Pencitraan Partikel Berkecepatan Tinggi Karya Indonesia
Jun 10, 2015
10 Ribu Dapet Apa?
Jun 19, 2015

Berharap Pada Green Building

Berandi MITI Artikel Berharap Pada Green Building
Berandi MITI Artikel Berharap Pada Green Building

Membangun Kota Modern Dengan Green Building

Semakin cepatnya pembangunanan ekonomi akan berdampak pada kondisi infrastruktur suatu negara. Masifnya pembangunan gedung-gedung bertingkat akan semakin meminimalkan area hijau yang penting untuk kehidupan. Pentingnya pengembangan gedung dengan menerapkan konsep green building sangat dianjurkan oleh pemerintah untuk mengurangi dampak negatif dari hilangnya lahan hijau dalam kota.

Sebuah bangunan yang berdiri dapat diakui oleh masyarakat umum sebagai bangunan hijau (green building) jika telah memperoleh pengakuan dari suatu lembaga. Green Building Council Indonesia (GBCI) merupakan lembaga mandiri (non-government) dan nirlaba (non-for profit) yang berkomitmen penuh dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan.

Lembaga GBCI menyelenggarakan kegiatan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian Greenship . Menurut GBCI, green building adalah gedung berkinerja tinggi yang dibuat berwawasan lingkungan sehingga mampu mengurangi penggunaan energi serta dampak polusi sekaligus ramah lingkungan.

Masih terdapat harapan untuk menlindungi bumi ini selain dari pemanfaatan energi terbarukan yang sampai sekarang belum optimal. Tingginya permintaan kebutuhan bahan bakar minyak dan rendahnya produksi minyak dalam negeri tidak semata-mata menurunkan ritme tingkat konsumsi. Pemerintah terus mengimbanginya dengan impor yang luar biasa besar. Sehingga upaya perlindungan terhadap lingkungan dan bumi masih bisa dilakukan dari sektor building yang sampai sekarang sangat pesat pertumbuhannya.

Greenship

Greenship merupakan perangkat penilaian tingkat green suatu bangunan dengan memperhatikan beberapa aspek penilaian berisi beberapa tolok ukur yang disesuaikan dengan peraturan/ketetapan pemerintah dan Standar Nasional Indonesia. Total nilai evaluasi akan menentukan kriteria tingkat green dengan kategori seperti dalam Tabel 1, dimana selanjutnya akan disahkan dalam bentuk sertifikasi.

Beranda MITI Artikel Berharap Pada Grenn Building

Sebagian besar evaluasi green building yang telah dilakukan yaitu pada gedung-gedung terbangun sehingga digunakan Greenship Existing Building (EB). Aspek yang memiliki komponen penilaian tertinggi adalah Energy Efficiency & Conservation. Oleh karena itu, kajian terhadap aspek ini menjadi prioritas utama, salah satunya dengan audit energi dan mengkaji potensi konservasi energi.

Dalam UU No. 30 Tahun 2007 tentang Energi dinyatakan bahwa konservasi sumber daya energi adalah pengelolaan sumber daya energi yang menjamin pemanfaatannya dan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Kemudian, dalam rangka mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan dan meningkatkan ketahanan energi nasional, tujuan pengelolaan energi antara lain adalah termanfaatkannya energi secara efisien di semua sektor.

Sementara itu dalam PP No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi  dinyatakan bahwa audit energi adalah proses evaluasi pemanfaatan energi dan identifikasi peluang penghematan energi serta rekomendasi peningkatan efisiensi pada pengguna energi dan pengguna sumber energi dalam rangka konservasi energi. Dalam SNI 03-6196-2000  audit energi didefinisikan sebagai teknik untuk menghitung besarnya konsumsi energi pada bangunan gedung dan mengenali berbagai cara penghematannya. Secara garis besar, berbagai cara penghematan tersebut dikenal pula sebagai Energy Management Opportunities (EMO).

Audit energi pada bangunan diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah energi yang digunakan selama kurun waktu setahun. Hal ini guna memenuhi seluruh fungsi pelayanan dan operasional sistem utilitas bangunan dengan memperhatikan terpenuhinya kenyamanan penghuni dalam beraktifitas di dalam bangunan tersebut. Salah satu rekomendasi InSGreeB yakni dengan menerapkan program manajemen energi yang efektif meliputi tiga komponen yaitu 1) pembelian energi yang efisien, 2) mengoperasikan peralatan dengan efisien, 3) mengganti peralatan dengan yang efisien. Ketiga komponen ini memiliki prioritas yang sama.

Sedangkan langkah-langkah dalam melaksanakan program manajemen energi bangunan untuk menuju konservasi energi yang efektif meliputi: 1) komitmen total dari pihak manajemen, 2) audit energi dalam bangunan yang mengidentifikasi karakteristik bangunan, mencatat konsumsi energi tiap bulannya (listrik, LPG, solar) dan membuat perkiraan pemakaian pada bulan berikutnya, dan distribusi konsumsi energi, 3) identifikasi masalah dan penyelesaiannya, 4) menentukan tujuan konservasi, misalkan 5 tahun ke depan dalam % penghematan atau kWh/m2, 5) implementasi peluang penghematan energi yang layak dan pemantauan konsumsi energinya secara berkelanjutan, serta 6) membuat perubahan atau penyesuaian agar tujuan konservasi energi yang dicanangkan dapat tercapai.

Sistem penerangan untuk seluruh studi kasus di atas merupakan sistem utilitas bangunan yang mengkonsumsi energi listrik terbesar. Beberapa contoh solusi teknis dan non-teknis yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Mengintegrasikan penggunaan pencahayaan alami dan penerangan buatan. Penelitian di atas telah menunjukkan terpenuhinya tingkat pencahayaan yang diperlukan sekaligus hemat energi.
  2. Menyalakan lampu saat diperlukan. Aktifitas penghuni yang sangat beragam dengan belum adanya budaya hemat energi menjadikan penerapan sistem otomasi penerangan suatu solusi yang penting. Penerapan sistem otomasi penerangan dapat menggunakan sensor okupansi dan daylighting sensor.
  3. Retrofit komponen penerangan dengan menggunakan green lighting terutama jenis lampu LED yang bernilai efikasi tinggi. Efikasi adalah nilai perbandingan watt lampu yang dihasilkan dengan daya listrik yang dibutuhkan. Manajemen bangunan yang menerapkan beberapa kebijakan diantaranya penjadwalan, perawatan berkala, dan mengamati arus, tegangan, dan faktor daya secara terus menerus pada jaringan kelistrikan.

Well, konsep green building memang tidak mudah dilaksanakan dan tampak rumit dari luarnya. Namun dengan pembangunan gedung bertingkat yang semakin menjadi terutama di kota-kota besar, green building dapat menjadi solusi agar pembangunan tersebut tetap ramah terhadap lingkungan dan tidak terpaku pada aspek keuntungan bisnis semata. (NAR/NMY)

Daftar Referensi :

Utami, Sentagi Sesotya.2014. Green Building Sebagai Green Icon Blue Campus Universitas Gadjah Mada. Fakultas Teknik UGM : Yogyakarta.

GBCI (2009), About GBC Indonesia, [online], (http://www.gbcindonesia.org, diakses tanggal 25 September 2014).

Leave a Reply