Tertarik dengan Bahasa Jawa, Google Menggandeng UGM dalam Inovasi Text-To-Speech Berbahasa Daerah
May 6, 2016
Buat Robot Humanoid yang Dinamis, Mahasiswa UI Raih Prestasi dalam Kontes Robot Indonesia
May 9, 2016

Big Data: Era Baru Pertanian

Ilustrasi Big Data via socialmarketingfella.com

Ilustrasi Big Data via socialmarketingfella.com

Ilustrasi Big Data via socialmarketingfella.com

Big Data adalah konsep yang lahir dari dunia teknologi informasi. Saat membicarakan tentang teknologi informasi, kita tidak lepas dari cakupan hardware dan software, namun dalam aplikasi Big Data tidak hanya berkaitan dengan penggunaan hardware dan software yang memiliki performa tinggi, tetapi lebih mengacu pada pemberdayaan data dan informasi sebagai pendukung suatu sistem.

Tak dapat dipungkiri, kini ketersediaan data dan informasi menjadi penting untuk perkembangan berbagai macam industry, seperti medis, asuransi, retail, fashion, korporasi, pemerintahaan, energi, dan tak ketinggalan, industri pertanian pun saat ini banyak menggunakan aplikasi dari Big Data.

Aplikasi teknologi dalam pertanian mengalami masa evolusi dan perkembangan yang cukup panjang sampai sekarang. Pada perkembangannya, pertanian dibagi menjadi beberapa era;

1700 (Masa Awal Teknologi Pertanian/Subsistent Farming): Petani menghasilkan jumlah minimum makanan yang diperlukan untuk memberi makan keluarga mereka dan memiliki beberapa cadangan untuk bulan musim dingin. Pada masa ini, pertanian hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi untuk sehari-hari. Masyarakat sudah mengenal teknologi pertanian, namun teknologinya pun masih sangat sederhana, seperti alat pembajak, pengungkit, cangkul, dll.

1800 (Pertanian untuk Profit/Farming for Profit): Era ini ditandai bentuk transisi pertanian subsisten untuk keuntungan pertanian. Ini adalah masa ketika meluasnya penggunaan lumbung dimulai. Lumbung digunakan untuk tujuan alat menyimpan produk hasil panen dan peralatan terkait. Masa ini juga disebut pertanian perintis.

1900 Awal (Penggunaan Daya untuk Pertanian/Power Farming): Daya atau tenaga tersebut datang dalam bentuk tenaga hewan. Para petani menggunakan hewan untuk membajak, menanam, mengangkut tanaman. Penggunaan tenaga hewan memberikan peningkatan yang signifikan dalam produktivitas tanaman.

Pertengahan ke 1900-an (Mekanisasi Pertanian/Machine Farming): Masa penggunaan mesin pada pertanian dipicu oleh revolusi industri yang terjadi pada sekitar tahun 1800 yang bermula dari dikembangkannya mesin uap oleh James Watt. Terjadinya revolusi industri juga tidak lepas dari munculnya Revolusi Agraria. Ada dua tahap yakni Revolusi Agraria I adalah tahapan terjadinya perubahan penggunaan tanah yang semula hanya untuk pertanian menjadi usaha pertanian, perkebunan, dan peternakan yang terpadu. Revolusi Agraria II mengubah cara mengerjakan tanah yang semula tradisional dengan penggunaan mesin-mesin atau mekanisasi. petani ini era mengandalkan otomatisasi yang sebelumnya dilakukan dengan tangan atau hewan.

2000 (Data Era): Untuk memberi makan populasi penduduk dunia yang semakin berkembang dengan pesat dalam dekade mendatang, pertanian harus menghasilkan produk pangan lebih banyak lagi. Aplikasi Big Data memegang salah satu kunci bagi perkembangan pertanian. Pada era ini, pertanian sedang didorong oleh aplikasi data dan informasi. Penggunaan data untuk meningkatkan pertanian secara fundamental mencakup fungsi untuk memantau, mengendalikan, dan melakukan proses.

Sebagai contoh, pada produksi tanaman kentang, empat hal yang perlu dipertimbangkan sebagai data awal adalah data mengenai waktu, letak geografis, sumber daya manusia, dan sistem irigasi. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga input utama data yang berkaitan dengan kewilayahan, yakni sistem penginderaan (Remote Sensing), Global Positioning System (GPS), dan sistem informasi geografi (GIS).

Jika dikaji lebih jauh lagi ketersediaan yang diperlukan untuk meningkatkan produktifitas pertanian antara lain,

  1. Informasi mengenai jumlah kuota kebutuhan rata-rata konsumen suatu komoditi tertentu dari suatu daerah.
  2. Informasi mengenai jenis komoditi apa saja yang sedang ditanam di daerah lain.
  3. Informasi mengenai luas wilayah daerah lain yang melakukan penanaman komoditas tertentu.
  4. Informasi mengenai perkiraan jumlah kuota apakah suatu komoditas tertentu masih layak untuk ditanam atau sudah memenuhi kuota.
  5. Informasi lain mengenai teknologi pertanian terkini untuk meningkatkan produksi.

Dengan pemanfaatan aplikasi Big Data untuk pertanian, diharapkan permasalahan pemenuhan pasokan pangan untuk dunia, khususnya di Indonesia dapat terselesaikan sehingga kerawanan pangan bias dihindari dan tercapainya ketahanan pangan.

 

Referensi:

Rob Thomas and Patrick McSharry. 2015. Big Data Revolution: What farmers, doctors and insurance agents teach us about discovering big data patterns. John Wiley & Sons, Ltd.

Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari

Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

Leave a Reply