Ilmuwan BPPT Kembangkan Sensor dengan Metode Terbaru
Mar 30, 2016
Pakan Kambing, Jawaban untuk Bisnis yang Menjanjikan
Apr 1, 2016

Bukan (Sekedar) Diet Kantong Plastik

Sumber ilustrasi: dnaberita.com

Sumber ilustrasi: dnaberita.com

Sumber ilustrasi: dnaberita.com

Siapa yang sering berbelanja di supermarket atau minimarket? Pasti sudah tak asing dengan pertanyaan kasir yang menawarkan penggunaan kantong plastik berbayar seharga Rp 200,00 setiap kali pembelian. Ya,  terhitung sejak 21 Februari 2016 yang bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional, dikeluarkan kebijakan baru dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yakni kantong plastik berbayar. Sebanyak 22 kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Balikpapan, Makassar, dan Surabaya, serentak memberlakukan sistem kantong plastik berbayar tersebut.Bukan tanpa sebab, kebijakan tersebut memiliki tujuan besar untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Secara garis besar, tujuan kebijakan ini yaitu untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah plastik. Hal ini disebabkan karena saat ini jumlah timbunan sampah kantong plastik terus meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Sekitar 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, hampir 95 persen kantong plastik menjadi sampah.

Padahal kantong plastik sulit diurai oleh lingkungan. Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup, jumlah timbunan sampah plastik diperkirakan sebesar 14% dari total jumlah timbulan harian atau 24.500 ton per hari setara 8,96 juta ton per tahun. Dan dampak sampah plastik terhadap lingkungan hidup terhitung serius karena plastik merupakan bahan yang tidak mudah terurai secara alami sehingga dapat mencemari dan merusak ekosistem tanah dan air. Sampah plastik yang sulit terurai dan menumpuk di jalanan, sungai, selokan, akan menjadi cikal bakal terjadinya banjir saat musim hujan datang.

Dengan kondisi ini, tidak mengherankan jika Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang menjadi penghasil sampah plastik terbesar yang dibuang ke laut. Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Jena R. Jambeck dari Universitas Georgia menyatakan bahwa Indonesia berada dalam peringkat kedua dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Melihat kondisi ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera mengambil langkah tegas untuk memberlakukan kantong plastik berbayar yang diatur dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan uji coba pemberlakuan kantong plastik berbayar sampai 6 bulan dengan evaluasi berkala 3 bulan sekali. Jika program ini berhasil, menurut Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, sistem ini akan diatur dalam regulasi peraturan menteri. Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama lembaga-lembaga yang bergerak di bidang lingkungan.

Menurut Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, peraturan kantong plastik berbayar ini rasional karena diberlakukan demi menjaga dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan yang lebih parah, mengingat konsumsi kantong plastik di Indonesia tergolong tinggi, yaitu 9,8 miliar kantong plastik per tahunnya, atau nomor dua di dunia setelah Tiongkok. Maka, setelah dikeluarkan kebijakan ini diharapkan ada perubahan perilaku konsumen saat berbelanja di pasar modern, misalnya membawa bungkus/wadah atau tas sendiri saat berbelanja serta tidak meminta bungkus plastik secara berlebihan.

Kebijakan kantong plastik berbayar yang sudah baik ini tentunya akan berjalan efektif jika bukan hanya dilaksanakan karena sudah menjadi peraturan dari pemerintah. Lebih dari itu, pencerdasan pada masyarakat juga perlu dilakukan seiring dengan pemberlakuan kebijakan ini. Karena jika pemerintah sudah berupaya mengurangi jumlah sampah plastik dengan membuat aturan, maka masyarakat sebagai pengguna kantong plastik harus berupaya untuk menyelaraskan kebijakan tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya, masyarakat mulai mengurangi pembuangan sampah di sungai atau menggunakan kantong plastik yang biodegradable agar lebih mudah hancur. Jangan sampai kebijakan ini dilakukan namun masyarakat masih dalam kondisi yang sama, pengetahuan yang sama, dan awareness terhadap sampah plastik yang sama. Justru titik pentingnya adalah kebijakan ini harus meningkatkan kesadaran masyarakat, ibaratnya kebijakan ini menjadi stimulus bagi masyarakat untuk aware terhadap lingkungan.

Dalam era people-centered development ini pada akhirnya memang tergambar pentingnya sinkronisasi antara pembangunan yang memfokuskan ekonomi, dan ekologi serta keadilan. Jadi fokusnya sudah semakin meluas ke arah sustainable development. Untuk mendukung sustainable development, isu lingkungan harus menjadi perhatian dari berbagai pihak. Pada beberapa negara berkembang, penempatan isu lingkungan pada dasawarsa terakhir ini sudah menempati fokus utama. Sehingga people-centered dan sustainable development seolah-olah sudah menjadi kesatuan. Oleh karena itu, untuk pembangunan Indonesia yang lebih bersih, sehat, sejahtera, di masa yang mendatang, mari turut serta mendukung kebijakan ini (serta membantu meningkatkan kesadaran masyarakat)!

 

Referensi :

Adi, Isbandi Rukminto. 2012. Intervensi Komunitas dan Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Depok : Raja Grafindo Persada.

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50c772772b6e0/haruskah-membayar-kantong-plastik-di-supermarket

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/31/o1srkk359-klh-segera-keluarkan-peraturan-kantong-plastik-berbayar

http://www.antaranews.com/berita/546232/22-kota-serentak-berlakukan-kantong-plastik-berbayar

https://m.tempo.co/read/news/2016/03/03/090750150/plastik-berbayar-efek-jera-pembeli-minimalkan-tas-kresek

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply