U-Damkar : Solusi Kebakaran di Kota Besar
May 1, 2015
Electro Capacitive Cancer Therapy (ECCT), Dr. Warsito, Kanker
ECCT : Sebuah Asa Bagi Penderita Kanker
May 5, 2015

CoalBed Methane ( CBM ) Sebagai Langkah Swasembada Gas Nasional

Beranda MITI Artikel Coalbed Methane ( CBM ) Sebagai Langkah Swasembada Gas Nasional

Proses Pembentukan CoalBed Methane

Beranda MITI Artikel Coalbed Methane ( CBM ) Sebagai Langkah Swasembada Gas Nasional

Proses Pembentukan CoalBed Methane

Potensi sumber daya energi CBM di Indonesia sampai sekarang belum di tanggapi secara serius oleh pemerintah. Hal ini terbukti belum adanya regulasi secara khusus yang membahas tentang bisnis keekonomian dari pengembangan CBM. Tentunya ini menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi tentang tata cara investasi CBM di Indonesia sehingga ada kepastian bagi investor . Keekonomian dalam eksploitasi CBM, termasuk resiko investasi dan waktu yang cukup lama  untuk mencapai produksi yang sangat komersial, akan menyebabkan pengusaha lebih cenderung pada bentuk kontrak bukan production sharing seperti yang berlaku pada industri minyak dan gas saat ini. Sehingga ini akan menjadi bahan pertimbangan sendiri bagi pemerintah.

Pada prinsipnya CBM memiliki karakteristik yang relatif sama dengan gas bumi, oleh karena itu semua konsumen gas bumi dapat menggunakan CBM. Akan tetapi karena produksi CBM yang dihasilkan untuk sementara relatif kecil dibandingkan produksi gas bumi, maka pemanfaatan CBM yang optimal adalah untuk pembangkit listrik tenaga gas kapasitas kecil-sedang (PLTG 10 MW – 20 MW) atau industri skala kecil-menengah dan sektor rumah tangga. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan gas skala besar (PLTG 100 MW) dan industri besar, sebaiknya menggunakan gas bumi.

Coalbed methane merupakan sebuah topik yang masih tergolong baru dalam industri perminyakan. Coalbed   Methane   sama   seperti   gas   alam konvensional  yang  kita  kenal  saat  ini,  namun perbedaannya adalah Coalbed Methane berasosiasi dengan batubara sebagai source rock dan reservoirnya. Sedangkan gas alam yang kita kenal  saat  ini,  walaupun  sebagian  ada  yang bersumber  dari  batubara,  diproduksikan  dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku.  Hal  lain  yang  membedakan  keduanya adalah cara penambangannya dimana reservoir Coalbed  Methane  harus  direkayasa  terlebih dahulu  sebelum  gasnya  dapat  diproduksikan. Sehingga semakin besar potensi batubara suatu daerah maka semakin besar pula cadangan Gas Metana didalamnya.  Indonesia saat ini baru melakukan tahap eksplorasi dan feasibility study  yang mana diperkirakan memiliki potensi sumber daya coalbed methane yang sangat besar. Sumberdaya Batubara Indonesia sebesar 65,40 miliar ton. Berdasarkan kualitasnya, 24% termasuk batubara peringkat rendah, 60% peringkat sedang, dan 15% peringkat tinggi serta hanya 1% yang termasuk peringkat sangat tinggi.

Secara umum batubara terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera. Kalimantan Timur memiliki sumberdaya yang terbesar dan disusul Sumatera Selatan (23,68 miliar ton). Batubara Kalimantan Timur umumnya termasuk kategori peringkat sedang – tinggi, hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat rendah. Sebaliknya batubara Sumatera Selatan umumnya termasuk peringkat rendah – sedang dan hanya sebagian kecil yang termasuk peringkat tinggi. Sumberdaya batubara Sumatera Selatan sebesar 23,68 miliar ton atau sekitar 36,2% sumberdaya nasional.

Berdasarkan  penelitian  yang  dilakukan  Migas dan  ADB (2003),  cekungan (basin)  dengan potensi  Gas  Metana  Batubara  kategori  high prospective  berada  di  Sumatera  Selatan (183TSCF), Barito (101.6 TSCF), Kutai (80.4 TSCF), dan Sumatera Tengah  (52.5 TSCF), sedangkan untuk  kategori  moderate  antara  lain  Tarakan  Utara,  Berau,  Ombilin,  Pasir/Asam-asam,   dan   Jatibarang.   Sedangkan berkategori low prospective berada di Sulawesi Selatan, Irian Jaya, dan Bengkulu. Mengingat saat ini cadangan minyak  dan  gas  bumi  sangat  terbatas,  maka dengan potensi Gas Metana Batubara yang besar ini, serta teknologi yang sudah  terbukti,  Indonesia  berpeluang  untuk memenuhi  kebutuhan  energi  yang  semakin meningkat.

Beranda MITI Artikel CoalBed Methane ( CBM ) Sebagai Langkah Swasembada Gas Nasional

Potensi Sumber Daya CoalBed Methane ( CBM ) di Indonesia

Skenario komersialisasi CBM sebelum PoD merupakan salah satu bentuk insentif bagi Kontraktor CBM yang diproduksi selama fase eksplorasi dapat dijual ke pasar domestik berdasarkan perjanjian jual-beli gas, dan harus dengan persetujuan Pemerintah Indonesia melalui SKK MIGAS. Pembagian langsung dari Gross Revenue hasil eksploitasi yaitu tidak dipotong biaya Cost Recovery, dengan porsi netto setelah pajak 55% untuk Pemerintah dan 45% untuk Kontraktor. Konsep Earlier commercialization atau pemanfaatan CBM pre-PoD ini secara bertahap memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik Pemerintah maupun Kontraktor KKS. Bagi Pemerintah dapat segera merasakan manfaat kerja sama dengan menggunakan produksi CBM untuk pembangkit tenaga listrik dan bagi Investor (Kontraktor) dapat mendapatkan pengembalian lebih awal terhadap biaya yang telah dikeluarkan, meskipun belum tentu kembali modal. Hal ini perlu dipertahankan atau diperbaiki kembali sehingga bisa menguntungkan sepenuhnya oleh negara. Tetapi juga harus dapat menarik perhatian investor asing karena mereka yang masih punya high technology dan high money dengan resiko yang besar. Coalbed Methane dapat diprediksi menjadi energi pengganti minyak terutama dalam hal pemenuhan transportasi.

Referensi :

Buletin Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia. 2012. Keempat Kalinya, IATMI Selenggarakan Konferensi IndoCBM . Volume 2 – Maret/April 2012.

Leave a Reply