NASA Pastikan Pokemon GO Tidak Bisa Dimainkan di Stasiun Luar Angkasa
Jul 12, 2016
Mahasiswa UGM Bantu Kembangkan UMKM dengan Mesin Pembuat Mie Hidrolis
Jul 13, 2016

Biasanya Hanya Jadi Limbah, Mahasiswa Unila Ubah Biji Karet Jadi Kerupuk Lezat

Biji Karet via thepresidentpostindonesia.com

Biji Karet via thepresidentpostindonesia.com

Biji Karet via thepresidentpostindonesia.com

Mesuji, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Lampung terkenal memiliki potensi karet yang melimpah di sebagian wilayahnya. Tak ayal, banyak penduduknya bekerja sebagai petani karet. Karet yang biasanya diambil getahnya, memiliki biji yang jumlahnya cukup banyak dan sejauh ini hanya menjadi limbah yang tidak termanfaatkan. Namun, lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) ini berhasil menciptakan panganan lezat bernilai ekonomis tinggi dengan bahan dasar biji karet.

Eka Prianti, Zupika Audina, Carta Wijaya, Rizal Gata Kusuma, dan Sartika, lima mahasiswa Unila ini menciptakan kerupuk biji karet dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat di Desa Adi Luhur, Kecamatan Mesuji, Lampung.

Mengingat harga getah karet yang dari waktu ke waktu semakin menurun, petani karet membutuhkan ladang usaha lain untuk meningkatkan taraf hidupnya. Adanya inovasi usaha kerupuk biji karet selain dapat meningkatkan tingkat ekonomi warga, namun juga dapat membentuk usaha mandiri rumah tangga yang akan menyerap tenaga kerja warga desa.

Masyarakat Desa Adi Luhur melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) nya juga mendapatkan pelatihan mengenai langkah pembuatan kerupuk yang enak dan layak jual. Tidak sampai disitu, pelatihan pengemasan dan penyusunan strategi pemasaran juga dilakukan.

Awalnya, KWT ini diberikan investasi mesin segel kemasan, plastik kemasan, label, timbangan, alat pemotong kerupuk, dan bahan baku penunjang sebagai modal awal produksi. Saat in kerupuk biji karet sudah tersedia dalam berbagai varian rasa dengan harga Rp 10.000 per kemasan 150 gram.

Saat ini, sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di Desa Adi Luhur yaitu KWT Mawar dan Melati. “Program PKM Pengabdian kepada Masyarakat ini sudah menciptakan industri rumahan yang berkelanjutan, atau mencapai 80% dari target yang dicanangkan” Kata Eka Priyanti.

Tidak hanya sampai produksi saja, namun produk kerupuk biji karet ini juga telah dipasarkan di pameran, warung, serta toko yang ada di lingkungan Kabupaten Mesuji. Dukungan pun terus mengalir dari berbagai pihak. Antara lain Kepala Desa Adi Luhur, Dinas Koperindag, serta pihak-pihak pemerintah dari Kabupaten Mesuji.

Bupati Mesuji juga mendukung produk ini dan berharap nantinya kerupuk biji karet ini dapat menjadi oleh-oleh panganan khas dari Kabupaten Mesuji. (NMY)

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf
Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply