Huntara “Bongkar Pasang”, Inovasi Mahasiswa UGM
Jul 14, 2014
ookingtackle.blogspot.com/2011/12/tempe-chips-kripik-tempe.html
Negeri Tempe yang Masih Mengimpor Kedelai: Mungkinkah Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Kedelai Lokal?
Jul 15, 2014

Dari Pemuda, Untuk Desa, Demi Ketahanan Pangan Indonesia

Slide1

Menjadi petani, peternak, nelayan, sepertinya lekat dengan konsekuansi harus kembali ke desa. Sementara, gemerlap kota metropolitan dan gengsi yang ditawarkan untuk menjadi pekerja di kota-kota besar terlihat begitu menyilaukan. Menjadi polisi, dokter, atau presiden merupakan cita-cita umum sebagian besar anak-anak kecil saat ini. Tak banyak anak-anak yang memimpikan dapat menjadi petani, peternak dan nelayan di masa dewasanya. Bahkan anak-anak petani, peternak dan nelayan bisa jadi tak pernah berharap mewarisi profesi orang tuanya. Sementara para sarjana pertanian banyak yang enggan turun ke desa untuk mengaplikasikan ilmunya. Padahal dari desa, petani, peternak dan nelayan memproduksi bahan pangan. Dari situlah nasib terpenuhinya kebutuhan perut ratusan juta rakyat Indonesia bertumpu. Kembali ke desa bukan berarti memasrahkan diri menjadi petani, peternak dan nelayan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Justru, dari desa lah kaum muda dapat membangun perekonomian bangsa.

Semangat tersebut mendasari berdirinya Indonesia Bangun Desa (IBD). Bagi IBD, sektor pertanian merupakan sektor yang penting bagi Indonesia. Tak semata sebagai penggerak ekonomi tetapi juga merupakan hidup, jati, diri dan penentu kedaulatan bangsa Indonesia. IBD terbentuk karena banyak fenomena di dunia pertanian yang tiap tahun semakin berkurang peminatnya. Menurut hasil sensus pertanian 2013, angkatan kerja di tahun 2013 mencapai 118,2 juta orang, sedangkan yang terserap di pertanian hanya 33%. Tumpuan pembangunan lebih condong ke sektor non pertanian. Sebagai konsekuensi, banyak SDM unggul terserap ke non pertanian sedangkan 80% SDM bidang pertanian berasal dari lulusan SD atau sederajat dan sebagian besar berada pada kelompok usia tua, yakni di atas 50 tahun. Kekhawatiran yang terjadi adalah banyak pemuda akhirnya memandang inferior pada bidang pertanian, padahal pertanian adalah aset berharga.

Yayasan Bina Desa Indonesia hadir sebagai solusi dengan program utama Indonesia Bangun Desa (IBD) yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan SDM unggul di bidang pertanian secara luas. Pasokan SDM unggul diyakini mampu memperbaiki kondisi dan meningkatkan potensi pertanian Indonesia.

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Terbukti beberapa beberapa komoditas pangan pernah mencapai swasembada. Hanya, kebutuhan pangan Indonesia identik dengan beras, sehingga fokus riset, kebijakan, dan produksi masih mengacu pada jenis pangan tersebut. Padahal seharusnya lebih banyak pangan yang dapat dieksplorasi, seperti jagung, kentang, jawawut, tiwul, ketela pohon, sukun, dan lain sebagainya.

Bukan hanya sumber karbohidrat yang dapat dieksplorasi, namun protein hewani seperti domba lokal, sapi lokal, dan ayam kampung, bahkan keanekaragaman ikan juga Indonesia miliki. Sektor pertanian memang sangat berperan besar dalam subsistem produksi dan distribusi dalam konsep ketersediaan. Agar kebutuhan tercukupi, produksi harus lebih tinggi.

Peningkatan produksi pertanian dapat dilakukan dengan melakukan intensifikasi dan diversifikasi. Namun sektor pertanian terlalu besar untuk digarap sendiri. Secara makro, pemerintah memiliki andil yang besar, sedangkan secara mikro, diperlukan pemahaman yang lebih luas oleh masyarakat.

Gerakan IBD dimulai dari desa sebab banyak desa di Indonesia adalah basis pertanian secara luas. Desa mempunyai potensi fisik (pertanian) dan non fisik (kelembagaan dan SDM). IBD yang memiliki fokus untuk meningkatkan kualitas SDM meyakini bahwa SDM pertanian yang unggul dapat mengelola dua potensi yang dimiliki desa.

Desa semakin menarik perhatian dengan UU. No. 6 Tahun 2014 tentang desa. Desa mendapatkan alokasi dari APBN sebesar 42 triliyun. Jika dibagi ke seluruh desa, setiap desa rata-rata mendapatkan jatah 600 juta hingga 1 milyar untuk pembangunan, termasuk pertanian.

[ads1]

Indonesia selama dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Pemuda berumur 20 hingga 40 tahun mencapai 24,3%. Oleh karena itu, Indonesia harus bersyukur dan memanfaatkannya. Perubahan itu bisa terjadi di tangan pemuda.Dengan menyasar pemuda, IBD akan dapat menambah jumlah SDM muda pertanian dan mengurangi urbanisasi.

Tantangan yang dihadapi IBD dalam membangun desa sebagai basis ketahanan pangan di negeri ini tidak sedikit. Gerakan IBD harus dijalankan secara konsisten, tidak bisa dalam waktu yang singkat. IBD menyelenggarakan pelatihan setiap tahun, dan di tahun 2014 ini telah memasuki angkatan ke-2.

Dari penyelenggaraan angkatan pertama di tahun lalu, terdapat pelajaran penting dan berharga bajwa satu desa tidak sama dengan desa yang lainnya. Ada desa yang birokrasinya panjang dan berbelit. Ada pula desa yang belum bisa menerima model pembangunan yang ditawarkan, sehingga pihak IBD harus betul-betul menguasai pemberdayaan masyarakat. Dalam membangun desa, masyarakat cenderung ingin langsung menjalankan program yang sudah jelas membuahkan hasil. Program yang belum terbukti sukses belum mau dijalani. Masyarakat desa juga sesungguhnya memiiki banyak ilmu. Tugas para pemuda hanyalah mengkolaborasikan, bukan mendikte masyarakat. Kecenderungan untuk menjaga nilai/tatanan yang ada membuat masyarakat merasa cukup bertani, beternak dan membudidayakan ikan tanpa memasukkan nilai-nilai inovasi. Padahal, ketahanan pangan dapat diwujudkan melalui sikap bijak dalam menjaga kearifan lokal dan menerima inovasi.

Dukungan IBD terhadap Gerakan Pangan Lokal yang digagas MITI ditujukan agar tiap orang dapat menyadari bahwa apa yang dimakan dan masuk ke perut berawal dari pertanian. Kesadaran tersebut dihrapkan mewujud pada kecintaan terhadap pertanian, dari kecintaan diaplikasikan ke tindakan, dan dari tindakan berujung pada komitmen. Melalui Gerakan Pangan Lokal, MITI berharap agar masyarakat mendukung pangan lokal, mencintai pertanian dan peduli dengan desa. “Ketahanan pangan yang kuat tidak akan bisa terwujud jika pemuda terbaiknya tidak ada di desa”, demikian pesan yang sering disampaikan Bachtiar Firdaus, Direktur Yayasan Bina Desa Indonesia.(DWH/UA)

BrsMnCzCYAE6CT6

Tulisan ini merupakan intisari dari #TwitalkGPL Sesi I Eps 3, @MITI_NEWS  bersama @IBD45. #TwitalkGPL merupakan talkshow online via twitter antara MITI dan mitra-mitra pendukung Gerakan Pangan Lokal. Chirpstory dari #TwitalkGPL Sesi I Eps 3 dapat dilihat di: http://chirpstory.com/li/217160

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply