanker
Bagus Tri Adikarya
Bagus Tri Adikarya

Bekerja di Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi (MITI) sebagai Peneliti dan Analis data.

Leave a Reply