Beranda MITI Opini Kemiri Sunan, Reklamasi atau BBN ?
Kemiri Sunan: Reklamasi Atau Penghasil BBN ?
Apr 20, 2015
Pertalite, Wajah Baru BBM Indonesia
Apr 22, 2015

60 Pemuda! : Refleksi 60 tahun KAA

Negara-negara Asia-Afrika yang datang dalam Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam.

Negara-negara Asia-Afrika yang datang dalam Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam.

Negara-negara Asia-Afrika yang datang dalam Konferensi Asia-Afrika 60 tahun silam.

Tahun 2015 menjadi tahun penting bagi politik luar negeri bebas-aktif yakni menyangkut validitas dan relevansinya selama 70 tahun berdirinya Republik Indonesia.[1] Sementara itu, di tataran internasional, tahun ini juga menjadi tonggak penting transisi arah pembangunan global dari MDGs (Millennium Development Goals) menuju SDGs (Sustainable Development Goals).[2] Karena itulah, secara khusus pada bulan April ini, peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) diharapkan dapat dipergunakan oleh Indonesia sebaik-baiknya untuk kepentingan nasional dan internasional terutama dalam bidang pembangunan.[3]

Petuah Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” sesungguhnya menjadi semangat tersendiri bagi Indonesia bahwa sang Proklamator sungguh-sungguh mengakui bahwa pemuda memiliki energi dan potensi yang sangat besar sehingga mampu membawa dunia menuju perubahan. Begitupun dengan Dasasila Bandung yang dihasilkan pada KAA 1955 lalu, yang poin ke-9nya berbunyi: memajukan kepentingan bersama dan kerjasama. Dapat dikatakan bahwa takkan ada perubahan tanpa kerjasama dan kerjasama tanpa peranan pemuda tiada artinya.

Kebijakan pembangunan berbasiskan kepemudaan (youth-centered development policy) masih belum dikembangkan secara optimal di 2 kawasan ini dengan total populasi sekitar 5 miliar jiwa dengan mencakup lebih dari 60% anak-anak dan pemuda dunia saat ini.[4] Begitu banyak tantangan besar bagi Asia dan Afrika saat ini seperti radikalisme, terorisme, perdagangan manusia dan narkotika, konflik sumber daya, krisis pangan, ancaman penyakit, pengangguran dan kemiskinan, korupsi, rendahnya tingkat pendidikan, perubahan iklim, menurunnya kualitas lingkungan hidup, hingga pelanggaran hak asasi manusia, dan lainnya. Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, negara-negara Asia dan Afrika harus memperbarui jiwa dan semangat Dasasila Bandung sehingga solidaritas dan kerjasama bukanlah sekadar retorika melainkan diimplementasikan pada tataran yang lebih nyata dan praktis.

Skema kemitraan dalam KAA mengenai Pemuda dan Pembangunan Beranda MITI

Skema kemitraan dalam KAA mengenai Pemuda dan Pembangunan

Negara-negara di Asia dan Afrika harus menerapkan strategi-strategi jitu yang mengutamakan partisipasi dan kontribusi pemuda dalam setiap kebijakan pembangunannya, meski telah tertinggal oleh Amerika dan Eropa yang telah lebih jauh melangkah. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun telah mengakui penuh peran kepemudaan dalam dinamika global kontemporer, dimana pada 2010 telah dicetuskan World Program of Action for Youth (WPAY) dan pada 2014 kembali ditegaskan dalam the Global Partnership for Youth (GPY 2015) yang mengajak seluruh negara anggota untuk memasukkan aspek kepemudaan dalam segala kebijakan di seluruh lini sektor dan cakupan dalam mengejar capaian-capaian SDGs mulai tahun ini.[5]

Seperti angka 60 yang jika diubah dalam karakter huruf akan berbunyi seperti “GO” sehingga sudah sepatutnya Asia dan Afrika segera ‘pergi dan laksanakan’ mengubah haluan pembangunannya dan memberdayakan pemuda didalamnya secara aktif dan positif. Begitupun dengan Bandung, sebagai ‘ibukota Asia-Afrika’ kini telah berbeda dengan 60 tahun lalu dimana partisipasi pemuda telah sangat tinggi dalam pembangunan kota dan dititikberatkan pada kreativitas yang menjadi teladan bagi seluruh kota di Indonesia bahkan untuk tingkat Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Sekitar 60% penduduk kota Bandung termasuk kategori pemuda dan dengan kepemimpinan seorang walikota, Ridwan Kamil, yang juga masih tergolong muda sehingga urban development policy yang tercipta secara signifikan mengacu pada korelasi pemuda dan pembangunan. Hal ini terlihat dari perayaan 60 tahun KAA di Bandung yang didukung oleh ribuan sukarelawan muda dan partisipasi masyarakat lokal yang antusias dan kontributif.

“As we look ahead into the next century, leaders will be those who empower others”, itulah yang diyakini Bill Gates, salah satu orang terkaya di planet ini. Pesan ini merefleksikan bahwa kemajuan pembangunan di abad ke-21 akan bergantung penuh pada kepemimpinan yang berasaskan pemberdayaan terutama untuk generasi muda, dan inilah yang harus benar-benar diprioritaskan dalam kemitraan Asia dan Afrika.

GO PEMUDA!

[1] Bacaan lebih lanjut, lihat http://www.antaranews.com/berita/472906/ini-tiga-prioritas-politik-luar-negeri-indonesia , diakses pada 2 April 2015.

[2] Lebih lanjut, lihat dokumen UN-ECOSOC Youth Forum 2015, http://www.un.org/en/ecosoc/youth2015/pdf/background_note.pdf , diakses pada 2 April 2015.

[3] Lihat http://www.aacc2015.id/?lang=id&p=detberita&id=163 diakses pada 3 April 2015.

[4] Mengacu pada statistik populasi dunia tahun 2013, http://www.worldpopulationstatistics.com/continent-population/ , diakses pada 3 April 2015.

[5] Pada tahun ini, PBB kembali menegaskan peran sentral pemuda dalam pembangunan global, http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=49985 , diakses pada 3 April 2015.

Stevie Leonard Harison
Stevie Leonard Harison

Aktivis muda, pendiri Inspirator Muda Nusantara,
organisasi komunitas pemuda di Bandung. Ingin dan akan selalu
berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negeri Indonesia.
Berminat pada isu pemberdayaan pemuda, demokrasi dan HAM,
serta perdamaian dan multikulturalisme.

Leave a Reply