Potensi Biji Mangrove Pongamia Pinnata Sebagai Energi Alternatif Penghasil Biodiesel
Jul 29, 2013
Perilaku Konsumsi dan Penghematan Energi
Aug 23, 2013

Biofuel Generasi Kedua: Solusi Dilema Pangan dan Energi

limbah pertanian

Sejauh ini masyarakat mengenal biofuel generasi pertama, yaitu bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan yang cenderung dapat dikonsumsi manusia seperti jagung, kedelai dan lain-lain. Biofuel generasi pertama memang sangat membantu manusia mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Namun disisi lain hal itu akan menimbulkan kompetisi di kemudian hari, karena bahan-bahan tersebut digunakan untuk konsumsi manusia yang juga akan menjadi bahan dasar pembuatan biofuel.

Hal inilah yang menyebabkan dikembangkannya biofuel generasi selanjutnya. Biofuel generasi kedua  menggunakan bahan dasar limbah, baik limbah pertanian dan kehutanan. Sedangkan biofuel generasi ketiga menggunakan gulma air, seperti eceng gondok, dan lain-lain.

Berbeda dengan biofuel generasi pertama yang dihasilkan dari pati, misalnya dari tanaman singkong, tebu, atau jagung, yang teknologi prosesnya mudah. Biofuel generasi kedua berasal dari biomassa limbah pertanian atau kehutanan.

Lignoselulosa, yang berasal dari limbah berbagai tanaman pangan, berupa kayu, jerami, dan rumput, dianggap sebagai alternatif bahan baku bioenergi yang paling potensial. Limbah rumput dan jerami kering serta kayu umumnya mengandung biomassa lignoselulosa, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Pada tumbuhan, kandungan lignoselulosa mencapai 90 persen total biomassa.

Bahan bakar berbasis biofuel generasi kedua sangat potensial dikembangkan di Indonesia, mengingat negara ini menjadi salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Tak hanya kelapa sawit, biomassa lignoselulosa lainnya juga bisa diperoleh dari tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia.

biofuel

Gambar 1. Skema Biofuel

Kedepannya, terdapat tantangan untuk mengembangkan biofuel generasi kedua ini. Biomassa bahan selulosa atau lignoselulosa memerlukan teknologi yang prosesnya lebih rumit karena perlu perlakuan awal atau pretreatment. Selain itu juga, teknologi pengembangan bioetanol yang menjadi campuran bahan bakar premium generasi kedua untuk saat ini harganya masih terbilang mahal.

Referensi:

Humas Ristek. 2013. Mencipta Biofuel Generasi Kedua. [Terhubung Berkala]. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/9257

Soerawidjaja. 2010. Why We Need Second Generation Biofuel. Respects Magazine. Edition: 2. Volume: 1

Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari

Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

Leave a Reply