Meningkatkan Kesejahteraan Petani dengan Meraih Nilai Tambah
Jun 2, 2014
“Call for Contributors” Beranda Inovasi, Juni 2014
Jun 6, 2014

Budaya Konsumsi Beras dan Upaya Diversifikasi Pangan

Nasi Jagung, Sang Makanan Pokok Kedua-Endro TriwahyonoIndonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua sedunia yang memiliki 77 jenis tanaman karbohidrat (serelia, shorgum, jagung, dll.).Namun, masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengkonsumsi karbohidrat terbatas pada konsumsi beras sebagai kebutuhan pokok.Jumlah kontribusi beras dalam konsumsi kelompok padi-padian sebesar 996 kkal/kap/hari atau mencapai 80.6% dari total energi padi-padian (1.236 kkal/kap/hr) pada tahun 2011.

Berdasarkan prediksi dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, konsumsi beras sebagai makanan pokok dari tahun ke tahun semakin meningkat.Tahun 2012 tercatat sekitar 26,08 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 31,35 juta ton pada tahun 2025. Meningkatnya konsumsi beras dapat disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk berdasarkan kecepatan pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% per tahun.Makanan karbohidrat lain seperti singkong, shorgum, sagu dan ubi-ubian kurang familiar di kalangan masyarakat.

Salah satu yang mendukung besarnya konsumsi padi-padian terutama beras adalah potensi tanah atau lahan Indonesia terutama di Pulau Jawa dan Sumatera untuk ditanami padi-padian seperti beras. Adanya kebijakan pemerintah untuk mendirikan industri yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar mengakibatkan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian -khususnya lahan sawah- menjadi lahan non pertanian, menurunnya ketersediaan air sebagai dampak dari meningkatnya kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai) dan perubahan iklim global, serta meningkatnya kerusakan infrastruktur irigasi.

 

[ads1]

 

Produksi padi dalam negeri juga belum cukup memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Padahal, luas lahan pertanian Indonesia kurang lebih 192 juta hektar, sedangkan Myanmar dengan luas lahan pertanian yang hanya 68 juta hektar mampu memproduksi beras dengan jumlah terbanyak se-ASEAN. Hal ini dikarenakan sistem pengelolaan pertanian Myanmar yang mendukung untuk produktif menghasilkan beras.

Budaya masyarakat Indonesia juga masih lekat dengan beras sebagai makanan pokok, sehingga muncul istilah Kalau belum makan nasi, berarti belum makan”.

Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah telah mencanangkan beberapa program sebagai upaya menjaga ketahanan pangan, seperti program Swasembada Pangan sejak masa orde baru, penanaman bibit unggul, penggunaan dan penerapan tekhnologi pertanian, diversifikasi pangan, sistem koperasi pertanian, dan lainnya. Dengan keanekaragaman sumber daya alam hayati yang ada di Indonesia, maka diperlukan upaya strategis sebagai evaluasi terhadap sistem dan manajemen program yang telah ada.

Beberapa tahun belakangan, sejak tahun 2011, Pemerintah menganalisis seberapa besar potensi pangan lokal seluruh daerah di Indonesia untuk menyeimbangkan konsumsi pangan penduduk Indonesia agar tidak sepenuhnya bergantung pada beras melalui program diversifikasi pangan. Berdasarkan rencana strategis Kementerian Pertanian tahun 2011-2015, diversifikasi ditempuh sebagai upaya penganekaragaman pangan dengan memanfaatkan potensi lokal atau daerah dan mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis pangan seperti beras. Berbagai program mewujudkan kemandirian pangan dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia tanpa harus mengimpor bahan pangan yang dapat dibudidayakan di negeri sendiri.

Walaupun pada era modern ini mulai bermunculan beragam jenis makanan yang tidak menggunakan beras sebagai bahan pangan pokok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa beras tetap pangan utama di mata masyarakat umum. Kebiasaan atau perilaku masyarakat memang tidak mudah diubah. Butuh waktu yang panjang serta perlu komitmen yang kuat dari para pemangku kebijakan dan industri pangan lokal untuk saling berkolaborasi dalam mensosialisasikan dan mengenalkan sumber karbohidrat non beras sebagai upaya diversifikasi pangan, tentunya yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dan yang proses pengolahannya sederhana.

 

 

Sumber: ROADMap_Diversifikasi_Pangan_2011-2015_pdf (http://pusdatin.setjen.pertanian.go.id/)

 

[ads2]

Dian Febrina Anggraini
Dian Febrina Anggraini
Mahasiswa Universitas Airlangga, Fakultas Kesehatan Masyarakat/S1 Kesehatan Masyarakat, saat ini aktif sebagai Ketua Pelayanan Sosial Janur

1 Comment

  1. Safir Ejaz says:

    susah utk merubah mindset masyarakat yg makan beras terus hrs dirybah makan umbi2an

Leave a Reply