Permudah Proses Infus dengan Visiovein
Dec 28, 2015
Majalah Beranda Edisi Spesial Pangan
Majalah Beranda Inovasi Edisi Pangan
Feb 16, 2016

“Bakar Hutan itu Tidak Merusak”, Ah Masa?

6621714_20150908043258

Setelah nama Indonesia menjadi terkenal luar biasa di seantero dunia karena kasus kabut asap yang menutupi sebagian Sumatera dan Kalimantan tahun lalu, bahkan hingga menyebar ke negara-negara tetangga. Harapan masyarakat Indonesia kemudian muncul ketika PT Bumi Mekar Hijau (BMH), yang merupakan anak usaha Grup Sinar Mas, kemudian menjadi tergugat kasus pembakaran Hutan. Sayangnya, masyarakat Indonesia lagi-lagi harus patah hati karena pada kenyataannya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palembang menolak gugatan ganti rugi dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Lucunya, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palembang, Parlas Nababan mengeluarkan pernyataan kontroversial dan tidak dapat diduga oleh siapapun, membakar hutan dinilai tidak merusak lahan karena masih bisa ditumbuhi tanaman. Mungkin Bapak Ketua Majelis yang terhormat ini perlu sedikit penataran dari para ahli lingkungan hidup dan kehutanan.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penghasil CO2 terbesar di dunia. Hanya berada di bawah China dan Amerika Serikat. Dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah kedua negara tersebut, maka tingginya tingkat emisi ini sebenarnya suatu hal yang “keterlaluan”, sudah “kotor-kotoran” kok hasilnya tidak ada. Yang perlu diketahui adalah, berbeda dengan negara lain yang pada umumnya emisi terbesar berasal dari sektor energy dan/atau industri, emisi terbesar di Indonesia berasal dari sektor LUCF (Land Use Change and Forestry). Sekitar 61% emisi CO2 di Indonesia dihasilkan oleh sektor AFOLU (Agriculture, Forestry, and Land use) serta lahan gambut (Boer, 2015).

Selain itu, hasil penelusuran Economist.com terkait jumlah titik api di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung mengalami trend peningkatan dan puncaknya jumlah titik api pada tahun 2015 merupakan yang paling tinggi. Di dunia Internasional sendiri, Indonesia terhitung menjadi salah satu negara yang paling rajin meratifikasi perjanjian-perjanjian terkait perubahan iklim.

Pada Coppenhagen Accord 2009, Indonesia berjanji akan menurunkan emisi hingga 26% dengan upaya sendiri dan 41% dengan bantuan asing. Melihat kondisi Indonesia yang seperti ini, wajar jika kemudian dunia internasional meragukan komitmen dan keseriusan Indonesia dalam aksi penurunan emisi. Ketidakadilan dalam kasus reduksi emisi dan segala penanggulangan terkait telah mencoreng nama Indonesia di mata dunia, perlahan namun pasti.
Gambar 1. Jumlah Titik Api Kebakaran Hutan Indonesia dari

Gambar 1. Jumlah Titik Api Kebakaran Hutan Indonesia dari Tahun ke Tahun (Sumber: Economist.com)

Lupakan sejenak tentang pandangan internasional, sekarang mari kita luruskan apakah benar membakar hutan tidak merusak lahan? Jawabannya bukan hanya lahan yang rusak, namun lebih dari itu! Pada lahan, kebakaran hutan dapat menghilangkan humus dan bahan-bahan organik tanah. Secara sederhana mungkin bisa dikatakan “tanah menjadi terkikis”, akibatnya tanah jadi lebih mudah mengalami erosi selain itu juga kandungan air tanah bisa menurun.

Untuk kasus Indonesia, kebakaran hutan di Indonesia hampir terjadi setiap tahun, bayangkan jika humus dan zat organik tanah ini kemudian terkikis berkali-kali setiap tahun karena kebakaran hutan, tentu ini akan mengurangi tingkat kesuburan tanah. Jadi memang Pak Hakim benar, lahan bisa ditanami lagi, namun kondisi tanamanan yang tumbuh tidak akan seprima sebelum terjadi kebakaran hutan dan waktu yang dibutuhkan oleh pohon untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih lama.

Sebagai gambaran, pohon Jati yang biasanya dipanen kayunya, normalnya dapat di panen setelah berusia 7 tahun, namun untuk jati dengan kualitas yang baik dengan diameter 30 cm atau lebih, pemanenan baru bisa dilakukan pada usia 12 hingga 15 tahun. Jika kondisi tanah tidak mendukung, tentu waktu yang dibutuhkan akan menjadi lebih panjang. Jika pemanenan kayu kemudian dipaksakan dengan rentang waktu yang sama, maka kualitas kayu yang dipanen tidak akan sebaik yang diharapkan. Bapak hakim mungkin lupa bahwa penanaman pohon berkayu memakan waktu yang sangat panjang, bukan seperti melempar biji kacang hijau ke atas kapas basah.

Image and video hosting by TinyPic

Gambar 2. Salah satu contoh Hutan Jati di Bangkalan, Jawa Timur (Sumber: panoramio.com)

Belum lagi jika kebakaran hutan yang terjadi sangat besar, api akan menyulut seluruh vegetasi di dalam hutan. Menghancurkan pepohonan, menghancurkan tempat tinggal hewan, membunuh berbagai hewan. Kebakaran hutan merupakan suatu “pembunuhan” terhadap vegetasi yang ada. Dampak yang paling menghawatirkan adalah punahnya suatu spesies di hutan tersebut. Bayangkan keluarga harimau Sumatera yang sudah mati-matian berjuang lari dari para pemburu pada akhirnya menyerah karena terkepung api. Belum lagi berbagai spesies pepohonan dan hewan di Indonesia yang jangan-jangan punah sebelum ditemukan dan terdata.

Yang pasti akan terjadi pula ketidakseimbangan ekologi. Jangan heran jika kita mendengar berita bencana alam yang meningkat, banjir, longsor, hingga satwa-satwa liar yang berlarian ke perumahan warga dan merusak segalanya. Hal yang sama terjadi jika kita manusia, kehilangan tempat tinggal, dan lapar dengan segala daya upaya kita akan mencari makan di tempat lain sekuat tenaga.

Jadi membakar hutan itu jelas merusak. Tapi eits! Tunggu dulu…. rupanya ada hal yang lebih merusak dari kebakaran hutan dan itu adalah: sifat egois dan tamak manusia.

Semoga kita dianugerahi Tuhan kebijaksanaan untuk merawat negeri ini dengan lebih baik, semoga!

Referensi:
Boer, Rizaldi., et al. Decarbonizing AFOLU Sector Toward Low Carbon Society in Indonesia. Presented at 21st AIM International Workshop, 13-14 November 2015, National Institute of Environmental Studies (NIES), Japan

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/SUMUT/Pd_Bkr_Hut.html

Marissa Malahayati
Marissa Malahayati
Master di Social Engineering, Environmental Economics Lab., Tokyo Institute of Technology. Sedang mengkaji lebih dalam mengenai dampak perubahan iklim terhadap perekonomian. Blogger, pecinta kucing, penyuka buku dan bunga, senang menggambar.

Leave a Reply