“Flat Earth itu Pseudosains”, Apakah itu?
Jul 18, 2016
Daur Ulang Limbah Air Wudhu dengan Sistem Filtrasi Re-Syar’i
Jul 20, 2016

Brexit dan Fenomena Mudik Masyarakat Indonesia

Kemacetan Parah Brexit via bbc.com

Kemacetan Parah Brexit via bbc.com

Kemacetan Parah Brexit via bbc.com

Hari Raya Idul Fitri di Indonesia mungkin bukan hanya menjadi hari besar bagi umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia. Lebih dari itu, Hari Raya Idul Fitri disambut dengan sukacita karena menjadi ajang untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga di berbagai wilayah. Oleh karena itu, Idul Fitri sangat identik dengan mudik atau pulang kampung. Bagi penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, mudik untuk menyambut Idul Fitri seolah menjadi kewajiban secara tidak langsung. Budaya mudik telah menjadi kebiasaan yang telah berlangsung sejak dulu, terutama sejak adanya transmigrasi penduduk.

Dalam sosiologi, mudik adalah sistem nilai karena mudik bukan sekedar kembali ke desa atau kampung halaman secara geografis. Ia mempunyai dimensi yang luas, khususnya di Jawa, mudik adalah kembali ke keluarga batih. Oleh sebagian besar masyarakat, mudik juga mempunyai dimensi ekspresi. Ketika mudik, mereka ingin menunjukkan apa yang telah dicapai selama bekerja di kota. Mereka ingin menunjukkan status sosial dan hasil kerja di kota. Tidak jarang ada pemudik yang membawa perhiasan atau benda-benda mahal untuk sekedar menunjukkan gaya hidup yang berbeda setelah mereka bekerja di kota. Jadi, mudik juga berkaitan dengan gaya hidup, yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Dalam hal ini, mudik seperti merupakan masalah psikologis yang diselimuti dimensi keagamaan yang lalu memperoleh legitimasi sosiologis.

Itulah awal mula mudik menjadi tradisi yang seolah-olah mempunyai akar budaya. Jadi, sesungguhnya tradisi mudik (dari Jakarta ke udik) lebih disebabkan oleh masalah sosial akibat perbedaan mencolok kemajuan Jakarta dan kota-kota lain. Hal ini terlihat dari sebagian besar pemudik yang merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah yang ingin pamer kepada masyarakat satu kampungnya, seolah-olah mereka telah mencapai sukses.Jadi sebenarnya, mudik Lebaran tidak punya akar budaya, tetapi lebih disebabkan oleh masalah sosial akibat sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta sebagai pusat segalanya.

Terlepas dari latar belakang munculnya fenomena mudik itu, masalah yang ditimbulkannya dari tahun ke tahun selalu sama: antrean panjang karcis kereta api, lonjakan ongkos transportasi, kemacetan lalu lintas, korban kecelakaan, tumpukan sampah di jalanan, peningkatan jumlah pendatang baru, dan berbagai masalah lainnya.Melihat adanya berbagai masalah ini, perlu adanya perubahan yang substansial yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Meskipun mudik telah menjadi suatu kebiasaan yang tidak dapat dihindari, tetapi masalah-masalah yang ditimbulkan akibat mudik ini bisa ditangani atau dikurangi dengan penanganan yang tepat.

Salah satu masalah mudik terbesar pada Libur Idul Fitri 2016 ini yaitu masalah kemacetan parah yang terjadi di Brexit. Brexit ini bukan istilah yang terkait dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang menyebabkan kemelut di Eropa, Brexit ini adalah istilah untuk pintu keluar Brebes Timur yang terkenal dengan nama Brebes Exit atau disingkat Brexit. Kemacetan luar biasa tersebut terjadi karena kondisi di lapangan tidak sesuai prediksi. Petugas yang memperkirakan aliran pemudik akan terjadi secara bergantian, ternyata terjadi pada saat yang bersamaan. Dari jumlah sekitar 17 atau 18 juta pemudik yang menggunakan kendaraan roda empat itu terjadi pada saat yang bersamaan. Inilah yang mengakibatkan kemacetan. Sedangkan Menko Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan jika kemacetan jalur mudik disebabkan oleh jalan tol yang masih terputus-putus sehingga ada pertemuan dengan jalan umum.

Akibat kemacetan parah yang terjadi di Brexit ini dikabarkan menelan korban meninggal hingga berjumlah belasan orang.Kepala Pusat Krisis Kemenkes RI Achmad Yurianto menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan para korban meninggal dunia. Salah satunya adalah faktor kelelahan dan kekurangan cairan. Kelelahan dan kekurangan cairan dapat berdampak fatal, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua dan mereka yang memiliki penyakit kronis (hipertensi, diabetes atau jantung. Hal ini diperburuk dengan kondisi kabin kendaraan yang kecil, tertutup dan pemakaian AC yang terus menerus. Hal ini akan menurunkan kadar oksigen dan meningkatkan CO2. Sehingga menyebabkan penumpang merasa sesak nafas. Faktor lainnya selain masalah kelelahan, juga disebabkan karena kecelakaan lalu lintas.

Secara umum, kecelakaan lalu lintas selama masa mudik ini masih didominasi sepeda motor. Kecelakaan sepeda motor ini jauh lebih banyak dibanding transportasi darat lain, seperti mobil penumpang, bus, mobil barang, dan kendaraan lainnya. Pada 2015, total kendaraan yang terlibat kecelakaan sebanyak 5.504 kasus. Dari jumlah kecelakaan tersebut, yang melibatkan kendaraan bermotor roda dua mencapai 3.829 kasus. Sementara menurut Brigjen Pol Agus Rianto, pada 2016 total kendaraan yang terlibat kecelakaan sekitar 4.626 unit. Dari semua insiden tersebut, kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor roda dua sebanyak 3.323 kasus. Namun, untuk kasus Brexit ini, menurut Kementerian Perhubungan lebih banyak disebabkan karena faktor kelelahan atau faktor penyakit bawaan yang dimiliki oleh penumpang kendaraan. Namun tetap saja, kemacetan parah menjadi pemicu dari kelelahan dan sakit para pemudik yang terjebak di kemacetan.

Kemacetan parah yang terjadi di pintu keluar Brebes Timur (alias Brexit) Tol Cikopo-Palimanan (Cikopo) ini memicu kritik atas kinerja pemerintah. Pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menjanjikan hal serupa tak terulang tahun depan. Kepala BPJT Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) Herry Trisaputra Zuna meyakini, kemacetan parah tak lagi terjadi karena pemerintah tengah menyiapkan dua ruas tol penyangga Brebes Timur yakni ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 39,2 km dan Batang-Semarang sepanjang 75 km.

BPJT sejak awal telah memperkirakan lonjakan kendaraan di tol selama arus mudik 2016 berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya. Namun, data tersebut tidak terlalu berbeda sehingga tak efektif menjadi acuan. Evaluasi sementara, salah satu penyebab kemacetan, yakni hambatan di ujung Tol Brebes akibat kendaraan melintas tanpa hambatan dari Jakarta. Hambatan lainnya, yakni jalan penyambung setelah tol yang kapasitasnya tidak sebanding dengan tol. Menteri Perhubungan Ignasius Jonanmengatakan, Kementerian Perhubungan akan terus berupaya untuk memperbaiki dan menyediakan infrastruktur transportasi yang memadai. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, pengembangan kapasitas bandara, terminal, pelabuhan, dan jalan juga harus ditingkatkan.

Selain solusi yang ditawarkan oleh Kementerian Perhubungan yang akan menambah infrastruktur terminal transportasi umum, Kementerian dan instansi lainnya pun melakukan berbagai upaya untuk menangani kasus kemacetan parah ini agar tidak terulang lagi. Kemenpupera akan menyelesaikan Tol Trans-Jawa, Kepolisian akan melakukan peningkatan koordinasi rekayasa lalu lintas, dan Pertamina akan menambah sebaran pasokan BBM jalur mudik.

Kemacetan parah yang terjadi di Brexit ini mungkin hanya sedikit dari sekian banyak problematika yang terjadi dalam mudik. Namun ini menjadi cerminan masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Jika di media sedang ramai menyalahkan Kementerian Perhubungan atau Presiden Jokowi, justru ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan, karena yang terpenting adalah melakukan perbaikan yang sistematis. Beberapa kementerian dan instansi pemerintah diatas contohnya, sudah menunjukkan good will dengan memberikan rencana perbaikan kedepan. Sejatinya mudik, dengan berbagai problematikanya, tetap menjadi suatu kebiasaan yang positif juga. Jadi yang perlu dilakukan bukan mempermasalahkan mudiknya, namun memperbaiki segala hal yang terkait dengan mudik seperti infrastruktur dan transportasi sehingga mudik menjadi aman dan nyaman.

 

Daftar Referensi :

Koran Republika, “Kecelakaan Mudik Masih Didominasi Sepeda Motor”, 14 Juli 2016

http://jateng.tribunnews.com/2016/06/28/exit-tol-brebes-timur-akan-jadi-titik-kemacetan-utama-ini-langkah-alternatif-dari-kapolri

https://m.tempo.co/read/news/2016/07/12/173786966/saling-tuding-brebes-exit-data-kemenhub-dipertanyakan

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/02/0253314/Akar.Sosiologis.Mudik.Lebaran

http://www.kompasiana.com/magungb/membaca-fenomena-sosial-yang-mencekam-dari-arus-mudik_55afbc50d07a617d2f5d39d8

http://wartakota.tribunnews.com/2016/07/07/ini-penyebab-banyak-yang-meninggal-saat-mudik-di-exit-brebes?page=2

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160705214559-20-143210/12-orang-diduga-meninggal-dunia-akibat-macet-parah-di-brebes/

http://ylki.or.id/2016/07/pelajaran-dari-horor-brebes-exit/

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply