10 Ribu Dapet Apa?
Jun 19, 2015
Puluhan Ribu Tenaga Kerja Asing Mencari Nafkah di Indonesia Tiap Tahunnya!
Jun 30, 2015

Pentingnya Energi Baru Untuk Indonesia

Saatnya Energi Bersih Tampil di depan

Saatnya Energi Bersih Tampil di depan

Kebutuhan energi nasional pada tahun 2002 adalah sebesar 122 Giga Watt (GW) per tahun  (674 juta Setara Barel Minyak (SBM)) dan pada tahun 2020 akan menjadi 304 GW per tahun (1680 juta SBM), sehingga meningkat sekitar 2,5 kali lipat atau naik dengan laju pertumbuhan rerata tahunan sebesar 5,2%…

Selanjutnya, pada tahun 2020 jumlah impor minyak mentah Indonesia diperkirakan mencapai 207,2 juta barel per tahun atau sekitar 1,7 kali lipat dari impor pada tahun 2002 yang berjumlah 123,9 juta barel (Kemenristek, 2006). Bahan bakar fosil sebagai penyumbang gas rumah kaca terbesar ke biosfera yang dalam tahun 2006 saja menghasilkan emisi CO2 sebesar 29 giga ton (EIA, 2006). Sementara itu, proses alam diperkirakan hanya menyerap 12 giga ton, sehingga membutuhkan strategi mitigasi yang tepat untuk menetralkan kelebihan CO2 (Bilanovic et al., 2009).

Pada prinsipnya, penggunaan bahan bakar nabati generasi pertama mempunyai banyak kontroversi, umumnya disebabkan oleh pengaruh pasar pangan global dan keamanan pangan, terutama pada daerah-daerah dari ekonomi dunia yang rawan. Sebagai contoh, resiko akibat harga-harga pangan yang lebih tinggi akibat kebutuhan akan bahan bakar nabati dapat memberikan tekanan tambahan pada sumber-sumber alam yang berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan dan sosial. Sekarang ini, sekitar 1% (14 juta hektar) dari lahan produktif dunia yang digunakan untuk produksi bahan bakar nabati, hanya akan memenuhi 1% kebutuhan bahan bakar transportasi global. Kondisi untuk layak teknis dan ekonomis bagi bahan bakar nabati adalah harus kompetitif atau berbiaya lebih rendah dari bahan bakar fosil, membutuhkan lahan yang tidak luas, mampu meningkatkan kualitas udara (penyerap CO2) dan membutuhkan air yang minimal (Khosla, 2009). Eksploitasi yang bijaksana dari organisme-organisme yang hidup di laut, terutama mikroalga dapat memenuhi kondisi ini, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan untuk memenuhi kebutuhan energi primer, sekaligus memberikan manfaat lingkungan .

Perkembangan Energi Biodiesel di Indonesia

Jika kita berbicara mengenai biodiesel, bahan baku yang digunakan selama ini diproses dengan menggunakan minyak sawit atau jarak. Penggunaan minyak sawit yang dikenal dengan biodiesel generasi 1 (G1) menyebabkan persaingan antara kebutuhan energi dan pemenuhan kebutuhan bahan pangan, sehingga tidak menguntungkan secara ekonomi dan ketahanan nasional. Disamping itu, pengembangan biodiesel generasi pertama ini ternyata menimbulkan permasalahan pada lingkungan. Hal ini disebabkan adanya pembukaan lahan secara besar-besaran untuk menanam bahan baku nabati penghasil biodiesel. Pembukaan lahan tersebut akan mengambil lahan ekosistem yang penting misalnya hutan hujan sebagai penyerap karbon, dan mengurangi ketersediaan lahan untuk kelanjutan penanaman tanaman pangan di negara berkembang.

Selanjutnya dikembangkan biodiesel generasi kedua (G2) yang menggunakan sumber bahan baku dari sejumlah tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan serta dari limbah biomassa yang mengandung selulosa. Namun pengembangan biodiesel generasi kedua ini masih terkendala dengan tingginya biaya operasional untuk menghasilkan energi.

Untuk mengatasi hal tersebut sudah saatnya mulai dikembangkan teknologi untuk memproduksi biodiesel generasi 3 (G3) yaitu sumber energi alternatif yang berasal dari organisme renik. Dalam hal ini salah satu yang paling potensial adalah mikroalga (Chisti, 2007).

Keuntungan dari penggunaan mikroalga untuk produksi biodiesel adalah mampu berproduksi sepanjang tahun, sehingga produktivitasnya melebihi hasil dari tanaman terestrial (sawit dan jarak) ; tumbuh dalam media air, tetapi hanya sedikit kebutuhkan air dibandingkan dengan tanaman terestrial, sehingga dapat mengurangi beban pada sumber air tawar (Dismukes et al., 2008); mikroalga dapat dibudidayakan di air non-pertanian, sehingga tidak mungkin menimbulkan perubahan penggunaan lahan, meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan  dan tidak mengorbankan produksi makanan, pakan ternak dan produk lain yang berasal dari tanaman.

Keuntungan lain yang juga perlu dicatat bahwa mikroalgae mempunyai kandungan minyak yang cukup tinggi (sekitar 20-50% berat kering biomassa), sehingga jika tingkat pertumbuhannya eksponensial akan melipat-gandakan pada periode yang singkat (dalam hitungan hari, bahkan jam) (Spolaore et al., 2006); produksi biomassa-nya dapat sebagai biofixation limbah CO2 (1 kg biomassa alga kering menyerap sekitar 1,83 kg CO2) (Chisti, 2007); nutrisi untuk budidaya mikroalga (terutama nitrogen dan fosfor) dapat diperoleh dari air limbah, karena itu, selain menyediakan medium pertumbuhan, ada potensi ganda untuk pengobatan limbah organik dari agri-industri makanan; budidaya mikroalga tidak memerlukan herbisida atau aplikasi pestisida; mereka juga dapat menghasilkan co-product berharga yang dapat digunakan seperti food supplement, obat-obatan, pewarna alami, bio-plastic dan biohidrogen .

Referensi :

Suyono,Eko Agus.2014. Pengembangan Komprehensif Mikroalga sebagai Sumber Bioenergi bagi Negara Maritim. Fakultas Biologi UGM: Yogyakarta.

1 Comment

  1. Sekali lagi kita harus merubah mindset kita bahwa di negara ini miskin akan energi fosil. Dengan minimnya eksplorasi dan cadangan akan membuat negeri ini impor akan BBM sepenuhnya.

Leave a Reply