Singa, Rusa, dan Kepiting
Apr 16, 2015
Beranda MITI Opini Kemiri Sunan, Reklamasi atau BBN ?
Kemiri Sunan: Reklamasi Atau Penghasil BBN ?
Apr 20, 2015

Biomassa, Saatnya Jadi Primadona

Biomassa Saatnya Jadi Primadona

Biomassa Saatnya Jadi PrimadonaLima tahun terakhir, permasalahan terkait Bahan Bakar Minyak (BBM) tak kunjung usai. Dimulai dengan kelangkaan BBM jenis minyak tanah disusul kebijakan penggantian bahan bakar rumah tangga menjadi LPG. Beberapa tahun berikutnya kelangkaan menyentuh premium dan solar. Lalu dalam kurun waktu setahun ini terjadi fluktuasi harga BBM.

Pencabutan ataupun pengurangan persentase subsidi bukanlah sebuah solusi yang bijak. Pasalnya kelangkaan BBM akan selalu menghantui. Bahkan saat ini dilansir cadangan proven minyak bumi Indonesia hanya 0,4 % dari cadangan dunia. Namun, berhenti dari ketergantungan bahan bakar tentu hal mustahil. Solusi yang tepat yakni dengan mempersiapkan sedini mungkin bahan bakar alternatif, salah satunya biomassa.

Kenapa Biomassa?

Secara sederhana biomassa dapat diartikan sebagai bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian dan limbah hutan, tinja dan kotoran ternak.

Salah satu produk hasil dari biomassa yang berbentuk biodiesel adalah gasohol atau fuel grade ethanol (FGE). FGE merupakan jenis etanol yang bebas air atau hanya mengandung air dengan persentase kecil (Prihandana dkk, 2007).

Produksi etanol dunia beberapa tahun terakhir menunjukkan kenaikan yang cukup tajam. Dari 20 besar Negara dengan produksi etanol tertinggi, Indonesia baru menempati peringkat ke-16 dengan angka produksi 45-50 juta gallon/tahun. Posisi pertama ditempati oleh Brazil dengan angka produksi mencapai 4.227 juta gallon/tahun disusul oleh USA ditempat kedua dengan angka produksi 4.264 juta gallon/tahun dan Cina ditempat ketiga dengan angka produksi 1.004 juta gallon/tahun.

Jumlah konsumsi gasohol tertinggi dunia saat ini ditempati oleh Brasil yang mencapai 14 milyar liter/tahun, USA 6 milyar liter/tahun, Cina 1,4 milyar liter/tahun, dan Kolombia 1 milyar liter/tahun. Sedangkan konsumsi etanol di Indonesia sampai tahun 2010 berkisar antara 1,71-1,85 juta liter/tahun. Angka konsumsi tersebut pun didominasi oleh perusahaan-perusahaan dan industri besar di Indonesia.

Jumlah produksi dan konsumsi biomassa dalam bentuk ethanol di Indonesia terlihat jauh tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara di atas. Padahal jumlah kebutuhan akan energi terutama bahan bakar di Indonesia sangat besar.

Potensi Biomassa

Letak Indonesia pada garis khatulistiwa membuat Indonesia dikarunia oleh cahaya matahari yang melimpah yang berpotensi menghasilkan produk energi terbarukan berbasis bahan nabati yang tidak pernah habis. Sebagaimana yang dicatat oleh national geographic, Indonesia merupakan negara tropis yang menyediakan potensi sumber biomassa dari limbah pertanian yang melimpah.

Selain itu, ada banyak jenis bahan baku nabati di Indonesia yang bisa diolah menjadi bahan bakar biofuel. Diantaranya adalah tumbuhan jarak, ubi kayu, kapuk, karet, kelor, kelapa, kemiri, saga, sawit, akar kepayang, cokelat, alpukat, nyamplung, siur, wijen, jagung, padi, kayu manis, kopi, srikaya, sirsak, kemiri, kelapa, dll. Bahan nabati ini dapat dioleh biji, daging buah, batang, ataupun akarnya (Hendroko, 2008). Beberapa tumbuhan di atas sebagian besar adalah tumbuhan yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan memiliki nilai produktivitas yang tinggi.

Bahan nabati yang disebutkan di atas sejauh ini baru dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan pangan, padahal jika disadari bahan-bahan tersebut bisa dipergunakan sebagai biofuel baik dalam bentuk biogas maupun biodiesel. Sebagai contoh, melalui sekam padi proses biomassa telah digunakan sebagai penghasil biodiesel untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Jawa Barat. Hal ini tentu perlu diapresiasi mengingat sekam padi merupakan limbah yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Beberapa komoditas pertanian Indonesia memiliki angka produktivitas yang tinggi sebagai bahan penghasil bioetanol. Diantaranya jagung yang mampu menghasilkan 5.000-6.000 liter bioetanol/hektar/tahun, aren dengan produktivitas mencapai 40.000 liter/hektar/tahun, lontar dan kelapa 8.000-10.000 liter/hektar/tahun, nipah 5.000-8.000 liter/hektar/tahun, tebu 5.000-6.000 liter/hektar/tahun, ubi jalar 7.800 liter/hektar/tahun, dan beberapa komoditas lainnya (Sumaryono, 2010).

Melihat beberapa fakta di atas biomassa berpotensi menjadi energi yang memiliki keberlanjutan, dalam artian ketersediaan biomassa tidak terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan ketersediaan energi minyak bumi dan gas alam yang sangat terbatas. Selain itu, penggunaan energi biomassa dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan buangan yang membahayakan kesehatan sebagaimana yang dihasilkan oleh BBM. Biomassa melihat manfaat ekologis.

Menurut Gan Thay Kong (2010) ada beberapa keuntungan ekologis yang diperoleh dari biomassa yang meliputi: biomassa tidak menimbulkan emisi sulfur sehingga mampu mengurangi hujan asam, biomassa dapat mendaur ulang CO2 sehingga dapat dikategorikan “bebas emisi”, pembakaran biomassa menghasilkan abu dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan abu yang dihasilkan oleh batu bara, dan terakhir tanaman energi ini dapat menutupi permukaan tanah sehingga terhindar dari erosi.

Biomassa Saatnya Jadi Primadona

 

Referensi Bacaan:

Hendroko, Roy. 2008. Energi Hijau: Pilihan Bijak Menuju Negeri Mandiri Energi. Jakarta: Penebar Swadaya

Prihandana Rama dkk. 2008. Bioetanol Ubi Kayu, Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta: AgroMedia

Sumaryono, Wahono. 2010. ”Kajian Komprehensif dan Teknologi Pengembangan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN). Jakarta

Thay, Gan Kong. 2010. Peran Biomassa bagi Energi Terbarukan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

David Pratama
David Pratama
Mahasiswa tingkat akhir Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB. Aktif menulis jurnalistik dan sastra.

1 Comment

  1. […] Baca Juga: Biomassa, Saatnya Jadi Primadona […]

Leave a Reply