Ini Jalur Trotoar Khusus Pecandu Ponsel
Sep 18, 2014
Bioinformatika : Harmonisasi Teknologi Informasi dan Bioteknologi Di Era Cyber
Sep 22, 2014

Bekerja Menyenangkan a la Generasi Y

Facebook_workarea

TUNTUTAN GENERASI Y

Dalam dunia kerja masa kini, kita tengah menyaksikan tanda-tanda awal sebuah benturan besar antara Generasi Y dengan segala norma-norma yang dibentuk oleh lingkungannya dan Generasi X serta Generasi Baby Boom tradisional yang berkedudukan sebagai pemberi kerja. Menurut beberapa survei dan analisis, Generasi Y banyak mendapat kritik atas ketidakmampuan bekerja dalam kelompok, motivasi, serta etos kerja. Karyawan-karyawan muda banyak dikeluhkan tidak realistis tentang berapa lama yang dibutuhkan untuk meniti jenjang karier. “Lulusan Perguruan Tingggi sekarang ingin mendapatkan kunci-kunci untuk meraih kejayaan mereka sejak hari pertama mereka bekerja”. Mereka terlihat enggan untuk memulai karier dari bawah.

Banyak petinggi perusahaan (dari kalangan Generasi X atau Baby Boom) yang mengeluhkan Generasi Masa Kini yang baru saja terjun ke dunia kerja. Mereka dianggap cenderung tidak sopan dan tidak tepat waktu, bahkan dalam berpakaian pun mereka terkesan santai dan semaunya. Mereka seringkali tampak berpindah pekerjaan, tidak konsisten dan kurang loyal terhadap pekerjaannya. Benarkah demikian?

Generation gapDon Tapscott dalam bukunya yang berjudul “Grown Up Digital” menyebut fenomena yang terjadi saat ini sebagai keadaan ‘saat sebuah kekuatan besar yang meletup-letup bertemu dengan sesuatu yang enggan bergerak”. Generasi Y sesungguhnya bersemangat sekali untuk memanfaatkan alat-alat jaringan sosialnya dalam berkolaborasi, mencipta, dan memberikan sumbangsih kepada perusahaan tempatnya bekerja. Tapi kemudian, banyak perusahaan melarang pekerja membuka jaringan internet atau bermedia sosial di kantor karena curiga bahwa mereka akan membuang-buang waktu, mengobrol dan bergosip secara digital disaat mereka seharusnya bekerja. Dalam waktu singkat, semangat untuk menyalurkan kreatifitas demi meningkatkan kualitas perusahaan; niat untuk berpromosi melalui pemanfaatan internet; hingga keinginan membangun banyak jaringan yang akan mendukung kemajuan perusahaan pun meredup.

Randall Hansen, pendiri Quintessential Careers, sebuah situs web pengembangan karier menegaskan: Generasi Y adalah landasan untuk lapangan kerja dan kepemimpinan selama tiga dasawarsa mendatang. Mereka memang generasi paling manja dan paling mau menang sendiri. Akan tetapi generasi ini juga paling fasih dalam teknologi dan memiliki jaringan pertemanan paling luas.

Pandangan-pandangan Generasi Y berbeda dengan pandangan generasi lain tentang kehidupan maupun pekerjaan. Seandainya perusahaan ingin merekrut dan mempertahankan orang-orang ini, mereka harus merubah strategi-strategi, kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur kerja konvensional…

Selain karena memang banyak dikelola dan dikembangkan oleh pemimpin-pemimpin muda yang jenius, beberapa perusahaan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi memperhatikan betul norma-norma Generasi Y dan melakukan penyesuaian terhadap norma-norma Generasi Y dalam menjalankan aturan kerja. Beberapa dari aturan di bawah ini tentu menarik bagi pekerja muda berbakat. Terlebih, penerapan aturan-aturan tersebut merupakan cerminan bahwa perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di abad informasi.

Aturan bermedia sosial

Tidak dapat dipungkiri bahwa di era ini, kepemilikan akun media sosial merupakan hal yang lumrah. Media sosial digunakan untuk dapat menyalurkan ekspresi dan menjalin pertemanan. Intel Corporation, -perusahaan multinasional yang berpusat di Amerika Serikat dan terkenal dengan rancangan dan produksi mikroprosesor- merumuskan nilai-nilai yang dapat dipegang karyawannya dalam bermedia sosial dalam 3 Rules of Engagement.

9-18-2014 4-08-27 PM

Bagi Intel, media sosial telah merubah cara karyawan mereka bekerja. Media Sosial menawarkan model baru dalam keterlibatan pekerja dengan klien serta pelanggan, hingga rekan-rekan kerja, dan bahkan terhadap seluruh sisi kehidupan generasi masa kini. Intel percaya bahwa interaksi melalui media sosial dapat membantu pekerjanya dalam membangun hubungan bisnis yang lebih kuat dan sukses. Karena itulah Intel memberlakukan nilai-nilai yang dapat dipegang oleh para pekerjanya dalam berinteraksi dengan dunia global melalui media sosial. Perusahaan ini percaya bahwa partisipasi pekerjanya dalam bermedia sosial bukan semata hak karyawan akan tetapi juga peluang bagi perusahaan untuk dapat lebih berkembang.

Proyek-Proyek Pribadi

Google, perusahaan pengelola mesin pencari digital yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, meminta para pekerjanya agar menggunakan 20 persen waktu kerja mereka di kantor untuk proyek-proyek yang mereka minati secara pribadi. Konsep ini dinamakan Open Allocation. Bagi Google, kebebasan yang diberikan kepada para pekerjanya tersebut juga memiliki alasan bisnis yang kuat. Seandainya karyawan-karyawan Google adalah yang terbaik dan yang paling cemerlang –dan Google percaya mereka demikian- maka apa pun proyek yang mereka minati secara pribadi dapat membuka peluang-peluang bisnis bagi perusahaan.

s1.reutersmedia.net

Kebebasan yang diberikan oleh Google agar para pekerja mengalokasikan 20 persen waktu untuk mengerjakan proyek yang mereka anggap keren menghasilkan banyak pencapaian bagi perusahaan Google sendiri. Google Chrome awalnya merupakan proyek yang dikembangkan oleh pekerja Google yang frustasi karena browsernya sangat lambat. Begitu pula dengan Gmail, AdSense dan inovasi-inovasi lain keluaran Google.

 

Kebijakan Empat Hari Kerja

Ketika pekerja menyadari bahwa waktu yang mereka miliki untuk bekerja tidak banyak, maka mereka akan memanfaatkan waktu kerja sebaik mungkin. Kira-kira demikianlah harapan CEO dan co-founder Treehouse, Ryan Carson. Treehouse merupakan perusahaan jasa tutorial di bidang desain dan pengembangan web. Saat ini Treehouse mempekerjakan sekitar 75 karyawan, dan kebanyakan dari mereka merupakan pindahan dari perusahaan IT terkemuka dunia seperti Facebook dan Twitter. Carson menjelaskan bahwa tak dapat dipungkiri, hal yang membuat banyak pekerjanya tertarik untuk bergabung dengan Treehouse ialah kebijakan empat hari kerja yang mereka berlakukan. Ya, empat hari kerja!

20110307-1k9hpebqaech1qxrsqji9y1dtu

Jika banyak perusahaan di seluruh dunia memberlakukan 8 jam kerja dalam sehari dan lima hari kerja dalam sepekan, pekerja di Treehouse cukup masuk kantor dari hari Senin hingga Kamis. Awalnya, banyak yang mengira bahwa ketidakwajiban untuk hadir di kantor pada hari Jumat akan diganti dengan pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan dari rumah. Namun Carson menjelaskan bahwa jatah libur tiga hari di akhir pekan –dengan sesungguh-sungguhnya libur tanpa membawa pekerjaan ke rumah- akan membantu pekerjanya untuk lebih bersemangat masuk kantor di hari Senin.

Fasilitas-Fasilitas Kantor yang Menyenangkan

Perubahan di abad informasi membuat sejumlah perusahaan menyesuaikan diri dengan kebutuhan para pekerjanya. Pekerjaan-pekerjaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, seringkali menuntut kreatifitas dan ide-ide segar. Karenanya, suasana kantor dan iklim kerja yang dibangun harus menunjang kenyamanan pekerja.

Banyak perusahaan IT yang memperbolehkan karyawannya untuk bekerja jarak jauh, tanpa harus datang ke kantor dari Senin hingga Jumat. Parameter keberhasilan dari apa yang dikerjakan tidak berorientasi pada lama waktu berada di kantor, akan tetapi pada terselesaikannya proyek-proyek sesuai target.

Kantor-kantor besar yang berkembang di bidang IT berusaha menjawab kebutuhan pekerja-pekerja dari Generasi Y yang muda dan dinamis dengan menawarkan sejumlah fasilitas menyenangkan. Kantor-kantor dibangun dengan menyertakan fasilitas kebugaran, ruang ganti, lapangan bola basket dan bola voli, minimarket, tempat laundry, serta foodcourt a la kafe dengan menu-menu yang berubah tiap hari. Menurut sejumlah studi, fasilitas-fasilitas yang ditawarkan tersebut justru mendongkrak kepuasan karyawan dan meningkatkan kinerja mereka.

Ruang Bilyar di Kantor America Online, New York

Ruang Bilyar di Kantor America Online, New York

 

Salah satu sudut di kantor Three-Rings

Salah satu sudut di kantor Three-Rings, San Francisco

 

Arena permainan di kantin kantor Facebook, New York

Arena permainan di kantin kantor Facebook, New York

 

Suasana Kerja di kantor Youtube, London

Suasana kerja di kantor Youtube, London

 

Kantor Kaskus di Jakarta menyediakan makan siang gratis bagi karyawannya

Kantor Kaskus di Jakarta menyediakan makan siang gratis bagi karyawannya

Konsep-konsep kantor yang menyenangkan dengan desain gedung menawan dapat ditemukan di kantor berita American Online, perusahaan developer game Three Rings, perusahaan media sosial seperti Facebook maupun Youtube, hingga perusahaan Kaskus yang berpusat di Indonesia.

Anda tertarik untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjunjung norma Generasi Y? Atau mungkin, Anda malah sedang berpikir untuk melakukan beberapa penyesuaian dalam peraturan kerja di perusahaan Anda agar bisa lebih efektif dan mampu menjawab tantangan zaman?

Referensi:

Don Tapscott, Grown Up Digital, Gramedia Pustaka Utama, 2009.

http://www.intel.com/content/www/us/en/legal/intel-social-media-guidelines.html

http://www.sfgate.com/bayarea/article/7-bay-firms-rank-on-commuter-list-EPA-singles-2564491.php

https://www.google.com/intl/id/about/company/

13 Tempat Kerja Yang Nggak Bikin Pengen Cepet Pulang

Top 20 Most Awesome Company Offices

http://www.businessinsider.com/3-day-weekends-every-weekend-2014-4?IR=T&utm_content=bufferb3115

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya

After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO’s officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

1 Comment

  1. yes, am Y generation 😀

Leave a Reply