Ecodoe: Inovasi Tapestry Bulu Domba Lokal yang Wangi
Oct 14, 2014
Tanivolusi: Menuju Era Pertanian Kreatif
Oct 21, 2014

Anak Muda dan Fenomena E-Commerce di Indonesia: Antara Kewirausahaan dan Konsumerisme

Perkembangan-Bisnis-Dengan-Toko-Online-21Pembangunan ekonomi Indonesia kontemporer berkembang cukup pesat meskipun belum optimal karena masih banyaknya tantangan dan hambatan yang belum diselesaikan oleh pemerintah, kalangan usaha, dan masyarakat. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh laju globalisasi yang diwarnai oleh revolusi teknologi komunikasi dan informasi terutama penggunaan internet sehingga mengharuskan berbagai aktivitas ekonomi saling terhubung antar pihak dan antar lokasi.[1] Hal ini harus dicermati serius agar masyarakat mampu mendapat dampak positif sehingga kemakmuran dan kesejahteraan sosial dapat lebih ditingkatkan.

Salah satu pilar ekonomi nasional yang kini menjadi fenomena utama adalah e-commerce atau aktivitas perdagangan melalui dunia maya dimana tingkat persentase pertumbuhannya mencapai yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara bahkan dunia.[2] Menurut analisis para pakar ekonomi, potensi e-commerce sesungguhnya sangatlah besar mengingat kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan dimana penduduk akan lebih mudah mengakses pasar yang selama ini tak pernah terjangkau karena keterbatasan sarana dan prasarana transportasi. Maka itu, tak heran jika salah satu hambatan yang paling utama dan sering dikeluhkan oleh para investor dan pebisnis di negeri ini adalah proses distribusi dan logistik yang sangat tidak efisien (inefficient) dan berbiaya mahal (high-cost) baik itu melalui darat, laut, dan udara.[3] Jika permasalahan ini dapat disolusikan pemerintah secara cepat, tepat dan akurat, tidaklah mustahil bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mampu melebihi 8% pada tahun-tahun mendatang.

Ekonomi tanpa generasi muda ialah suatu ketidakmungkinan seumpama burung tanpa sayap. Hal ini dikarenakan ekonomi akan selalu membutuhkan anak muda sebagai tenaga kerja yang produktif sekaligus juga aktor pasar yang konsumtif. Dimana generasi muda hadir, disitulah terletak [potensi] pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Fakta menunjukkan bahwa Eropa dan Jepang dengan populasi penduduknya yang semakin menua ternyata semakin stagnan bahkan mengalami kemunduran dalam hal pertumbuhan ekonomi dibandingkan Asia dan Afrika dengan populasi muda yang sangat besar dimana pertumbuhan ekonominya relatif semakin tinggi. Namun yang menjadi isu utama saat ini adalah bagaimana memberdayakan pemuda sebagai penggerak utama perekonomian dunia secara optimal dan berkelanjutan.

10-15-2014 9-59-26 AM

Sebagai negara yang mengalami bonus demografi yakni populasi anak muda yang melimpah, Indonesia harus memberdayakan generasi mudanya untuk kegiatan produktif terutama bagi perekonomian. Dilema yang dihadapi sekarang adalah bagaimana pemuda menempatkan dirinya dalam pembangunan ekonomi apakah berkontribusi dalam kewirausahaan (entrepreneurship) ataukah justru terbelenggu hanya dalam kebiasaan konsumtif (consumerism). Kedua hal tersebut memang bagian dari siklus ekonomi namun energi dan inovasi yang secara dominan dimiliki pemuda seharusnya dimanfaatkan untuk produktivitas sehingga tren paradigma pembangunan akan berfokus pada peningkatan daya saing (competitiveness) dan pengembangan bisnis (business development). Dalam konteks ini, pemuda seharusnya menjadi subjek dan bukan objek sehingga pembangunan akan jauh lebih positif, dinamis, dan berprospek cerah. Masih banyak anak muda yang lebih rela membuang uang demi membiayai kegiatan konsumtif untuk kepentingan sesaat dan bukan kegiatan produktif yang akan berperan sebagai investasi di masa depan padahal negara ini masih membutuhkan sekitar 2 juta wirausaha baru untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya.

Untitled-1 copy

Kiri ke kanan: Hendrik Tio, Andrew Darwis, dan Rudi Salim

Salah satu sektor ekonomi yang sangat berkaitan dengan dilema peran pemuda adalah e-commerce yang berbasiskan teknologi komunikasi dan informasi (ICT). Pemuda Indonesia adalah pemuda yang relatif adaptif dan antusias terhadap perkembangan ICT sehingga tidaklah heran jika target utama sektor ini adalah pemuda dan dewasa muda. Beberapa kisah sukses pemuda Indonesia yang bergelut di bidang e-commerce sebagai wirausaha yaitu Andrew Darwis (Kaskus), Rudi Salim (bisnis kredit untuk transaksi online), dan Hendrik Tio (Bhinneka.com),[4] namun masih banyak muda-mudi Indonesia yang potensial untuk juga menjadi wirausaha daripada sekedar konsumen. Kini, pendidikan kewirausahaan mulailah diperkenalkan sejak SMA meskipun belum dimasukkan kedalam kurikulum formal, masih hanya bersifat ekstrakurikular. Menurut saya, seharusnya, pendidikan kewirausahaan dikenalkan pada anak muda sejak SMP atau bahkan SD sehingga akan jauh lebih matang dan cakap mengaplikasikannya saat beranjak dewasa.

Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) yang akan diresmikan sejak 31 Desember 2015. Inilah saatnya bagi anak muda Indonesia untuk segera sadar dan bangkit sebagai kekuatan ekonomi utama dan bukan menjadi pasar utama terbesar di Asia Tenggara. Kewirausahaan adalah kunci utama untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi dan anak muda berperan begitu potensial didalamnya. Pemerintah, kelompok bisnis, institusi pendidikan, lembaga masyarakat sipil, dan lingkungan sosial serta keluarga haruslah bersatu-padu untuk mendukung terciptanya lingkungan yang akomodatif bagi anak muda untuk berwirausaha (Lihat Figur 2). Salah satu gagasan yang terlintas oleh saya adalah seharusnya kewirausahaan anak muda Indonesia didasarkan pada konteks lokalitas dan bukan hanya mengikuti global mainstream sehingga mereka akan jauh lebih mudah mengembangkan kewirausahaannya mulai dari struktur permodalan, alur kegiatan bisnis, pemasaran dan distribusi, hingga pelaporan untung-rugi. Misalnya mengembangkan bisnis online dengan terjemahan bahasa lokal dimana akan lebih mudah dikenal oleh konsumen lokal, atau bisa juga dengan menambahkan nilai dan corak budaya lokal dalam implementasi bisnis online itu. Hal seperti inilah yang akan membantu pemerataan pembangunan ekonomi di negeri ini sehingga tidak hanya berpusat di kota-kota besar.

10-15-2014 12-01-08 PM

Pada kesimpulannya, fenomena e-commerce di Indonesia patut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh anak muda sehingga sanggup melahirkan inovasi dan kreativitas yang mendatangkan kemakmuran ekonomi lebih baik bagi masyarakat. Anak muda tidak seharusnya menjadi victim of consumptive market. Anak muda seharusnya dapat menjadi player of excellence utama dalam perekonomian dengan berkecimpung dalam kewirausahaan yang bersifat ekonomi maupun sosial. Akhirnya, inspirasi akan menghadirkan inisiatif, sedangkan insiatif memerlukan strategi yang komprehensif dan lingkungan yang akomodatif. Hal-hal tersebut akan mendatangkan aktivitas ekonomi yang positif dan kolaboratif.

Endnotes:

[1] Jumlah pengguna internet di Indonesia telah melampaui 80 juta orang atau sekitar 30% total populasi Indonesia. Lalu, jumlah pengguna smartphone di Indonesia pun diperkirakan akan mencapai 71 juta jiwa pada 2015 mendatang. Sumber: “Pasar E-Commerce Indonesia 2016 Ditaksir US$ 4 Miliar”, dipublikasikan pada Oktober 2014. http://duniaindustri.com/pasar-e-commerce-indonesia-2016-ditaksir-us-4-miliar/ diakses pada 5 Oktober 2014.

[2] Sumber: “Data Statistik Mengenai Pertumbuhan Pangsa Pasar E-Commerce di Indonesia Saat Ini”, dipublikasikan pada 16 September 2014, http://startupbisnis.com/data-statistik-mengenai-pertumbuhan-pangsa-pasar-e-commerce-di-indonesia-saat-ini/ diakses pada 5 Oktober 2014.

[3] Sumber: “E-Commerce Indonesia Belum Didukung Layanan Logistik”, dipublikasikan pada Juni 2014. http://masbobsmiling.com/perkembangan-ecommerce-berbanding-terbalik-dengan-layanan-logistik/ diakses pada 5 Oktober 2014.

[4] Sumber: “5 Anak Muda Indonesia yang Kaya dari internet”, dipublikasikan pada 27 Januari 2014. http://jdacommunity.com/5-anak-muda-indonesia-yang-kaya-dari-internet/ diakses pada 6 Oktober 2014.

Stevie Leonard Harison
Stevie Leonard Harison

Aktivis muda, pendiri Inspirator Muda Nusantara,
organisasi komunitas pemuda di Bandung. Ingin dan akan selalu
berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negeri Indonesia.
Berminat pada isu pemberdayaan pemuda, demokrasi dan HAM,
serta perdamaian dan multikulturalisme.

1 Comment

  1. saya tertarik dengan artikel anda mengenai ekonomi, saya juga mempunya tulisan serupa mengenai ekononi, bisa dilihat
    <a href="http://publication.gunadarma.ac.id/handle/123456789/2659">disini</a&gt;, happy sharing 🙂

Leave a Reply