Berbisnis Energi dengan Cangkang Kacang Mede
Oct 7, 2015
BerandaMITI artikel Energi Habis Manis, Sampah Disayang
Habis Manis, Sampah Disayang
Nov 4, 2015

4 Fakta Pembakar Hutan

sumber: The Guardian

sumber: The Guardian

sumber: The Guardian

Warga Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Barat tengah dihadang kabut asap yang sangat parah. Kebakaran hutan telah menyebabkan lumpuhnya aktifitas sehari-hari warga. Kegiatan belajar-mengajar di banyak tempat diliburkan. Tak terhitung korban yang menderita infeksi saluran pernapasan. Bukan hanya manusia, kebakaran hutan juga menyebabkan punahnya keanekaragaman hayati dan membunuh berbagai fauna. Kabut asap juga menjadi masalah bagi negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Pemerintah Indonesia telah mengerahkan lebih dari tiga ribu pasukan TNI dan menerjunkan hampir delapan ribu anggota polri di lapangan. Pesawat-pesawat milik pemerintah digunakan untuk menangani asap. Belasan helikopter difungsikan untuk membawa bom air. Ada wacana penetapan status Darurat Bencana Nasional, mengingat sedemikian hebat dan dahsyatnya kerugian yang didapat oleh masyarakat, yang berimbas tak hanya di wilayah yang mengalami kebakaran dan dan terlanda kabut asap, tetapi telah me-nasional.

Namun, kebakaran hutan yang terjadi bukanlah ‘bencana alam’, melainkan hasil perilaku manusia yang serakah karena sengaja membakar hutan.

Harry Purnomo, Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR) mengungkapkan beberapa penemuan dalam penelitiannya yang bertajuk ‘Ekonomi Politik Kebakaran Hutan dan Lahan’. Penelitian yang menggunakan metode pemetaan, survey dan pendekatan kebijakan tersebut diselenggarakan di 11 lokasi di 4 Kabupaten di Provinsi Riau, yakni Rokan Hulu, Rokan Hilir, Dumai, dan Bengkalis.

  1. Para pembakar hutan selalu berhubungan dengan orang-orang kuat dan berkuasa.

Orang-orang kuat dan berkuasa, baik pengurus partai maupun pemerintah di tingkat kabupaten, nasional, hingga tokoh di tingkat ASEAN, berada di balik keberanian para pelaku pembakar hutan, baik masyarakat, maupun kelas-kelas menengah dan perusahaan.

  1. Pembakar hutan tidak sendiri, mereka bergerak secara terorganisir.

Para pembakar hutan menunjuk pihak-pihak untuk menjalankan tugas tertentu, seperti: mengklaim lahan, mengorganisir petani yang melakukan penebasan, penebangan, atau pembakaran, hingga tim pemasaran, yang tidak jarang juga melibatkan aparat desa.

Dalam pembakaran hutan, tiap peran mendapatkan bagiannya masing-masing. Rata-rata pengurus kelompok tani mendapatkan porsi pemasukan terbesar dalam proyek pembakaran hutan, yakni antara 51-57%. Sedangkan kelompok petani yang menebas, menebang, dan membakar mendapat porsi pemasukan antara 2-14%.

  1. Pembakar hutan mendapatkan keuntungan berlipat dari lahan yang telah dibakarnya.

Kebakaran hutan bukanlah hal yang baru terjadi di Indonesia. Dari tahun ke tahun, kebakaran hutan dan lahan gambut selalu menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan. Semua ini dikarenakan kenaikan nilai ekonomi dari lahan yang sudah dalam kondisi ‘siap tanam’ memberikan keuntungan luar biasa bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Harga per hektar dari lahan yang sudah dibersihkan dengan tebas dan tebang hanya sejumlah 8,6 juta rupiah. Sedangkan lahan yang sudah dibakar dan siap dipergunakan bisa meningkat menjadi 11,2 juta rupiah. Hanya butuh sekitar tiga tahun hingga lahan yang sudah ditanami menjadi siap panen, untuk kemudian perkebunan tersebut bisa dijual dengan harga 40 juta rupiah per hektarnya.

  1. Pembakar hutan mengejar keuntungan yang cepat dan instan demi kepentingan pribadinya.

Pada sistem jual beli lahan yang berlaku di masyarakat, umumnya pembeli lah yang harus mempersiapkan lahannya sesuai dengan maksud dibelinya lahan tersebut. Karena itu, urusan membersihkan lahan agar siap dimanfaatkan bukan merupakan tanggung jawab penjual. Maka, biaya pembersihan yang semakin murah akan semakin mengurangi beban pembeli lahan.

Butuh sekitar 200 dolar per hektar untuk membersihkan lahan secara mekanis. Sedangkan biaya membersihkan lahan dengan cara membakarnya hanya membutuhkan biaya sebesar 10-20 dolar per hektar dan memakan waktu yang jauh lebih cepat. Waktu pembersihan yang lebih cepat juga membuat pemilik lahan mendapat keuntungan dengan lebih cepat.

Pemecahan masalah kabut asap bukan sekadar dengan menghentikan api. Lebih jauh dari itu, pencegahan dan tindakan tegas kepada oknum-oknum pembakar hutan harus pula dilaksanakan.

 

Referensi:

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150923_indonesia_pembakaranlahan

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/10/01/nvjcco361-tragedi-asap-sumatra-bukan-bencana-nasional

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply