4 Fakta Sains yang Akan Membuat Kamu Berpikir Seribu Kali untuk Sering Mandi Setiap Hari
Jun 22, 2016
6 Strategi Inovatif Pemerintah Daerah yang Berwawasan Digital
Jun 23, 2016

Ayo Sensor, Aplikasi Inovatif Penangkal Konten Porno dari IPB

Melihat semakin banyak dan terungkapnya kasus pelecehan seksual pada perempuan dan anak yang berawal dari konten pornografi yang ada di internet, tiga mahasiswa Ilmu Komputer IPB berhasil menciptakan sebuah aplikasi sensor porno di internet dengan basis gambar dan teks.

Aplikasi yang dinamai Integrated Porn Autocensor (IPA) ini diciptakan oleh Ilham Setyabudi, Yuandri Trisaputra dan Gusti Bimo Marlawanto yang tergabung dalam satu kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Proses pembuatan aplikasi ini memakan waktu kurang lebih tiga bulan dengan dana pengembangan sebesar Rp 7.5 juta.

Ilham Setyabudi sebagai ketua kelompok mengatakan bahwa aplikasi ini berbeda dengan yang dimiliki oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menyensor website. Aplikasi ini akan menyensor semua konten porno yang berupa gambar dan teks baik dari website terkenal maupun website porno yang masih baru.

Penampakan IPA pada Chrome Extension

Penampakan IPA pada Chrome Extension

Aplikasi IPA dari Ayosensor.in ini dapat diunduh secara gratis baik melalui Google Chrome, Mozilla Firefox, maupun Opera. Setelah extension atau add-ons IPA terpasang, browser akan secara otomatis menyensor website yang memiliki konten porno yang berupa gambar dan teks.

Nantinya, teks porno akan berubah menjadi teks bintang. Kemudian gambar yang mengandung konten porno akan berubah menjadi gambar kartun anak-anak atau animasi mengaji. Pada tahap ujicoba ke 10 situs porno, aplikasi ini berhasil 82% menyensor gambar porno dan efektif menyensor 79% kata-kata porno. Walaupun masih belum sempurna 100%, aplikasi ini terus akan melakukan penyempurnaan.

Penyempurnaan akan dilakukan dengan menambahkan database bahasa dan penyempurnaan penanda gambar porno. Saat ini baru ada 199 kata dari bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa baik bahasa formal maupun gaul yang termasuk kategori porno yang telah dikumpulkan.

Aplikasi yang telah diluncurkan di awal juni ini telah diunduh oleh 3.380 pengguna di Google Chrome. Masih ada beberapa kelemahan yang ada pada aplikasi ini. Salah satunya adalah aplikasi masih belum bisa digunakan di platform berbasis android yang sekarang justru digunakan banyak orang dari anak-anak sampai dewasa.

Selain itu, inovasi ini juga masih belum dipatenkan dan perlu beberapa penyempurnaan lanjutan seperti penambahan database kata-kata porno dan bahasa agar dapat meningkatkan efektivitas sensor gambar dan teks porno pada website. (NMY)

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf
Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply