Purifikasi Alamiah (Self Purification) Limbah Perairan dengan Agen Bioremediasi
Mar 12, 2014
Pengelolaan Sampah Secara Holistik Berbasis Partisipasi Masyarakat
Mar 14, 2014

Bioteknologi Penanggulangan Limbah Asam Tambang

Kegiatan pertambangan untuk mengambil bahan galian berharga dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Untuk mendapatkan lapisan bijih yang mengandung bahan tambang tertinggi dilakukan pembukaan dan pengupasan tanah hutan serta adanya tumpukan limbah yang dihasilkan yang menyebabkan kerusakan lingkungan secara luas. Kegiatan pertambangan, sudah barang tentu akan banyak mengakibatkan dampak, baik terhadap lingkungan maupun bersifat ekonomis dan sosial. Salah satu unsur penyebab dampak itu adalah limbah yang dihasilkan sebagai sampingan atau sisa dari penggarapan dan pengolahan yang sering kali volumenya besar dan banyak jenisnya.

Biotechnology1_1

Sumber Ilustrasi: www.engineersgarage.com

www.engineersgarage.com

Adapun jenis limbah yang dihasilkan dari berbagai jenis kegiatan dalam pertambangan adalah air tambang, limbah batuan overburden, larutan sisa proses, tailing, bijih sisa, dan sludge. Kegiatan pertambangan menghasilkan limbah yang berdampak pada lingkungan seperti pencemaran air permukaan dan air tanah, mengganggu kesehatan manusia, menyebabkan kerusakan flora dan fauna dan pencemaran udara. Total limbah yang diproduksi dapat bervariasi antara 10% sampai 99,99% dari total bahan yang ditambang. Diantara jenis limbah yang dihasilkan, volume dan dampak terbesar adalah limbah tambang terbuka yang dikenal sebagai overburden dan limbah dari proses pengolahan bijih menjadi konsentrat yang disebut tailings.

Overburden adalah batuan yang tidak mengandung bijih atau yang kadar bijihnya dianggap terlalu rendah untuk dapat diolah secara ekonomis menurut proses yang diterapkan sehingga harus disisihkan terlebih dulu sebelum diolah. Batuan ini tidak mengandung mineral dan menutupi atau berada di antara zona mineralisasi atau batuan yang mengandung mineral dengan kadar rendah. Sedangkan Tailing adalah limbah yang berbentuk pasir kasar dan halus yang kadar logamnya terlalu kecil untuk digiling lebih halus dan diolah lagi. Tailing maupun overburden yang mengandung logam sulfida akan teroksidasi bila kontak dengan oksigen dan air, menghasilkan sulfat sebagai penyebab keasaman pada lingkungan tanah dan air.

Disamping sifat asam yang mengancam kehidupan, limbah asam tambang tersebut juga mengandung logam-logam berat berbahaya yang sangat tinggi. Pencemaran asam dan logam berat pada lingkungan tersebut berpengaruh pada jumlah dan komposisi spesies biologis dengan siklus biogeokimia dari sejumlah unsur kimia. Sifat asam dapat memicu terbentuknya logam-logam reaktif dalam bentuk ionnya, dengan demikian akan menimbulkan pencemaran logam pada lingkungan perairan.

Telah banyak contoh kerusakan lingkungan akibat limbah pertambangan seperti di lembah Wanagon, Irian Jaya yang menyebabkan rusaknya hutan tropis dataran rendah seluas 30 km2 serta rusaknya ekosistem akuatik sebagai dampak pembuangan limbah tambang bersifat asam dan racun ke sungai. Setiap harinya, rata-rata sekitar 2000 ton limbah dibuang ke Teluk Senunu, Sumbawa sehingga menyebabkan terganggunya kehidupan biota laut seperti terumbu karang dan ikan yang mengancam kepunahan ekosistem dasar laut akibat buangan limbah tambang yang membentuk sedimentasi lumpur. Asam sulfat yang terbentuk dari kegiatan pertambangan dikenal dengan air asam tambang (AAT).

Kecepatan pembentukan AAT ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu, pH, dan populasi bakteri pengoksidasi sulfur Thiobacillus ferrooxidans. Populasi Thiobacillus akan meningkat secara drastis sejalan dengan menurunnya pH. Pembentukan AAT dapat dicegah dengan menghindari kontak pirit dengan oksigen dan air, juga dapat dihindari dengan mencegah pertumbuhan T. Ferrooxidans yang dilakukan dengan menggunakan bahan kimia. Berbagai cara untuk menangani limbah asam tambang oleh industri pertambangan adalah sebagai berikut :

  1. Menimbun batuan asam pada tempat kedap, mengelola run-off asam.
  2. Menimbun di kolam dan menjaga agar bahan tepat di bawah air.
  3. Menetralisir limbah yang bersifat masam dengan bahan yang bersifat basa, misal CaCO3.
  4. Melapisi batuan yang berpotensi munculnya sifat asam dengan tanah liat, minimalisir kontak dengan air dan udara.
  5. Menimbun lapisan limbah asam dengan tanah kemudian dilakukan penanaman untuk mencegah erosi dan penguapan.
  6. Penambahan surfaktan atau penambahan biosida untuk mematikan Thiobacillus ferrooxidans.

 

Christina Dwi Kusumaningtyas

Mahasiswa Jurusan Mikrobiologi, Universitas Gajah Mada

 

Daftar Referensi:

Fahruddin. 2010. Bioteknologi Lingkungan. Penerbit Alfabeta: Bandung.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply