Membangun Kedaulatan Energi melalui Pengembangan Energi Alternatif
Jul 10, 2013
Mengakselerasi Pembangunan PLTP di Tanah Air
Jul 12, 2013

Biogas Limbah Sagu sebagai Sumber Energi Ramah Lingkungan

SaguBiogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses metanisasi/fermentasi anaerobik limbah biomassa seperti limbah agroindustri, limbah ternak, bahkan kotoran manusia (bioenergi.net 2009). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine hewan ternak serta beberapa limbah organik yang cocok untuk sistem biogas sederhana.

Pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku biogas jelas akan memberikan manfaat yang baik, mengurangi masalah lingkungan, dan menciptakan kemandirian energi bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan biogas dari sampah organik menghasilkan biogas dengan kandungan metana 51,33%-58,18% dan gas CO2 41,82%-48,67%. Kandungan metana ini dapat meningkat pada bahan baku campuran sampah dan kotoran ternak. Dalam hal ini, limbah sagu dapat digunakan sebagai bahan baku untuk sumber bahan bakar nabati.

Ekstraksi pati sagu dengan proses tersebut akan menyisakan produk samping berupa bagian batang sagu yang cukup keras dalam jumlah yang banyak. Batang sagu yang cukup keras merupakan kompleks lignoselulosa yang disusun oleh polisakarida struktural pembentuk dinding sel (selulosa dan hemiselulosa), komponen aromatik (lignin) dan beberapa komponen lain (Whistler and Daniel, 1985; Howard, et al. 2003; Palonen, 2004). Menurut Cullen and Kersten (1992)  kandungan  selulosa pada dinding sel tanaman dapat mencapai 45% dari total kayu kering. Sementara itu, menurut  Palonen (2004); Martínez et al. (2005), kandungannya dapat mencapai 50%. Proporsi selulosa, hemiselulosa dan lignin pada kompleks lignoselulosa akan sangat tergantung pada spesies tanaman, umur, kondisi pertumbuhan dan fraksinasi atau tahapan proses (Palonen, 2004). Pada umumnya selulosa merupakan komponen terbanyak yang menyusun lignoselulose. Sementara itu, proporsi antara hemiselulosa dan lignin sangat dipengaruhi oleh jenis kayu (kayu keras atau kayu lunak).

Pemanfaatan utama dari tanaman sagu adalah sebagai tepung sagu (Bintoro 1999). Pada pembuatan tepung sagu, masyarakat umumnya hanya memanfaatkan 25-30% tepung sagu dari batang sagu. Sisanya, yakni 70-75% terbawa dalam residu sagu yang menjadi limbah, baik padat yaitu ampas dengan komposisi selulosa yang tinggi maupun cair berupa pati yang tidak terekstraksi yang menebarkan bau busuk dan mengganggu lingkungan sekitar. Limbah ini merupakan ampas yang dihasilkan saat proses ekstraksi sagu pada pengolahan sagu dengan teknologi saat ini. Akibat potensi pati sagu yang kurang diperhatikan, pemanfaaatan tanaman sagu pun menjadi tidak maksimal sehingga banyak pati sagu yang terbuang menjadi limbah. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya memanfaatkan limbah dari tanaman sagu setelah diolah  tersebut. Hal ini dilakukan agar kandungan sagu baik pati maupun batangnya tidak terbuang percuma dan mencemarkan lingkungan.

Ironisnya potensi tanaman sagu yang sangat besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal dan seakan termarjinalkan. Berdasarkan catatan BPPT produksi pati sagu saat ini mencapai 200 ribu ton per tahun, namun baru 56% saja yang dimanfaatkan dengan baik. Saat ini, perkiraan potensi pati  sagu mencapai 27 juta ton pertahun, akan tetapi baru sekitar 300-500 ribu ton tepung sagu yang digunakan setiap tahunnya. Sejauh ini tanaman sagu kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Referensi:

Bintoro M. H. 2001. Sago in Indonesia. Di dalam:  Kainuma K, Okazaki M, Toyoda Y, Cecil John E, editor. New Frontiers of Sago Palm Studies. Tokyo: Universal Academy Press, Inc. hlm 247-250

Cullen, D. and Kersten, P. 1992. Fungal Enzym for Lignocellulose Degradation. In Kinghorrn, J.R. and G. Turner (eds). 1992. Applied Molecular

Howard R.L., E. Abotsi., V.R.E.L. Jansen and S. Howard. 2003. Lignocellulose Biotechnology: Issue of Bioconversion and Enzym Production. African Journal of Biotechnology Vol. 2 (12), pp. 602-619.

Palonen, H. 2004. Role of Lignin in The Enzymatic Hydrolysis of Lignocellulose. Dissertation for the degree od Doctor, HelsinkiUniversity of technology, Espoo, Finland. 

Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari

Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

Leave a Reply