Early Warning System Dalam Usaha Forest Genetic Conservation Melalui Teknik Biologi Molekuler
Dec 23, 2013
Aplikasi Tambak Silvofishery untuk Keselarasan Ekologi Perairan Tambak
Dec 26, 2013

Aplikasi Bioflok untuk Perikanan yang Berkelanjutan

Kebutuhan gizi yang semakin meningkat menuntut hasil produksi perikanan budidaya yang tinggi pula dengan menerapkan sistem budidaya intensif. Sistem budidaya intensif berarti melakukan pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi, pemberian pakan berkualitas atau berprotein tinggi serta manajemen kualitas air yang baik (Ebeling et al., 2006).

Peningkatan jumlah pakan tinggi protein pada budidaya intensif dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan budidaya. Menurut Avnimelech dan Ritvo (2003), dari total pakan yang diberikan hanya sekitar 20-25% protein dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ikan, sisanya akan diekskresikan dalam bentuk amonia dan dibuang dalam feses yang kemudian akan terdekomposisi menjadi produk yang sama. Dengan demikian, semakin tinggi input pakan semakin tinggi pula akumulasi limbah amonia dalam media budidaya. Salah satu solusi untuk mengatasi penurunan kualitas air adalah dengan penerapan teknologi bioflok. 

fish gettyimages

Sumber ilustrasi: gettyimages.com

Teknologi bioflok merupakan teknologi budidaya yang didasarkan pada prinsip asimilasi nitrogen anorganik (amonia, nitrit dan nitrat) oleh komunitas mikroba (bakteri heterotrof) dalam media budidaya yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh organisme budidaya sebagai sumber makanan (De Schryver et al., 2008). Bioflok merupakan suatu agregat yang tersusun atas bakteri pembentuk flok, bakteri filamen, mikroalga  (fitoplankton), protozoa, bahan organik serta pemakan bakteri (Hargreaves, 2006;  Avnimelech, 2007) dan dapat mencapai ukuran hingga 1000 µm (De Schryver et al.,  2008).

Konversi akumulasi nitrogen anorganik menjadi biomasa bakteri heterotrof dapat dikontrol melalui penambahan bahan berkarbon seperti molase dengan C/N rasio tertentu. Molase merupakan limbah pabrik gula pasir yang berbentuk cair, berwarna coklat serta mengandung senyawa nitrogen, trace element dan sukrosa dengan kandungan total karbon mencapai 37% (Suastuti, 1998). Pengontrolan C/N rasio  perairan melalui penambahan molase sebagai sumber karbon dapat mengurangi nitrogen anorganik perairan melalui peningkatan pertumbuhan bakteri heterotrof. 

Adanya pemanfaatan nitrogen anorganik oleh bakteri heterotrof mencegah terjadinya akumulasi nitrogen anorganik pada kolam budidaya yang dapat menurunkan  kualitas perairan. Penambahan sumber karbon ke dalam air menyebabkan nitrogen  dimanfaatkan oleh bakteri heterotrof yang selanjutnya akan mensintesis protein dan sel baru (protein sel tunggal). Bioflok kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga  dapat mengurangi  kebutuhan  protein pakan (Avnimelech, 1999). 

Ikan dan krustasea hanya mengasimilasi 20-25% protein dalam pakan yang  diberikan, sisanya akan diekskresikan ke dalam air dalam bentuk nitrogen anorganik (Avnimelech dan Ritvo, 2003). Adanya akumulasi nitrogen anorganik, terutama  amonia  sebagai hasil metabolisme ikan serta proses dekomposisi dari pakan tak termakan  (uneaten feed) dan feses dalam kolam budidaya merupakan salah satu masalah utama dalam sistem budidaya intensif. 

Teknologi bioflok telah diterapkan pada budidaya ikan dan udang. Hasil penelitian Avnimelech (2007) menunjukkan bahwa penambahan pati pada kolam tilapia  berhasil meningkatkan pertumbuhan spesifik ikan serta menurunkan tingkat konsumsi  pakan. Sementara hasil penelitian Hari et al. (2004) memperlihatkan bahwa penambahan tepung tapioka pada budidaya udang windu berhasil menurunkan konsentrasi nitrogen anorganik pada kolam budidaya. Pada penelitian Maryam (2010), penambahan bioflok berpengaruh pada pertumbuhan nila merah.

Penerapan teknologi bioflok dalam budidaya superintensif pada kultivan budidaya diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas serta pengolahan limbah akuakultur sehingga dapat tercipta akuakultur yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Selain itu, dapat mengurangi pencemaran di lingkungan perairan.

Siti Nurjanah

Mahasiswa Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

        

Referensi:

Avnimelech Y. 2007. Feeding with microbial flocs by tilapia in minimal discharge bio-flocs technology ponds. Aquaculture 264, 140–147.

___________. 1999. Carbon/nitrogen ratio as a control element in aquaculture system. Aquaculture 176, 227-235.

Avnimelech Y., Ritvo G. 2003. Shrimp and fish pond soils: processes andmanagement. Aquaculture 220, 549–567.

De Schryver P., Crab R., Defoirdt T., Boon N., Verstraete W. 2008. The basics of bio-flocs  technology: The added value for aquaculture. Aquaculture 277, 125-137.

Ebeling J. M., Timmons M. B., Bisogni J. J. 2006. Engineering analysis of the stoichiometry of photoautotrophic, autotrophic and heterotrophic removal of ammonia–nitrogen in aquaculture systems. Aquaculture 257, 346-358.

Hari B., Kurup B. M., Varghese J. T., Schrama J. W., Verdegem M. C. J. 2004. Effects of carbohydrate addition on production in extensive shrimp culture systems. Aquaculture 241, 179–194

Hargreaves, J. A., 2006. Photosynthetic suspended-growth systems in aquaculture. Aquacultural Engineering 34, 344–363.

Maryam, S. 2010. Budidaya Super Intensif Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Dengan teknologi Bioflok: Profil Kualitas Air, Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/59511. Diakses 15 Desember 2013.

Suastuti N. 1998. Pemanfaatan hasil samping industri pertanian (molase dan limbah cair  tahu) sebagai sumber karbon dan nitrogen untuk produksi biosurfaktan oleh Bacillus sp. galur komersial dan lokal. [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 104 hal. 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

2 Comments

  1. Saya tertarik dengan ulasan di atas, kebetulan saya penghobi Ikan. Di rumah saya ada beberapa kolam, 2 kolam saya isi ikan nila (baik hitam ataupun merah), dan 2 kolam lagi saya isi ikan Gurame. selama ini saya memelihara dengan alakadarnya karena tidak punya background keilmuan di bidang perkanan. sehingga yang saya lakukan pada ikan saya ya cuma ngasih makan (dgn pelet) lalu nguras kolam kalo sudah tampak berlumut dan kotor. saya tidak tahu itu benar atau salah.
    suatu ketika pernah ikan2 saya pada mati, dan saat itu saya dapati ternyata ada endapan dari sisa makanan di dasar kolam. barangkali itu yg dimaksud sumber amonia ya?
    nha kalao boleh tahu, bio flok itu bentuknya seperti apa dan bisa di beli di mana ya?
    Terimakasih sebelumnya…

  2. widodo sukardi says:

    Pak Zun,boleh dibantu?ya betul endapan itu sumber amonia dan nitrat.Itu bisa dinetralisir dng bacteri ,di sini saya pakai bacterinya EM4 yg warna pink.Air endapan sesudahnya disedot pakai pompa digunakan nyiram tanaman(bagus lo setara pupuk) atau dimasukan ke pot tanaman yg berfungsisebagai filter air kolam.konsep ini lazimnya dinamakan aquaponic…cmiw

Leave a Reply