Sahabat Miliki Gen Serupa
Jul 17, 2014
How Remote Sensing could utilised to “feed” 9 billion people by 2050?
Jul 18, 2014

Apa Kabar Swasembada Daging 2014?

Slide1

Sejak Ramadhan hingga lebaran mendatang, kebutuhan daging sapi akan terus meningkat. Namun, menurut Direktorat Jenderal Perdagangan RI, masyarakat tak perlu khawatir karena pasokan daging sapi akan aman saat bulan puasa hingga Idul Fitri. Pasokan daging impor, baik sapi bakalan, sapi siap potong hingga sapi beku (frozen) siap mencukupi besarnya kebutuhan daging masyarakat. Impor daging sapi dikatakan akan terus berjalan. Tidak ada kuota. Importir diberikan keleluasaan untuk memasok. Lantas, bagaimana perwujudan rencana swasembada daging di tahun 2014?

Perwujudan swasembada daging dan wacana pembentukan kementerian peternakan agar pemerintah lebih fokus dalam menangani masalah ternak merupakan dua isu yang dikawal oleh Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI).

ISMAPETI merupakan ikatan organisasi yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa pengurus BEM/HMJ Peternakan se-Indonesia. Sejak April 2013 hingga Juli 2014 ISMAPETI konsisten mengawal rencana swasembada daging yang diajukan pemerintah. ISMAPETI yang merupakan mitra pendukung Gerakan Pangan Lokal MITI berharap agar rencana Swasembada Daging bukan sekadar komoditas politik yang dijanjikan tiap lima tahun sekali.

Swasembada daging pada kenyataannya belum dapat diwujudkan, bukan karena naskah kebijakannya tidak bagus namun karena minimnya komitmen dari pemerintah untuk dapat mewujudkannya. Hingga kini, volume impor masih terus meningkat hingga hampir 720 ribu ekor sapi per tahun. Padahal, sapi hanyalah satu dari sekian komoditas ternak yang dapat dikembangkan oleh Indonesia. Kebutuhan daging ayam dan domba dalam negeri pun masih belum dapat dipenuhi dari hasil ternak masyarakat sendiri. Kecenderungan untuk terus menerus impor akan lebih menguntungkan negara eksportir sedangkan Indonesia kian merugi karena semakin jauh dari kemandirian dan kedaulatan pangan hewani.

Berbicara mengenai swasembada, nampaknya negeri ini masih belum siap untuk dapat merealisasikan wacana yang telah digadang-gadang sekian tahun lamanya tersebut. Terwujudnya swasembada daging masih dibenturkan oleh rumitnya mekanisme pasar dan regulasinya. Dalam kebijakan impor daging, tak hanya kementerian pertanian yang berperan melainkan juga Kemeterian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea Cukai, dsbg.

[ads1]

Merujuk pada buku “Menggagas Swasembada Berkelanjutan”, setidaknya terdapat delapan poin yang harus diperhatikan dalam upaya mewujudkan Swasembada Daging. Pertama, kebijakan pasar, terutama dalam penawaran daging impor. Jika penawaran daging dalam negeri saja belum dapat mencukupi kebutuhan, mustahil swasembada bisa terwujud. Kedua, kebijakan tarif impor. Konon, tariff impor untuk beberapa produk pangan adalah 0%. Jika demikian, jelas saja para eksportir berlomba memasok komoditasnya ke Indonesia. Ketiga, perbaikan pembibitan dan pemuliabiakan sapi lokal, terutama yang berkaitan dengan plasma nutfah sapi Indonesia. Keempat, pemurnian sapi lokal. Jenis sapi asli Indonesia contohnya adalah sapi Bali yang sudah sepatutnya diternakkan dengan baik. Sapi Bali ialah sapi terbaik dunia dengan bobot yang hampir mencapai 600 kg. Namun sekarang sapi Bali semakin sulit ditemukan karena crossing yang tidak terprogram. Kelima, pengembangan bangsa sapi komersil terutama sapi PO melalui ICCB Program. Keenam, penguatan ketahanan pakan. Ketujuh, substitusi daging sapi. Hal ini sangat penting engingat konsumsi daging yang begitu besar, padahal hasil ternak Indonesia tak hanya daging sapi. Kedelapan, ISMAPETI mengusulkan pembentukan Kementerian Peternakan. Usul tersebut dimaksudkan agar pemerintah fokus dalam menangani permasalahan ternak di Indonesia.

Selebihnya, memajukan dunia peternakan bukan hanya tugas pemerintah semata. Mahasiswa juga dapat turut andil melalui beragam cara. Mahasiswa dapat melakukan kampanye gizi untuk mengedukasi publik tentang pentingnya konsumsi protein hewani, terutama daging. Mahasiswa juga dapat melakukan pengabdian masyarakat. Ilmu yang dimiliki mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mendampingi peternakan rakyat di pedesaan. Mahasiswa Membangun Desa (MMD) merupakan salah sat program ISMAPETI di bidang pengabdian masyarakat. Ilmu yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah juga dapat dipergunakan untuk memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah di bidang peternakan. Mahasiswa dapat membuat revisi cetak biru kebijakan maupun policy brief untuk mendorong pemerintah dalam mengambil kebijakan tertentu. Mahsiswa jug adapat melakukan audiensi dengan pemegang kebijakan, seperti yang dilakukan ISMAPETI dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di tahun 2013 dan yang akan dilakukan ISMAPETI dengan Komisi IV DPR RI.

Di atas itu semua, mahasiswa tak perlu malu menjadi peternak pasca kelulusannya dari perkuliahan. Harapan akan masa depan peternakan Indonesia ada di tangan SDM-SDM unggul bidang peternakan. Setidaknya, jika tidak menjadi peternak, kelak para mahasiswa peternakan dapat menjadi pembuat kebijakan yang memihak peternak. Sebagaimana halnya yang dikatakan oleh Lasley (1985) bahwa “Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin…dan negeri yang miskin ternak, tidak pernah kaya”, kejayaan dunia peternakan harus diupayakan bersama oleh tiap elemen bangsa, demi mencapai kejayaan negeri tercinta.(UA)

Tulisan ini merupakan intisari dari #TwitalkGPL Sesi I Eps 4, @MITI_NEWS  bersama @ismapeti. #TwitalkGPL merupakan talkshow online via twitter antara MITI dan mitra-mitra pendukung Gerakan Pangan Lokal. Chirpstory dari #TwitalkGPL Sesi I Eps 3 dapat dilihat di: http://chirpstory.com/li/217884

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

Leave a Reply