Usir Hama dengan Mr. Scrow
Usir Hama dengan Mr. Scrow
Apr 28, 2015
U-Damkar : Solusi Kebakaran di Kota Besar
May 1, 2015

2015? Saatnya Energi Masa Kini

Beranda MITI Artikel 2015 ?? Saatnya Energi Masa Kini

Beranda MITI Artikel 2015 ?? Saatnya Energi Masa Kini

Krisis energi nasional tengah mengancam hajat hidup bangsa, dimana pertumbuhan ekonomi yang didukung aktivitas produktif masyarakat semakin meningkatkan permintaan terhadap kebutuhan energi baik berupa bahan bakar maupun listrik. Disisi lain produksi energi nasional mengalamai stagnasi sehingga pemenuhan energi secara nasional masih terhambat. Akibatnya Indonesia kalah bersaing dengan negara-negara kawasan dalam untuk mengundang investor di sektor industri. Selain dampak terhadap industri, krisis energi ini berdampak terhadap masyarakat secara langsung dimana rasio elektrifikasi (rasio penggunaan listrik) Indonesia baru mencapai 67% pada 2011, artinya ada 140 juta penduduk yang belum menikmati listrik  pada tahun 2010. Hal ini sangat mencemaskan dikarenakan akses terhadap listrik sangat mempengaruhi produktivitas masyarakat, apalagi di tengah persaingan globalisasi yang semakin ketat dan menuntut produktivitas masyarakat. Selain permintaan listrik, permintaan bahan bakar untuk industri dan transportasi   terus meningkat pesat seiring dengan angka pertumbuhan penduduk. Kebutuhan BBM telah mencapai 396,226 juta barel pertahun, padahal produksi minyak mentah nasional hanya sebesar 334,888 ribu kilobarrel per tahun. Hal ini menjadikan Indonesia mengalami ketergantungan terhadap BBM impor.

Data dari Direktorat Jenderal EBTKE, dalam buku berjudul “ STATISTIK EBTKE 2013 “ Kapasitas terpasang (Installed Capacity )  listrik dari Panas Bumi sebesar 1341 MWe atau sekitar 4 persen dari potensi terduga dengan rincian 9 WKP yaitu Sibayak ( 12 MWe ), Salak ( 377 MWe ), Wayang Windu ( 227 MWe ) , Kamojang ( 200 MWe ), Darajat ( 270 MWe ) , Dieng ( 60 MWe ), Lahendong ( 80 MWe ), Ulubelu ( 110 MWe ), dan Ulumbu ( 80 MWe ). Perbandingan konversi 100 MW dari kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( PLTP ) setara dengan 680.000 liter minyak per hari dan setara  864 ton per hari batu bara dengan  besar 5.500 kalori.

Beranda MITI Artikel 2015 ?? Saatnya Energi Masa Kini

Berawal dari kondisi ini maka dibutuhkan keputusan tegas dari pemerintah untuk mengambil langkah-langkah se-efesien mungkin diantaranya yang paling krusial adalah bidang birokrasi seperti hukum dan proses bisnis.  Peluang bisnis yang bisa dihasilkan dari sumber energi geothermal mulai dari eksplorasi sampai dikonversi menjadi listrik dapat berupa infrastruktur , pengembangan bisnis distribusi kelistrikan, dan pelayanan listrik ke masyarakat. Berbeda dengan migas, area panas bumi 95% berada di daerah pegunungan dengan jangkauan yang jauh dari area perkotaan yang mana merupakan target konsumen. Hal ini tentunya akan memberikan tantangan yang berbeda bagi pemerintah dan investor dalam kaitannya dengan penyaluran listrik ke area penduduk yang memusat di perkotaan. Penentuan harga berdasarkan tiga parameter yaitu base resource price dimana harga ditetapkan dengan negosiasi ketika kontrak disusun dan tergantung dari nilai inflasi yang terjadi pada waktu itu, ceiling price ditentukan paling maksimal 80 % dari harga BBM Internasional dengan faktor konversi kalori saat penyusunan kontrak sebesar 0.295 dolar AS/kWh, sedangkan base floor price merupakan harga minimum yang disepakati ( negosisasi ) dan tergantung perubahan inflasi.

Dengan berlandaskan UU No. 27/2003 “ Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung didalam air panas, Uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan “. Dimana UU ini masih belum sempurna untuk mengembangkan industri geothermal. Faktor terbesar yang menghambat proses eksplorasi dan eksploitasi adalah perizinan dimana tidak boleh dilakukan di area hutan konservasi dengan cadangan 15 % ( potensi 3.428 MWe ) sebanyak 29 lokasi, hutan lindung 18 % ( potensi 8.641 MWe ) sebanyak 52 lokasi, dan hutan produksi ( 16 % ) . Sehingga total cadangan semua 49 % terdapat di area tersebut , sedangkan 51 % di area hutan lain.

Pemerintah merespon setelah melakukan banyak analisis dan pertimbangan dalam mempercepat program percepatan pembangunan listrik 10.000 MW tahap II  terkhusus dari sektor geothermal . Pemerintah disetujui oleh DPR mengeluarkan UU No. 21 Tahun 2014 sebagai pengganti  UU No.27 Tahun  2003 tentang Panas Bumi. Keistimewaan UU baru adalah masalah perizinan yang semakin cepat yaitu dari 55 izin menjadi 33, Penghilangan kata “ mining” pada geothermal sehingga boleh dilakukan eksplorasi dan eksploitasi di hutan lindung, konservasi dan produksi, penegasan peraturan tentang pemanfaatan langsung geothermal , dan penentuan harga yang lebih baik lagi. Dengan adanya UU baru ini diharapkan semakin memudahkan investor untuk mengembangkan geothermal di Indonesia dengan menciptakan iklim investasi yang bagus. Strategi Community Development dengan menggunakan pedekatan partisipatif bisa digunakan pemerintah dalam pembangunan masyarakat , baik dalam bidang pertanian, perikanan dan usaha kecil  rumah  tangga yang merupakan bagian local economic development ( LED ).

Referensi Data :

Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konversi. STATISTIK EBTKE 2013. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral: Jakarta.

Yusgiantoro,Purnomo. 2000. Ekonomi Energi Teori dan Praktik. LP3ES : Jakarta

Leave a Reply