Smart Tumbler: Inovasi Mahasiswa UGM
Jul 23, 2014
Mahasiswa Unnes Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Alternatif
Jul 25, 2014

Analisis Model Berlian Porter Komoditas Umbi-Umbian di Indonesia

NCI5_POTATOPangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi sumberdaya manusia suatu bangsa. Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu (Saliem, dkk; 2002).

Pangan sebagai bagian dari hak azasi manusia (HAM) mengandung arti bahwa negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pangan bagi warganya. Menurut Suryana (2004) pemenuhan kebutuhan pangan dalam konteks ketahanan pangan merupakan pilar bagi pembentukan sumberdaya manusia berkualitas yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tataran global.

Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah mencapai 237,641,326 juta jiwa. Pertambahan penduduk meningkatkan kebutuhan pangan sekaligus juga menurunkan luas dan kemampuan lahan untuk menyediakan pangan dikarenakan penduduk yang demikian banyak akan menggunakan lahan untuk perumahan, perkantoran, industri dan fasilitas lain yang akan mengurangi ketersediaan sumber daya lahan pertanian untuk produksi pangan.

Dengan asumsi laju populasi penduduk seperti saat ini 1.49% dan konsumsi beras tetap, yaitu 125.3 kg/kapita/tahun, dan peningkatan produktivitas padi stabil (1.3% per tahun) diketahui bahwa meskipun terjadi peningkatan produktivitas maka kapasitas produksi padi tetap tidak dapat mencukupi kebutuhan padi untuk menghasilkan beras. Asumsi kedua, dengan laju pertumbuhan penduduk meningkat 1.7%, konsumsi tetap 1.25.3 kg/kapita/ tahun, dan terjadi penurunan produktivitas padi sebesar 1.04% per tahun diketahui bahwa kenaikan populasi dan konsumsi semakin mengakibatkan neraca pangan negatif, akibat meningkatnya jumlah penduduk yang begitu pesat dan konsumsi per kapita yang tinggi. Asumsi ketiga, dengan laju populasi turun menjadi 1.3% dan konsumsi per kapita tetap 125.3 kg/tahun, dan terjadi peningkatan produktivitas padi menjadi 1.56% per tahun menunjukkan bahwa penurunan pertumbuhan penduduk bila disertai dengan penurunan konsumsi per kapita, kebutuhan pangan dapat repenuhi. Sehingga, upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan perlu dilakukan dengan mengendalikan pertumbuhan penduduk, meningkatkan pendapatan per kapita dan melakukan diversifikasi pangan.

Selama ini masih terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan diversifikasi tersebut. Permasalahan strategis dalam pengembangan diversifikasi pangan, yaitu: i) jumlah penduduk yang besar membutuhkan konsumsi beras yang besar, ii) kebijakan pengembangan pangan terfokus beras, iii) pola konsumsi pangan masyarakat masih belum beragam, iv) konsumsi pangan hewani masih di bawah anjuran, v) beberapa daerah masih mengalami kerawanan pangan secara berulang pada musim paceklik dan kerawanan mendadak di daerah yang terkena bencana, dan vi) penerapan teknologi produksi dan teknologi pengolahan pangan lokal di masyarakat tidak mampu mengimbangi pangan olahan asal impor yang membanjiri pasar. Kebijakan pengembangan pangan berfokus beras dapat mengurangi penggalian dan pemanfaatan potensi sumber-sumber pangan lain dan mempengaruhi pengembangan usaha penyediaan bahan pangan lain. Sementara itu, pola konsumsi pangan masyarakat yang masih belum beragam dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dan ekonomi. Faktor sosial budaya meliputi: informasi, pengetahuan, kebiasaan, kelembagaan maupun budaya lokal yang spesifik. Sedangkan faktor ekonomi  meliputi: perdagangan, tingkat pendapatan rendah dan harga pangan cenderung naik.

Salah satu bahan pangan yang jarang dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk konsumsi sehari-hari adalah umbi-umbian. Pada tahun 2013, konsumsinya mencapai 0,29 gram per kapita, sedangkan jauh jika dibandingkan dengan konsumsi padi-padian yang mencapai 20,4 gram per kapita. Padahal produksi umbi-umbian Indonesia sangatlah tinggi. Kebijakan diversifikasi agaknya masih lemah implementasinya di masyarakat. Hal ini juga diperparah dengan fakta bahwa memang konsumsi padi-padian di Indonesia menurut setiap tahunnya walaupun tidak signifikan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika pemerintah malah menyediakan supply padi-padian yang sangat besar. Akan lebih bijak jika pemerintah memang ingin mengurangi konsumsi pangan bahan padipadian, supply-nya juga harus dikurangi agar permintaan akan bahan makanan ini tidak tinggi setiap tahunnnya.

Analisis Model Berlian Porter merupakan salah satu alat analisis untuk menilai daya saing komoditi umbi-umbian Indonesia di pasar internasional. Teori ini membantu dan menganalisis faktor-faktor internal serta eksternal dalam industri pengusahaan umbi-umbian Indonesia. Menurut teori ini, terdapat empat kondisi faktor penentu daya saing internasional, yaitu kondisi faktor sumberdaya, kondisi permintaan, eksistensi industri terkait dan pendukung, kondisi struktur, persaingan dan strategi perusahaan dalam negeri. Sebagai tambahan terdapat dua variable luar yaitu peranan pemerintah dan peluang.

bagan berlian oke

Kondisi faktor merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap tingkat daya saing suatu komoditi yang diperdagangkan. Dalam ruang lingkup nasional, kondisi faktor dibagi lagi menjadi 5 kriteria yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya IPTEK, sumberdaya modal dan sumberdaya infrastruktur. Dalam kenyataannya, Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya terutama untuk sumberdaya alam hayati. Antara tahun 2001-2010 Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir utama umbi-umbian, terutama ubi jalar di dunia. Dalam hal sumberdaya manusia, jumlah petani pada subsektor tanaman pangan (umbi-umbian) sangatlah banyak namun belum sepenuhnya ditunjang dengan kualitas sumberdaya manusia yang baik. Dalam hal sumberdaya IPTEK, Indonesia telah memiliki banyak varietas-varietas unggul umbi-umbian dan proses pasca panennya pun sudah mulai berkembang dengan baik. Namun usaha budidaya umbi-umbian masih banyak yang berskala kecil sehingga perbankan kurang berminat untuk memberikan bantuan pendanaan. Dalam hal infrastruktur, sebenarnya teknologi modern sudah tersedia sejak lama guna mengembangkan komoditas ini namun petani tidak mampu menjangkaunya sehingga banyak dari mereka yang memilih untuk menjual umbi-umbian dalam bentuk raw material. Jika pemerintah bercita-cita untuk mengurangi ketergantungan akan beras, maka pembenahan akan permodalan dan jangkauan petani akan teknologi harus diatasi terlebih dahulu.

Kondisi permintaan juga memiliki peran vital dalam mengembangkan komositas umbi-umbian di Indonesia. Selama ini permintaan domestik maupun luar negeri terhadap ketersediaan umbi-umbian di Indonesia cenderung fluktuatif, tidak seperti halnya pada beras. Tak hanya itu, umbi-umbian cenderung lebih diorientasikan untuk ekspor daripada konsumsi domestik. Ini tentu sangat berseberangan dengan cita-cita diversifikasi yang dicanankan oleh kementerian pertanian. Guna mengurangi konsumsi beras, permintaan domestik akan umbiumbian harus ditingkatkan.

Faktor lain yang sangat menentukan keunggulan umbi nasional adalah keberadaan industri terkait dan mendukung daya saing komoditas tersebut di pasar internasional yang bersifat kompetitif. Industri yang terkait dan industri pendukung produksi umbi antara lain pengadaan bibit unggul dan sarana prasarana produksiserta industri pengolahan. Namun, dalam kenyataanya peran industri tersebut dalam mendukung pengusahaan umbi di Indonesia masih kurang terutama dalam sektor industri pengolahan.

[ads1]

Kondisi persaingan perdagangan umbi-umbian di dunia cukup menantang karena para eksportir senantiasa berusaha meningkatkan kualitas umbi-umbian mereka sehingga dapat merebut pasar dari para pesaingnya. Mengingat akan fluktuasi permintaan umbi-umbian di pasar internasional, alangkah lebih baik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk berfokus pada upaya peningkatan upaya permintaan umbi-umbian secara domestik.

Pemerintah memegang peranan penting bagi perdagangan umbi Indonesia di pasar internasional. Peran yang dilakukan pemerintah tentunya akan menjadi peluang atau bisa juga penghambat. Peran serta pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan motivator pengawasan perekonomian untuk memajukan komoditas ubi jalar nasional sangatdiharapkan. Persaingan global yang dihadapi saat ini membutuhkan pemerintahan yang kuat untuk pengembangan ekonomi domestik. Peran pemerintah dalam peningkatan umbi nasional saat ini sudah cukup baik.

Peluang komoditi umbi di Indonesia sangat besar mengingat pemerintah sudah mulai menerapkan program diversifikasi pangan, terlebih akan keberadaan pangan lokal sebagai alternatif konsumsi bahan pangan bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, peran kesempatan yang berada pada ruang lingkup komoditas umbi untuk meningkatkan daya saing yaitu era perdagangan bebas. Era perdagangan bebas membuat hampir seluruh bentuk perdagangan tidak mempunyai batas. Setiap negara dapat masuk ke negara lain dan membuka usaha atau melakukan kerjasama. Era ini dapat membuat hambatan perdagangan menjadi berkurang, hal ini merupakan peluang untuk komoditas umbi agar dapat diekspor ke negara lain. Namun, tidak semua negara akan melonggarkan peraturan terutama negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa yang selama ini sangat ketat dengan berbagai peraturannya. Melihat hambatan di atas tentu peluang untuk mengganti konsumsi bahan pangan domestik dari beras menjadi ubi akan jauh lebih memudahkan pemasaran ubi secara nasional, apalagi jika dibandingkan dengan diekspor dalam bentuk ubi segar.

Dari hasil analisis yang telah dilakukan mengenai analisis daya saing komoditi ubi Indonesia di pasar internasional, maka dapat diambil kesimpulan kondisi internal komoditi ubi jalar Indonesia memiliki keunggulan kompetitif pada faktor sumberdaya alam dengan tingkat produktivitas ubi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada faktor sumberdaya manusia, ketersediaan dan peran sumberdaya manusianya cukup mendukung tetapi terdapat kekurangan dalam hal pemanfaatan dan penerapan IPTEK yang belum maksimal. Selain itu, kondisi infrastruktur belum sepenuhnya memadai terutama sarana dan prasarana transportasi yang kurang mendukung. Kekurangan juga terdapat pada kondisi permodalan yang terbatas yang dapat dilihat dari masih kurangnya peran lembaga permodalan yang maumendukung pengembangan pengusahaan ubi. Dari sisi permintaan, komoditi ubi Indonesia dapat memenuhi kebutuhan domestik dan konsumsi luar negeri. Komoditi ubi Indonesia masih mempunyai kelemahan dari sisi industri terkait dan pendukung yang ditandai dengan belum majunya industri olahan ubi. Kondisi eksternal komoditas ubi yang memiliki keunggulan kompetitif antara lain peranan pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan mengenai penyediaan input faktor produksi, pemasaran, dan perdagangan ubi.

DAFTAR PUSTAKA

Saliem, H.P., M. Ariani, Y. Marisa dan T.B. Purwantini. 2002. Analisis Kerawanan Pangan Wilayah Dalam Perspektif Desentralisasi Pembangunan. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Suryana, A. 2004. Ketahanan Pangan di Indonesia. Makalah pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Jakarta, 17-19 Mei. LIPI.

Putra Agung Prabowo
Putra Agung Prabowo
Putra Agung Prabowo, mahasiswa Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.

Leave a Reply