Secangkir Kopi Panas untuk Nge-charge Handphone
May 17, 2016
Sekilas Mengenal Dunia Nanoteknologi
May 19, 2016

Awas, Indonesia Siaga Kejahatan Seksual Anak!

Gerakan #SaveOurSister untuk Yuyun via Tempo.co

Gerakan #SaveOurSister untuk Yuyun via Tempo.co

Gerakan #SaveOurSister untuk Yuyun via Tempo.co

Awal bulan Mei ini, masyarakat Indonesia digemparkan dengan kasus kejahatan luar biasa yang terjadi pada seorang anak perempuan. Memang bukan sekedar kasus kejahatan biasa, ini kasus kejahatan seksual pada anak di bawah umur yang dilakukan oleh sekelompok anak laki-laki secara tak beradab. Adalah Yuyun (14), gadis kecil warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, yang menjadi korban dari kejahatan seksual oleh belasan orang anak laki-laki. Tidak hanya (maaf) diperkosa bergiliran, Yuyun juga disiksa dan dibunuh secara sadis. 

Kejadian memilukan itu terjadi pada hari Sabtu, 2 April 2016, saat itu Yuyun hendak pulang sekolah sekitar pukul 13.30 WIB. Ia pulang dengan membawa alas meja dan bendera merah putih untuk dicuci sebagai persiapan upacara bendera Senin. Jarak antara sekolah ke rumah korban sejauh 1,5 kilometer melewati kebun karet milik warga.

Saat berjalan, ia berpapasan dengan 14 orang pelaku atas nama Dedi Indra Muda (19), Tomi Wijaya (19), DA (17), Suket (19), Bobi (20), Faisal Edo (19), Zainal (23), Febriansyah Syahputra (18), Sulaiman (18), AI (18), EK (16) dan SU (16). Celakanya, sekelompok anak laki-laki tersebut sedang mabuk setelah sebelumnya minum minum tuak dan sehabis nonton video porno.

Yuyun yang melintasi daerah tersebut dicegat oleh salah satu pelaku yang merupakan kakak kelasnya. Kemudian Yuyun dipaksa dan digiring ke tempat sepi di keburn tersebut. Dan terjadilah perkosaan tragis yang menimpa Yuyun. Ia diperkosa bergiliran oleh keempat belas pelaku dan disiksa. Mengalami siksaan dan pelecehan yang bertubi-tubi membuat Yuyun tidak sadarkan diri dan akhirnya mengehembuskan nafas terakhir.

Tragisnya, Yuyun yang sudah meninggal tersebut dibuang dan dijatuhkan oleh pelaku dari ketinggian beberapa meter untuk menghilangkan jejak. Para pelaku kemudian pulang ke rumah masing-masing. Setelah beberapa hari berlalu, keluarga Yuyun dan warga setempat menemukan mayat Yuyun di semak-semak kebun dalam kondisi yang mengenaskan.

Setelah penemuan mayat Yuyun, polisi melakukan pencarian pelaku. Ironisnya para pelaku turut berpura-pura membantu pencarian dan bahkan membantu proses pemakaman Yuyun. Hingga akhirnya tertangkaplah keempat belas pelaku. Dari hasil interogasi pelaku, polisi menemukan bahwa para pelaku melakukan perkosaan terhadap Yuyun karena pengaruh minuman keras dan video porno.

Korban yang melintasi daerah saat itu langsung menjadi sasaran empuk para pelaku. Yang mengejutkan, menurut polisi, para pelaku tidak terlihat merasa bersalah setelah melakukan tindakan kejahatan pada Yuyun. Meskipun mengatakan menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya, namun para pelaku masih dapat bersenda gurau dan bersikap tenang selama penangkapan dan rekonstruksi kejadian.

Atas perbuatannya, para pelaku dituntu 10 tahun penjara yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum di Persidangan Pengadilan Negeri Curup Rejang Lebong. Namun hukuman ini dianggap sangat tidak adil dan tidak dapat diterima oleh keluarga Yuyun. Keluarga berharap para terdakwa itu dihukum seumur hidup atau diberikan hukuman mati. Dalam amar putusan yang dibacakan ketua Majelis Hakim selama 90 menit itu, mereka dijatuhi hukuman penjara 10 tahun dan hukuman tambahan atau subsider berupa pembinaan sosial selama 6 bulan.

Setelah kasus ini mencuat ke publik, muncul sikap dukungan dan keprihatinan dari masyarakat Indonesia terhadap kasus Yuyun. Bentuk keprihatinan ini diwujudkan dalam gerakan sosial seperti pembuatan petisi, kampanye sosial di media sosial, dan aksi langsung. Adanya kasus Yuyun semakin membuka mata masyarakat Indonesia bahwa kejahatan seksual ada dimana-mana dan bisa mengancam siapapun.

Ironisnya lagi, peristiwa itu terjadi karena pengaruh alkohol dan video porno. Ini artinya kejahatan ini bukan kejadian tunggal, namun rangkaian dari berbagai penyebab yang seolah menjadi mata rantai kejahatan. Tidak bisa semata-mata menyalahkan para pelaku yang terdorong nafsu untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Kejahatan ini adalah akumulasi dari berbagai kondisi prihatin yang harus menjadi perhatian kita semua.

Keprihatinan yang pertama harus dicermati dari kondisi para pelaku. Diantara para pelaku, ada yang mengalami putus sekolah. Kondisi putus sekolah dan tidak memiliki kegiatan apapun menyebabkan pelaku terjerumus pada kegiatan negatif seperti minum minuman keras dan menonton video porno. Kondisi putus sekolah ini menyebabkan anak-anak kurang mendapatkan pendidikan penting mengenai agama dan moral. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembinaan keilmuan, kapasitas, karakter, dan moral pada akhirnya tidak mampu membentuk mereka.

Keprihatinan yang kedua yaitu minimnya pengawasan orang tua yang juga menjadi faktor penting. Peran orang tua yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing bagi anak tidak berjalan. Anak-anak tersebut dibiarkan bergaul begitu saja.

Orang tua tidak mengarahkan dan membimbing anak mengenai bahaya pornografi. Dari pengakuan para pelaku, mereka sering menonton video porno di rumah ketika orang tua mereka sedang pergi. Mereka juga dapat dengan mudah mengakses video tersebut dari telepon genggam. Pergaulan yang permisif disertai dengan minimnya pengawasan dan bimbingan orang tua menyebabkan anak-anak semakin tidak terkendali.

Keprihatinan yang ketiga yaitu dampak minuman keras yang secara nyata merusak akal sehat dan moral. Bukan hanya dampak minuman kerasnya saja yang diamati, tetapi sistem lingkungan sekitar yang terlalu permisif terhadap miras. Dari kasus Yuyun ini terbukti bahwa lingkungan di sekitar tidak memberikan pengawasan yang ketat terhadap anak-anak yang meminum minuman keras.

Bagaimana mungkin anak-anak di bawah umur bisa memperoleh tuak dengan begitu mudahnya? Tentu adanya rasa permisif dalam masyarakat yang mengacuhkan dampak miras bagi anak-anak sehingga dengan mudahnya membiarkan anak-anak membeli miras. Akibatnya, anak-anak di bawah umur menjadi terbiasa dan merasa tidak bersalah telah meminum miras.

Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), Fahira Idris, menegaskan kejadian itu akan terus berulang di Indonesia, selama tidak ada larangan terhadap produksi, distribusi dan konsumsi minuman keras. Ia menilai pengaruh miras memang menghilangkan akal sehat dan nurani sehingga peristiwa sekeji itu bisa terjadi.

Logikanya, anak di bawah umur secara akal sehat tidak akan memiliki pemikiran dan keberanian sekeji itu kalau bukan karena pengaruh minuman keras yang dikonsumsi. Pernyataan ini semakin diperkuat oleh hasil penelitian dari Pusat Kajian Kriminologi UI. Penelitan Pusat Kajian Kriminologi UI dan Genam melakukan penelitian pada tahun 2013 terhadap 43 responden narapidana anak, dan menemukan 15 orang diantaranya meminum alkohol saat melakukan pembunuhan.

Selain itu, cara mendapatkan miras yang begitu mudahnya di Indonesia juga menjadi masalah penting yang harus diperhatikan. Dampak minuman keras sudah terbukti menyebabkan efek negatif pada berbagai hal. Maka, jika peredaran minuman keras dan pengawasan ketat terhadap miras tidak dilakukan, masalah yang sama akan terus berulang.

Keprihatinan diatas menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah, LSM, dan masyarakat Indonesia. Jika kita membayangkan Indonesia di masa yang akan datang dibangun oleh generasi muda yang sudah terpapar video porno, minuman keras, dan pergaulan bebas, bagaimana jadinya Indonesia kedepan? Tidak bisa kita mengharapkan Indonesia menjadi negara yang maju dan setara dengan negara-negara maju lainnya. Alih-alih ingin membangun Indonesia dengan lebih baik, yang ada justru fokus pada pembenahan internal karena generasi mudanya tidak memiliki mental, karakter, dan moral yang berkualitas.

Padahal sumber daya manusia yang bermutu merupakan faktor penting dalam pembangunan di era globalisasi saat ini. Pengalaman di banyak negara menunjukkan, sumber daya manusia yang bermutu lebih penting dari pada sumber daya alam yang melimpah. Akan tetapi, dengan adanya kasus Yuyun ini dan kasus-kasus kejahatan seksual lainnya yang tidak mencuat di publik, menjadi cerminan yang kurang menggembirakan.

Indonesia baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei kemarin, namun setelah adanya kasus ini seakan menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia bahwa pendidikan di Indonesia masih memiliki PR banyak untuk membina karakter dan moral yang baik bagi generasi mudanya. Pendidikan idealnya merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik.

Hal ini dapat dilihat dari filosofi pendidikan yang intinya untuk mengaktualisasikan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer, yakni: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan dan ketakwaan, etika dan estetika, serta akhlak mulia dan budi pekerti luhur; (2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali ilmu pengetahuan dan mengembangkan serta menguasai teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis dan kecakapan praktis (Depdiknas, 2005).

Sehingga bukan hanya masalah pembangunan infrastruktur sekolah dan penyediaan fasilitas saja yang harus diperhatikan dalam pendidikan. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu mengubah manusia Indonesia menjadi lebih bermoral dan bermartabat.

Adapun ketiga keprihatinan yang dijelaskan sebelumnya harus menjadi catatan penting bagi semua pihak. Jangan hanya menyalahkan pelaku dan menyalahkan korban. Ini adalah tugas dan tanggung jawab kita semua untuk membenahinya.

Jangan ada lagi Yuyun lain yang menjadi korban. Kerjasama dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi emas Indonesia. Dimulai dari lingkup keluarga, lingkungan sekitar, sekolah, hingga ke tingkat lainnya yang lebih luas. Perbaikan ini harus dilakukan secara sistemik, bukan hanya parsial. Indonesia yang bebas dari kejahatan seksual anak adalah pekerjaan kita bersama.

 

Daftar Referensi:

http://regional.liputan6.com/read/2499720/kronologi-kasus-kematian-yuyun-di-tangan-14-abg-bengkulu

http://regional.liputan6.com/read/2503203/7-terdakwa-abg-kasus-yuyun-divonis-10-tahun-penjara

http://pustaka.ut.ac.id/pdfartikel/TIG601.pdf

http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1106130305439/617331-1110769011447/810296-1110769073153/education.pdf

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/05/03/o6lm43384-kasus-yuyun-akan-terus-berulang-selama-miras-tak-dilarang

Syadza Alifa
Syadza Alifa

Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply